2013 Indonesian Romance Reading Challenge

Image

Sejujurnya saya bukan penggemar bacaan romance. Memang saya suka tapi bukan tipe bacaan yang kerap kali saya beli ketika menyambangi toko buku. So far, saya suka romance karena kebanyakan ceritanya happy ending dan manis. Yay! Saya suka cerita cinta happy ending.

Saya mengikuti event reading challenge ini tidak semata-mata ingin menertibkan buku-buku romance di rak yang semakin menumpuk. Reading challenge ini pastinya juga akan mendispilkan saya dalam membaca segala macam genere buku. Terima kasih kepada Mbak Yuska yang berkenan menghadirkan event ini di tengah-tengah genre buku yang semakin beragam. Alhamdulillah ya belum telat… Karena mepet, saya akan mencoba level Fling saja. Mudah-mudahan bisa mencapai target.

Kapan?
Mulai 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013.

Siapa saja yang boleh ikutan?
Semua orang boleh ikutan, yang penting usia sudah memenuhi syarat untuk membaca novel dengan unsur roman.

Buku apa yang harus dibaca?
Tentu buku romance karya penulis Indonesia. Boleh dari penerbit mana pun, baik terbitan major publisher atau self-published.

Boleh nggak baca buku romance terjemahan?
Tidak. Buku yang dianjurkan untuk dibaca adalah buku berbahasa Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia :)

Aku udah pernah baca buku romance “A”. Boleh nggak aku baca ulang?
Nggak masalah. Yang penting genrenya romance dan ditulis oleh penulis Indonesia.

Aku suka buku sastra klasik. Boleh nggak aku baca buku karya Pramoedya Ananta Toer, Putu Wijaya, dll?
Sah-sah aja. Yang penting mengandung unsur roman.

Boleh nggak sih aku baca buku antologi?
Tentu boleh, yang penting ada unsur romance-nya.

Kalau aku nggak suka buku yang kubaca dan ga selesai baca tapi tulis review, apa kehitung?
Nggak boleh. Semua buku harus selesai dibaca dan tulis review, baru kehitung untuk challenge ini.

Terus, habis baca bukunya ngapain lagi dong?
Tulis review buku yang kamu baca. Boleh di blog atau goodreads, boleh juga reply di sini. Untuk yang nulis review di blog/goodreads, jangan lupa kasih link ya, biar dishare ke peserta yang lain.

Kalau aku udah lulus level First Date dan waktunya masih cukup, boleh nggak ikutan baca buku lagi supaya level naik?
Sure! Semakin banyak buku yang dibaca, tentu semakin baik :)

Ada hadiah nggak untuk peserta yang ikut tantangan ini?
Ada. Thanks to para sponsor:

Copy of Logo Stiletto

wallp2

logo

Semoga ada penerbit lain yang mau ikut mensponsori hadiah ya supaya semakin meriah.

Level:

Fling: membaca 1-3 buku
First Date: membaca 4-7 buku
Going Steady: membaca 8-11 buku
Engaged: membaca 12-14 buku
Married: membaca 15+ buku

Kamu tertarik ikutan event reading challenge ini? Masih ada kesempatan kok. Sila mengunjungi blog host-nya di sini.

Advertisements

Mendekap Rasa

Image

Judul                                     : Mendekap Rasa

Penulis                                 : Aditia Yudis & Ifnur Hikmah

Pnenerbit                            : Bukune

Jumlah Halaman               : 394 Halaman

Cetakan                               : I, Januari 2013

ISBN                                      : 978-602-220-091-8

“Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku.” (Dewa)

Apakah memang CINTA adalah modal utama dalam menjalin suatu hubungan (terlebih dalam rumah tangga)? Apakah bisa sebuah hubungan bertahan jika salah satu pihak atau keduanya tak pernah saling cinta? Pernahkah terbesit dalam pikiran, apakah pasangan kita benar-benar mencintai, atau sebaliknya apakah kita sudah benar-benar mencintai pasangan kita. Jangan-jangan dia (atau kita sendiri) hanya pelarian karena memang sebetulnya tak ada rasa cinta di hatinya. Kemudian menjadikan hubungan ini hanya sebagai status belaka tersebab gagal move on dari pasangan sebelumnya. Nah!

Dalam urusan asmara, Carissa dan Mike memiliki kesamaan di masa lalu. Keduanya ditinggalkan pasangan masing-masing jelang hari bahagia. Pasca ditinggalkan tunangannya, Carissa menganggap laki-laki yang masuk ke dalam hidupnya sekedar momen selintas saja tanpa harus dikenang. I am number one, adalah jargon hidup Carrisa, termasuk dalam hal percintaan, dialah yang selalu mencampakkan setiap laki-laki yang dipacarinya.

Rama, mantan tunangan Carissa membatalkan rencana pernikahan mereka setelah mengetahui tak ada cinta di hati Carissa.

“Bagiku, terlalu mengada-ada dengan ungkapan cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Bagiku harus ada cinta atau setidaknya rasa sayang sebelum kita berani melangkah lebih jauh. Pernikahan memerlukan fondasi yang kuat, dan itu yang tidak kita miliki.” Itu kata-kata Rama, dulu. (Halaman 206)

Sementara Mike putus dengan tunangannya, Amelia, tersebab Mike ketahuan menghamili perempuan lain. Carissa dan Mike dikenalkan oleh mantan pacar Carissa, Narendra. Singkatnya, Carissa dan Mike memutuskan untuk berkencan.

Pernahkah mengalami ketika kita sangat mencintai seseorang, orang itu malah mencintai orang lain dan bukan kita? Bagaimana rasanya? Pilu. Ya. Okelah, anggap saja ini karma. Dulu Carissa pernah tidak mencintai Rama, tapi kini keadaannya berbalik. Mike, lelaki yang sangat dicintai Carrisa lebih memilih terjebak nostalgia dengan mantan tunangannya. Sementara Mike sama sekali tidak mencintai Carrisa.

Membaca novel ini saya suka sekaligus sebal. Suka karena dua penulis ini menciptakan konflik antartokoh yang begitu kuat hingga akhir cerita. Saya rasa konflik antartokohnya pas dan tidak berlebihan. Pun saya suka tatkala penulis memisahkan POV Carissa dan Mike di bagian tersendiri. Ini memudahkan pembaca agar tidak bingung dalam setiap pergantian POV. Sebalnya saya sama novel ini subjektif. Alamak, saya paling tidak suka jika sudah berkomitmen, pasangan saya masih memikirkan wanita lain terlebih dia adalah mantan pacar atau wanita yang dulunya pernah disukai oleh pasangan saya. Saya geram dengan Mike yang gagal move, gagal bangkit dari masa lalu. Sementara Carrisa dengan segala cara berusaha menjadi seseorang yang layak dicintai Mike. Saya juga geram dengan tokoh Carrisa yang kekanakan dan tidak sopan. Padahal kalau dilihat dari umurnya, Carrisa bisa dikatakan sepuh yaitu sudah kepala tiga. Simaklah apa yang dia ucapkan pada saat perjamuan makan di rumah kerabat Mike :

“Hari gini masih berkutat di dapur? Mana sempat. Lagian ya, ngapain coba sekolah tinggi-tinggi kalau cuma bakalan berakhir di dapur.”

Dalam novel ini terdapat beberapa typo. Tidak banyak jumlahnya namun cukup disayangkan. Dan yang saya ingin keluhkan adalah penggunaan font yang tidak bisa dibaca. Font seperti ini saya rasa sangat mengganggu. Ini contohnya :

Image

Image

Well, kembali ke pertanyaan awal, “Apakah memang CINTA adalah modal utama dalam menjalin suatu hubungan (terlebih dalam rumah tangga)?” Untuk jawabannya, saya mengutip pernyataan Ustaz Moh. Fauzil Adhim dalam cuitannya di Twitter. “Apakah cinta itu bekal penting menikah? Tidak. Betapa banyak yang menikah dengan berbekal niat lurus dan tujuan besar, tanpa saling cinta.”

Beberapa kutipan :

“Perempuan yang bisa masak pada zaman kayak sekarang jauh lebih hebat. Langka.” (Halaman 47)

“Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan. Berhari-hari bersamanya, menghabiskan waktu demi waktu dalam kemanjaan dan pertengkaran kecil, serasa menjadi oksigen baru dalam hidupku. Mungkin, baru sebentar kami saling mengenal, tetapi tidak kumengerti mengapa aku rela memberikan hati dan hidupku untuknya.” (Halaman 59)

“Saat kamu berada di samping orang yang tepat, pikiran dan hatimu sejalan.” (Halaman 67)

“Tapi, katanya cinta itu bisa tumbuh. Lo hanya perlu percaya dan mengikhlaskan cinta itu untuk hadir.” (Halaman 349)

“Aku ingin berakhir bersama pria yang kucintai.” (Halaman 390)

A Street Cat Named Bob

ImageJika bertemu kucing lucu apa sih reaksi kita? Otomatis tangan ini pengin belai-belai, elus-elus,  pengin gendong, atau bisa jadi pengin dibawa pulang. Kucing adalah satu di antara hewan menggemaskan yang banyak dipelihara kebanyakan orang selain anjing. Kucing tak sekedar hewan peliharaan. Lebih dari itu, kucing bisa dijadikan sahabat sekaligus obat pelipur lara kala sepi. Tingkahnya yang lucu nan menggemaskan menjadi hiburan tersendiri.

Adalah James Bowen, pengamen jalanan di sudut kota London, memulai babak baru hidupnya ketika menemukan seekor kucing jantan berbulu jingga yang sedang duduk manis di koridor rumah susunnya pada Kamis petang di bulan Maret. James mengira kucing itu milik seseorang, namun setelah James bertanya kesana kemari tidak ada yang mengaku kehilangan ataupun memiliki kucing itu. Menyadari kucing itu bukan miliknya, lantas James membiarkan kucing itu tetap duduk manis di koridor rumahnya. Namun siapa sangka, kucing malang tak bertuan itu ternyata setia menunggui James pulang mengamen pada hari-hari berikutnya. James yang iba lalu memutuskan untuk memeliharanya.

James menamainya Bob. Uhh, nama yang jantan sekali! Bob sebenarnya sakit, tubuhnya penuh luka, kepalanya pitak dan jalannya agak pincang karena luka menganga pada kakinya. James Bowen yang baik hati lalu membawanya ke RSPCA (Rescue Dogs, Cats, Pets, Horses atau Penyelamat Anjing, Kucing, Hewan Peliharaan, dan Kuda) untuk mendapatkan pengobatan atas luka-luka Bob.

James merawat dan memperlakukan Bob  layaknya anak sendiri. Karena kasih sayang yang tulus  itu membuat Bob tak mau ditinggalkan James. Setiap hari Bob ikut James mengamen di Covert Garden. Uniknya, Bob selalu bertengger di pundak James dengan manisnya. Pemandangan unik ini tentu menarik perhatian pejalan kaki di sepanjang Covert Garden. Sebentar-sebentar James menghentikan langkahnya hanya karena seseorang atau dua orang ingin mengelus-elus Bob sambil berujar “Tampan sekali kucingnya!” atau “Kalian berdua cocok sekali!”

Bagi James, pertemuan tak sengaja dengan Bob merupakan berkah. Bob lucu, tampan, dan menggemaskan, semua orang menyayanginya. James merasakan betul perbedaan penghasilannya mengamen sebelum dan sesudah kedatangan Bob. Ya, Bob mendatangkan penny lebih banyak dibandingkan dengan James mengamen sendirian.

James sebetulnya pecandu narkoba. Hidupnya kacau, sempat menggelandang sebelum akhirnya menemukan tempat yang layak di rumah susun sederhana. Hubungan dengan keluarganya juga terbilang tidak harmonis. Boleh dibilang James anak buangan yang tak memiliki masa depan. Saat menemukan Bob, James sedang menjalani terapi penyembuhan ketergantungan obat-obatan terlarang. Kehadiran Bob mengubah pandangan hidupnya. Ia bertekad untuk sembuh dan menata kembali hidupnya yang berantakan. Etos kerjanya meningkat karena rasa tanggung jawabnya pada Bob yang harus ia hidupi. Namun James kembali diuji. Beberapa tahun menjadi musisi jalanan, James beralih pekerjaan menjadi penjual surat kabar Big Issue karena pekerjaan sebagai musisi jalanan tak lagi menjanjikan kehidupan yang layak baginya dan Bob. James dilarang mengamen lagi.

Sebetulnya kisah kucing seperti ini bukanlah hal yang baru. Sebelumnya ada Dewey, Kucing Bernama Dickens, dan kumpulan cerita The Cat Stories. Hanya saja saya baru kali ini membaca cerita kucing yang diangkat dari kisah nyata.  Kisahnya menarik, inspiratif, mengharukan, dan begitu menghangatkan hati.  Di beberapa bagian, saya sempat menitikkan air mata karena tersentuh dengan kisahnya.

Tentang Penulis :

James Bowen adalah seorang musisi jalanan di London, Inggris. Dia menemukan Bob si kucing berbulu jingga pada musim panas 2007 dan sejak itu pasangan ini tak terpisahkan. Kisah terbaru petualangan James dan Bob bisa diikuti melalui akun Twitter pribadi Bob :@streetcatbob

 

Judul buku : A Street Cat Named Bob

Pengarang : James Bowen

Penerjemah : Istiana Prajoko

Tebal Halaman : 320 Halaman

Penerbit : Serambi Ilmu Semesta

ISBN : 978-979-024-393-4

Harga : Rp39.000,00

Rating Pribadi : 5 of 5

Jalan Kepiting – Umar Fauzi Ballah

Image

Judul : Jalan Kepiting | Jenis : Himpunan Puisi |Penulis : Umar Fauzi Ballah | Editor : Mardi Luhung 

Penerbit : Amper Media | Cetakan : Pertama, Januari 2012 | ISBN : 978-602-9415-32-2 | Rating Pribadi : 4 of 5

Sabtu sore yang sumpek karena kena macet di seputaran kampus UNSRI Bukit sehabis mengikuti seminar parenting bersama seorang rekan. Saya begitu lelah, selain macet saya juga harus berdesak-desakan di dalam Trans Musi yang akan mengantarkan saya pulang ke rumah. Sampai di rumah, saya masuk lewat pintu dapur. Saat itu mata saya langsung terpana pada selembar amplop cokelat yang diletakkan di atas meja belajar adik saya. Sejurus kemudian saya ambil amplop itu untuk mencari tahu nama pengirimnya. Di situ tertulis Umar Fauzi Ballah, bukan nama yang asing, beliau adalah penyair dan esais muda asal Sampang, Madura. Amplop cokelat itu berisi sebuah buku himpunan syair beliau yang berjudul Jalan Kepiting.

Saya kenal secara pribadi dengan penyair ini, meski belum sekali pun bertemu dan bertatap muka langsung. Mendapatkan buku ini secara cuma-cuma dari penyairnya langsung adalah suatu kehormatan, plus dengan bubuhan tanda tangan dan sebaris pesan manis dari sang penyair. Lalu bagaimana buku ini bisa sampai ke tangan saya? Berawal dari diskusi kecil kami di BBM beberapa waktu lalu. Saat itu saya sedang membicarakan proyek Malam Puisi di Palembang bersama rekan penulis pada akhir bulan September ini. Saya kebetulan mendapat jatah membacakan dua buah puisi. Otak saya memberikan respon cepat, tercetuslah keinginan untuk membawakan puisi beliau di acara Malam Puisi tersebut. Mas Fauzi dengan ‘kerelaannya’ memberikan buku ini dengan catatan bahwa saya (berjanji) kudu, wajib, harus membacakan puisi beliau pada Malam Puisi nanti sebagai balas jasa saya atas kiriman buku puisi ini.

Saya sempat stalking di internet untuk mencari tahu rekam jejak Mas Fauzi dalam dunia kesusasteraan. Hasilnya menakjubkan, penyair asal Sampang ini bisa dibilang bukan orang sembarangan. Esainya sudah banyak dimuat di media massa lokal maupun nasional. Sudah menghasilkan beberapa buku kumpulan puisi (seingat saya ada dua, bisa jadi lebih) dan juga seringkali diundang dalam event-event sastra. Terakhir mengikuti Temu Sastrawan Indonesia IV, di Ternate (informasi ini saya dapatkan dari Mas Indrian Koto setelah saya menunjukkan foto Mas Fauzi bersama Om Afrizal Malna). Saya yakin Mas Fauzi bukanlah orang baru dalam dunia sastra. Keseniorannya memang belum bisa disejajarkan dengan Joko Pinurbo atau pun Mardi Luhung (yaela, beda angkatan juga kali, Ran :P). Tapi bicara soal profesionalisme, beliau tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sebagai penikmat sastra, saya selalu menjadikan puisi sebagai bacaan favorit. Saya terpesona pada rangkaian kata yang membentuknya menjadi kalimat puitik nan indah. Sedap dibaca. Tak jarang karena bahasa yang melangit itu membuat dahi saya berkerut, menerka-nerka apa gerangan makna tersirat dalam puisi yang sedang saya baca. Maklum saja, mayoritas puisi kita abstrak. Saya akui, puisi buatan penyair jauh lebih sukar dipahami (maknanya) ketimbang puisi yang dikarang oleh penulis pada umumnya yang cenderung mudah ditafsirkan maknanya.

Terlepas dari sosok Mas Fauzi sebagai teman saya dan bagaimana saya berkenalan dengan beliau, setelah mendapatkan buku ini dan membacanya, saya langsung terpikat dengan puisi-puisinya. Lihat saja pada halaman tiga, puisi dengan judul Talak dengan Hujan (yang kemudian saya curigai sebagai pengalaman pribadi penulisnya :P); tentang cinta, perempuan, dan kepasrahan.

-yang tidak mengharapkan aku datang sendirian

pun yang memintaku tidak hadir rombongan

………………………………………………………………………

penglihatanmu adalah mata kaum pendoa:

menunduk atau memilih mendongak.

sedang aku, pelamun yang tidak memahami cara kau bertutur

tentang cita-cita palsu yang dibasahi hujan.

……………………………………………………………………

aku mengira kau menerima semua tanpa persoalan

seperti kerap kukunjungi rumah ibadahmu dalam kesunyian

tetapi ini adalah cinta yang datang tiba-tiba

seperti hujan dan banjir yang tidak bisa kau terima

……………………………………………………………………

(Talak dengan Hujan, halaman 3-4)   

 Simak pula puisi dengan judul Petak (halaman 44) yang masih menceritakan tentang (pencarian) cinta :

aku jadi! maka akulah yang akan mencari teman-temanku yang

berlari ke sana, tak mau ke sini. tapi aku menanti saja. seperti

penantian kekasih yang tercuri hatinya. ya, sebenarnya aku ingin

mencari hati saja, yang ke sana dan ke mari pernah menziarahi

tubuhku

…………………………………………………………………………………………………..

Seperti kebanyakan penyair, Mas Fauzi menulis juga tentang badan meski tidak menjadi pusat perhatian. Lihat saja dalam puisinya yang berjudul Rumah Kabut (halaman 5) atau dalam puisi Menyusuri Kabut (halaman 8). Di sisi lain, ada kalanya saya tergelitik, terlebih ketika membaca “dari mana datangnya basah. dari desah yang terus di asah. dari mana datangnya ludah. dari lidah yang berkelu kesah.” Puisinya yang lain mengisyaratkan kematian, misalnya pada Karam (halaman 29). 

Bagi saya, puisi yang baik adalah yang benar-benar meninggalkan torehan yang mendalam serta menjejakkan kata-kata yang tak pernah mati dalam ingatan. Ya, puisi yang baik itu melekat pada hati dan pikiran pembacanya. Meski tidak semua puisi Mas Fauzi saya ingat satu-satu, namun puisi Talak dengan Hujan menjadi perhatian saya. Terlepas dari apapun cerita yang melatarinya, saya rasa ini adalah puisi Mas Fauzi yang paling menohok. Seperti sebuah dejavu yang menari-nari dalam ingatan saya.

Jumlah halaman yang relatif sedikit menjadi kelemahan buku puisi ini. Bayangkan, hanya terdiri dari 46 halaman sehingga bisa dibaca dalam tempo waktu yang sangat singkat. Saya sendiri hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit untuk melahap buku setipis ini. Harapan saya bisa lebih intim dengan buku ini andaikata Mas Fauzi bisa membuatnya sedikit lebih tebal.

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya – Dewi Kharisma Michellia

 

Image

 

Judul: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Penulis: Dewi Kharisma Michellia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 240 Halaman

ISBN: 978-979-22-9640-2

Rating Pribadi: 4/5

Status: Pinjam @poetrazaman

Kau tahu mengapa ketika lahir kita tidak langsung menjadi diri kita yang sekarang? Kau harus melalui sekian proses untuk menjadi seseorang  dengan karakter tertentu dan bahkan terus berkembang tanpa henti. Makanan yang kau konsumsi dan kegiatan fisik yang kaulakukan hingga hari ini menentukan  bagaimana penampilan fisikmu. Orang-orang yang kau temui memengaruhi gaya berpakaianmu, caramu berinterkasi, hingga pola pikirmu. (halaman 200)

Kasih tak sampai. Itulah kesan pertama saya setelah menamatkan novel ini. Tokoh sentral, yang kemudian saya menyebutnya Nyonya Alien adalah seorang wanita lajang usia empat puluhan, yang masih mencintai teman masa kecilnya, yang ia sebut sebagai Tuan Alien. Lewat surat panjang ini, Nyonya Alien menjabarkan isi hatinya bahwa cinta yang dulu mereka ikrarkan tak pernah lekang dalam kenangannya. Sampai suatu hari, berita tentang pernikahan Tuan Alien sampai ke telinganya.

Kumpulan surat ini terindikasi sebagai curhat yang ditujukan kepada Tuan Alien pasca mereka terpisah. Buntelan surat tersebut berisi ragam hal. Mulai dari cerita keluarga Nyonya Alien; tentang Ayah dan Ibunya yang berbeda agama. Diceritakan pula bagaimana Nyonya Alien menjalani kehidupan pribadinya; tentang profesinya sebagai jurnalis, kuliah yang tidak selesai, tentang buku-buku bacaannya, dan perkenalannya dengan seorang penjual buku baik hati yang ternyata gay. Tentang kisah cintanya yang kandas dengan seorang seniman. Dan tentang penyakit yang menggerogoti fisiknya.

Surat panjang ini semacam surat perpisahan kepada Tuan Alien. Belum lagi kondisi kesehatan Nyonya Alien yang semakin hari semakin memburuk yang seolah menjadi pertanda bahwa umurnya tak panjang lagi. Ia ingin mengucapkan selamat tinggal saja pada cinta yang tak pernah dimilikinya. “Tahun lalu aku mendapat kutipan yang sangat bagus dari film yang kutonton. Wong Kar Wai seolah-olah menciptakab My Blueberry Nights khusus untukku. Sedikit banyak ia merefleksikan apa yang aku rasakan saat ini. how do you say goodbye to someoneyou can’t imagine living without? I didn’t say goodbye, I didn’t say anything, I just walked away. Aku tak pernah menyangka aku akan menghiupi kutipan film itu untuk kehidupan nayataku”, (halaman 187).        

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya adalah novel unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012. Namun sayangnya, tidak ada dialog antartokoh di dalamnya, hanya berisi narasi si tokoh utama. Saya adalah tipe pembaca yang tidak begitu menyukai novel jenis ini. Betapa membosankan membaca novel tanpa sebaris dialog pun. Ketiadaan dialog menurut saya menjadi kelemahan suatu novel karena dengan adanya dialog menjadikan cerita lebih hidup. Namun anehnya, saya kok berhasil menuntaskan novel setebal 240 halaman ini, ya? Oke, abaikan ketidaksukaan saya terhadap absennya dialog di novel ini. Karena ini surat maka saya memakluminya. Saya suka diksinya; oke. Saya suka tokoh Nyonya Alien, suka pake banget. Bukan tokoh dengan karakter malaikat yang mendominasi cerita picisan. Nyonya Alien mempunyai karakter yang kuat, ya tentu saja, karena dari awal sampai akhir penulis menggunakan POV 1. Sosok Nyonya Alien ini terkesan urakan dan semau gue. Nyonya Alien digambarkan sebagai sosok yang kelam, jalan hidupnya muram, dan kurang beruntung dalam urusan asmara. Penulis laksana pendongeng ulung. Saya menikmati halaman demi halaman yang seolah-olah dibisikkan cerita oleh si penulis. Semua tokoh dalam novel ini tak bernama. Kita akan menemui sederet nama seperti Tuan Alien, Gadis Berliontin Naga, dan Tuan Pemilik Toko Buku.

Dewi Kharisma Michellia, di usianya yang masih cukup muda (lebih muda beberapa tahun dari saya :berasatua:) termasuk penulis yang cukup berani menyempilkan vulgarisme (mudah-mudahan istilahnya bener nih :D) dalam tulisannya. Saya kaget mendapati tulisan yang sedemikian dewasa itu. Entahlah. Apa memang itu tulisan Michlle sendiri ataukah kerjaan editor. Yaa tapi itu sah-sah saja.

Review : 5 Pesan Damai

Image

Ini buku Islami ke-empat karya Vbi Djenggoten setelah tiga buku sebelumnya berhasil mendulang sukses. Buku yang ke-empat ini sedikit berbeda dengan tiga buku sebelumnya. Tema yang diusung kali ini tentang jihad, yang menurut saya (dan teman-teman Goodreads) agak berat.

Bagi orang awam, jihad identik dengan aksi terorisme, peperangan dan pengeboman. Benarkah?  Jihad tidak melulu soal itu. Mari kita kroscek definisi jihad. Secara etimologi, jihad berarti mencurahkan usaha (badz al-juhd), kemampuan dan tenaga. Kalau dari segi bahasa berarti menanggung kesulitan. Sedangkan menurut Hasan Al Bana menyebutkan bahwa jihad adalah suatu kewajiban muslim yang berkelanjutan hingga akhir kiamat. Tingkat kerendahannya berupa penolakan hati atas keburukan dan tertinggi berupa perang di jalan Allah. Ibnu Mandzur, dalam Lisan Al Arab, menuliskan, bahwa jihad adalah memerangi musuh, mencurahkan segala kemampuan dan tenaga berupa kata-kata, perbuatan atau segala sesuatu yang sesuai kemampuan. Yusuf Qardhawi menuliskan dalam fiqih Jihad, setiap perang dengan niat yang benar adalah jihad. Namun tidak setiap jihad adalah perang. Ibnu Taimiya, dalam Mathalib Uli Al Nuha menjabarkan lebih luas lagi tentang jihad, salah satunya jihad dengan hati.  Yang terakhir, Ibnu Al Qayyim membagi jihad dalam tiga belas tingkatan. Jadi, yang harus selalu diingat tentang jihad adalah bahwa tujuan utama jihad adalah untuk menegakkan kalimat Allah, bukanlah untuk beperang atau  membuat medan peperangan sedangkan perang itu sendiri adalah salah satu cara yang digunakan untuk berjihad (halaman 32).

Karena pengetahuan agama yang minim maka jihad menjadi sesuatu yang dimaknai sempit. Padahal jihad itu sendiri, seperti yang dijelaskan di atas, sangat luas cakupannya. Salah kaprah soal jihad sudah mengakar pada masyarakat. Mindset masyarakat sudah terlanjur terbentuk, bila bertemu orang berjenggot panjang dan mengenakan kurta (gamis) yang langsung terbayang adalah aksi terorisme. Saya sendiri pernah mendengar seorang tetangga berujar seperti ini, “Itu suaminya si Fulan jenggotnya panjang bener, pake sarung dan bajunya kayak gitu lagi. Ngeliatnya jadi ngeri, kayak teroris yang di tivi-tivi itu.” Saat itu saya kaget bukan main dan saya cuma bisa beristighfar atas prasangka buruk ibu itu. Itulah fakta yang terjadi di masyarakat. Sebagaimana yang kita tahu, terorisme bukanlah jihad.

Lantas seperti apa bentuk jihad yang benar itu? Apakah kita perlu ke Palestina untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang ditindas? Bisa jadi. Dalam buku ini dijelaskan bahwa menurut Ibnu Al Qoyyim, salah satu jihad adalah dengan jiwa. Bila dirasa mampu, tidak ada salahnya berjihad ke wilayah yang sedang konflik. Tapi tentu keberanian itu tidak dimiliki kebanyakan orang, kan? Lalu sebagai umat muslim yang ingin berjihad, seperti apa bentuk jihadnya? Kita bisa memulainya dengan hal-hal yang ringan saja, misalnya jihad dengan hati yaitu dengan mendoakan mereka yang didzolimi oleh orang-orang kafir. Dalam hal ini kita bisa mendoakan saudara-saudara kita yang ada di Palestina, Rohinya, Suriah, dan lain-lain. Praktis, hanya berdoa, ya berdoa saja. Contoh lainnya berjihad dengan harta. Sedekah, bahasa sehari-harinya. Sedekah tidak perlu menunggu kaya, jika ada rezeki kita bisa berjihad dengan sedikit harta yang kita miliki. Mengingatkan saudara kita yang hendak berbuat kemunkaran juga bisa disebut jihad. Jadi, jihad itu sederhana, yang penting ada niat yang tulus untuk memerangi kebathilan. Jihad yang benar dimulai dari diri sendiri, yaitu dengan mengontrol hawa nafsu yang berwujud godaan setan.

Dan yang ingin saya keluhkan di sini adalah masih ada kekhilafan editor dalam mengecek kata yang tidak baku. Sayangnya saya lupa mencatat *dikepruk* Kecuali ada kata-kata yang memang dibuat sengaja menyesuaikan bahasa sehari-hari, seperti misalnya kata “kayak”, “gak”, “kalo”, “ijo”, dan lain-lain.

Buku ini hadir dengan gayanya sendiri. Singkat, padat, dan berisi menjadi ciri khas yang melekat. Yang paling saya suka dari buku ini adalah ilustrasinya. Isi menjadi bagian favorit saya yang kedua. Saya merekomenasikan para remaja untuk membaca buku ini agar mereka melek tentang jihad. Semoga karya Vbi Djenggoten kali ini bisa mencerahkan dan memberikan wawasan keislaman kepada masyarakat. Ditunggu karya-karya berikutnya.

Jihad adalah ketika seorang muslim mencurahkan usahanya untuk melawan keburukan dan jebatilan. Dimulai dengan jihad terhadap keburukan yang ada di dalam diri dirinya dalam bentuk godaan setan, dilanjutkan dengan melawan keburukan di sekitar masyarakat, dan berakhir dengan melawan keburukan di mana pun, sesuai dengan kemampuan. (Yusuf Qardhawi – Fiqih Jihad)

 

Judul                                     : 5 Pesan Damai

Penulis                                  : vbi_djenggoten

Penerbit                                : Zahira

Jumlah Halaman                   : 136 Halaman

Cetakan ke-                           : I, Mei 2013

ISBN                                       : 978-602-17815-3-1

Harga                                     : Rp37.000,00

Review : Hawa

 18167648

“Kurasa Tuhan menciptakan kamu agar manusia-manusia yang melihatmu sadar bahwa selain senja ada keindahan lain di semesta ini, yaitu kamu…” bisik Landu (halaman 213)

Hawa telah menyusun rapi jadwal pre-weddingnya bersama Abhirama di Bali. Menjelang hari H, Abhirama membatalkannya karena alasan pekerjaan. Merasa tidak dianggap penting, akhirnya Hawa memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahannya dengan Abhirama secara sepihak. Undangan sudah dicetak dan persiapan pernikahan hampir rampung.

Karena merasa kecewa, marah dan malu, Hawa beserta ayah dan adiknya pindah ke pedalaman Kalimantan Barat, ke rumah omanya di desa Sejiram, tanpa sepengetahuan Abhirama. Di desa ini, Hawa kembali terkenang masa kecilnya, membangkitkan kenangan akan almarhumah ibunya.  Di tempat ini Hawa mengurung diri, menjalani hidup seperti zombie, meratapi kegagalan pernikahannya.

Namun siapa sangka, di desa ini juga tempatnya menemukan cinta. Landu, seorang polisi yang bertugas di Kapuas Hulu, mampu membuatnya kembali merasakan cinta dan berhasil mengembalikan hari-harinya yang sendu menjadi penuh gairah. Di saat yang sama, Abhirama berhasil menemukan tempat persembunyian Hawa di desa Sejiram dan memohon pada Hawa untuk kembali padanya. Hati siapa yang dipilih Hawa?

Amore ketiga yang saya baca. Sejujurnya saya sempat kecewa membaca novel jenis ini karena sewaktu pertama kali membaca Amore, saya mendapati jalan cerita yang menurut saya buruk sekali. Lantas saya berikrar untuk tidak akan membaca Amore di kemudian hari. Namun seorang teman di Goodreads menyarankan untuk membaca Amore karya Mbak Rina Suryakusumah. Saya memutuskan untuk membaca Amore lagi dan secara kebetulan Amore yang dimaksud sedang didiskon 40%. Langsung saya bawa ke kasir dengan pertimbangan kalau pun Amore ini tidak sesuai ekspektasi saya setidaknya harganya yang murah bisa menjadi obat kekecewaan saya. Bahahahak 😀

Tepat bulan lalu, novel ini rilis. Saya akan membacanya dengan segenap harapan akan sebagus Amore karya Mbak Rina yang sebelumnya saya baca. Oh ya, Amore : Hawa karya Riani Kasih ini merupakan pemenang kedua Lomba Penulisan Novel Amore 2012, juga merupakan pertimbangan kuat saya kembali membaca Amore untuk ketiga kalinya. Dengan asumsi bahwa, novel dengan label ‘pemenang lomba’ akan lebih memicu rasa penasaran pembaca terhadap cerita yang dikemas, apakah memang sesuai dengan gelar juara yang disematkan.

Sudah tiga novel Amore yang dibaca, apakah saya menyukai jenis novel ini? Sejujurnya iya, tapi bukan genre yang terfavorit. Saya hanya membaca genre ini sesekali saja kalau lagi kepengin baca atau ada teman yang merekomendasikan.

Secara keseluruhan saya menyukai ide ceritanya. Ditambah lagi dengan latar tempat pedesaan pedalaman Kalimantan Barat yang sangat jarang dieksplor oleh kebanyakan penulis. Yang saya tahu, Amore merupakan adaptasi Harlequin versi Indonesia. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Goodreads, karakteristik yang melekat pada Harlequin adalah penggunaan latar tempat yang eksotis. Dan itu terdapat pada novel ini. Sunset dan sunrise di Sejiram, Danau Sentarum, Sungai Kapuas, semuanya bisa saya visualisasikan di kepala.

Saya suka kisah romansa Hawa dan Landu. Perjumpaan yang tidak disengaja namun cukup membuat hati sebal tetapi berakhir manis dan berhasil bikin saya cemburu. Kesan pertama yang menyebalkan itu sepertinya menjadi top rank para penulis mempertemukan jodoh para tokohnya. Lihat saja Tita dan Jodik dalam My Partner. Tita yang sebal sama Jodik karena mengganggap rancangan kolam buatan Jodik tidak berkelas. Adalagi Fedrian dan Syiana dalam Restart. Syiana yang saat itu sedang duduk di meja bar, diusik oleh kegaduhan Ferian dan temannya yang berujung beradu mulut. Atau kisah Keke dan Wim dalam Simply Love, lewat tragedi ketidaksengajaan Wim menumpahkan es campur ke rambut Keke.

Tapi di sini saya agak kurang suka sama nasib tokoh utamanya. Mengapa nasibnya dibuat tragis sekali meski akhirnya Hawa dan Landu hidup bahagia. Lalu di bagian 2 novel ini, saya merasa ceritanya dibuat terlalu terburu-baru, lho kok tiba-tiba jadinya seperti ini? Rupanya di bagian ini yang teman saya sempat bilang  “belum matang”. Lalu soal typo, saya menemukan beberapa kata yang salah cetak. Dua, tiga, atau lebih saya kurang begitu ingat.

Rating : 3 of 5

“Ikuti kata hati sajalah. Hati selalu bisa memandang lebih jelas ketimbang mata.”

Judul                                     : Hawa

Penulis                                  : Riani Kasih

Penerbit                                : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman                  : 256 Halaman

Cetakan ke-                          : I, Juli 2013

ISBN                                      : 978-979-22-9759-1

Harga                                    : Rp43.000,00

Review : Restart by Nina Ardianti

ImageJudul                                     : Restart

Penulis                                 : Nina Ardianti (@NinaArdianti)

Jumlah Halaman                   : 446 Halaman

Penerbit                                : Gagas Media

ISBN                                      : 978-979-780-631-6

Harga                                    : Rp55.0000

Rating Pribadi                       : 4/5

 

“Seandainya saja mematikan perasaan bisa semudah mematikan sambungan telepon, hidupku pasti akan jauh lebih mudah.” (Halaman 156)

 

Melihat tag line di bagian sampulnya yang begitu provokatif, “Semua orang pernah patah hati. All you have to do is move on”, membuat saya menuntaskan novel ini meskipun saat itu sedang sakit. Lembar demi lembar saya ‘lahap’ hanya dalam waktu dua hari saja. Saya begitu excited dengan kehadiran novel ini karena sebelumnya sempat membaca reviewnya di blog Bang Ijul yang membuat saya merasa terbakar ingin membaca dan mencomotnya dari toko buku.

Saya penganut monogami garis keras. Saya tidak akan menolerir pasangan jika ia kedapatan selingkuh. Kesetiaan bagi saya adalah komitmen dan konsekuensi atas pilihan yang harus dipertanggungjawabkan. Well, kita bisa saja memaafkan pengkhianatan tersebut tetapi sangat tidak mudah untuk melupakannya. Forgiven not forgotten.

Syiana terluka hatinya mengetahui pacarnya, Yudha selingkuh di belakangnya. Tidak ada yang salah dengan percintaan mereka, everything is well. Hari itu, Syiana memergoki Yudha menginap di hotel bersama mantan pacarnya. Tidak lama waktu yang diperlukan Syiana untuk move on. Fedrian Arsjad, anggota band Dejavu yang sedang naik daun, diam-diam menaruh hati padanya.

Syiana dan Fedrian pertama kali bertemu di sebuah bar di Singapura. Syiana terus berjumpa dengan Fedrian secara tidak sengaja pada hari-hari berikutnya. Sebagai seorang anak band papan atas, Fedrian memiliki cukup banyak fans. Tapi lucunya, Syiana justru tidak mengenal siapa sebenarnya Fedrian Arsjad yang tengah gencar mendekatinya. Kisah Syiana dan Fedrian mengingatkan saya pada lagu Project Pop, Pacarku Superstar. Bedanya, kalau di lagu Project Pop punya pacar superstar itu cuma mimpi tetapi Syiana bisa mendapatkan pacar superstarnya tanpa harus memburu dan melancarkan pedekate sedemikian rempong. Kisah cinta antara atris dan orang biasa sangat mungkin terjadi, apalagi untuk kota metropolis seperti Jakarta dimana pusat dunia entertainment berada di situ.       

Bukan bermaksud memasukkan curhat terselubung. Tapi kok, saya merasa seperti disentil. Dulu waktu saya masih (suka) pacaran, saya selalu kepo dengan mantan-mantan pacar saya. Siapa saja mantannya? Kuliah dimana? Tinggal dimana? Bagaimana rupanya, cantik atau nggak? Pacarannya berapa lama? Dan sederet pertanyan kepo lainnya berseliweran di kepala saya. Hal ini juga melanda Syiana -yang ujung-ujungnya menjadi tolok ukur perbandingan antara dirinya dengan mantan-mantan pacar Fedrian yang semuanya selebritis. Akhirnya apa, hal ini menjadi polemik hubungan percintaan mereka berdua.

Ini pertama kalinya saya membaca karya mbak Nina Ardianti. Saya suka ramuan ceritanya. Saya suka Fedrian Arsjad yang menurut saya mirip… Emmmm, Fedi Nuril. Betul begitu Mbak Nina? 😀 Karya Mbak Nina yang lain mungkin bisa masuk dalam daftar bacaan selanjutnya. Untuk yang tidak suka unsur ‘sex in litterature’ (seperti saya), ini kabar bahagia, novel ini bisa menjadi teman secangkir teh yang setia. Recommended buat yang suka bacaan romance.

Selamat membaca kawan!

Review Buku Fade In Fade Out

Judul : Fade In Fade OutImage

Pengarang : WiwienWintarto

Jumlah Halaman : 328 Halaman

Tahun Rilis : Maret, 2013

ISBN : 978-979-22-9374-6

Penerbit : GramediaPustakaUtama

Rating Pribadi : 3/5

 

 

Mimpi selalu berwujud nyata.Tanpa kemungkinan itu, hidup takkan pernah menghasut kita untuk berani bermimpi.

(Jhon Updike; 1932-2009)

 

Katanya Metropop dulu lebih kece dari pada Metropop kini, apa iya? Saya tidak tahu pasti perkembangannya, karena saya bukan termasuk penggemar Metropop baik di masakini maupun masa lalu. Novel Metropop yang saya miliki pun bisadihitungdenganjarijumlahnya.

Sempat mendi pembahasan, kok dalam novel Metropop kebanyakan yang jadi tokoh utamanya cewekya? Saya kembali mengingat novel Metropop yang pernah saya baca dan ternyata memang semua tokoh utamanya cewek. Lantas dengan rasa penasaran saya yang menggebu-gebu, saya pergi ke Gramediau ntuk menemukan novel Metropop dengan tokoh cowok. Hasilnya, saya membawa pulang Fade In Fade Out karena tidak cuma tokohnya yang cowok tapi pengarangnya kebetulan cowok juga.

Sejujurnya pengalaman saya membaca Metropop tidak begitu menyenangkan. Beberapa Metropop yang saya baca paling mentok dikasih bintang tiga, itu karena saya berbaik hati, saya memperhitungkan sisi-sisi yang saya suka walaupun dengan kadar yang sangat sedikit.

Fade in Fade Out mengangkat tema dunia per-sinetron-an di Indonesia. Pengarangnya sendiri, Mas Wiwien Wintarto, kebetulan seorang yang kompeten di bidang persinetronan. Beliau pernah terlibat dalam penggarapan sinetron dan juga penulis skenario untuk dua judul sinetron. Selain itu, Mas Wiwien berprofesi sebagai critic-writer-turns-screenwriter dan pernah berkarier sebagai jurnalis pengisi kolom resensi buku, film, musik, dan sinetron. Maka saya tidak heran betapa tajamnya Mas Wiwien mengkritisi sinetron-sinetron tanah air yang dianggapnya sebagai ajang pembodohan massal, yang kemudian dituliskannya dalam novel Metropop Fade In Fade Out ini.

Seto, editor sebuah majalah remaja di Semarang kerap kali mengkritik sinetron dalam artikel yang ditulisnya. Seto beranggapan sinetron itu tidak mendidik, tidak berkualitas, dan tidak logis. Sebagai editor, kehidupan Seto sendiri bisa dikatakan pas-pasan. Hingga suatu ketika kabar baik menyapanya. Sebuah PH besar melirik naskahnya untuk dijadikan sinetron. Naskah yang Seto tulis tentu saja telah dibangun dengan idelaisme yang selamain ia pegang teguh. Namun idelaisme tersebut harus runtuh tatkala pihak PH mengobrak-abrik naskahnya, menjadikan skenarionya sebagai bentuk pembodohan massal demi mengejar rating. Apakah Seto bisa mempertahankan idealismenya? Ataukah proyek tersebut akan tetap berjalan meski ia harus mempertaruhkan idealismenya?

Bukan Metropop namanya kalau tidak ada romansa dan brand bertebaran. Seto terlibat cinta segitiga antara Farah dan Dana. Farah adalah gadis yang dikenalkan oleh sepupunya sedangkan Dana, gadis yang ingin dijodohkan oleh orang tuanya. Seto tak perlu pusing-pusing menentukan siapa yang harus dia pilih, karena kedua gadis tersebut memiliki perbedaan watak, yang satu baik banget yang satunya lagi sombong.

Namun, ada beberapa hal mengganggu yang saya dapati dalam novel ini :

1. * Terlalu banyak pengulangan adegan (percakapan). Iya saya tahu kalo artis di sinetron itu suka membatin sendiri, tapi mbokya jangan diulang-ulang lagi gitu, Mas! Iya saya tahu kalo yang bikin panjang cerita itu ada scene di rumah sakit yang tokoh utamanya kecelakaan atau amnesia, tapi mbok ya jangan diulang-ulang lagi gitu, Mas! Iya saya tahu kalo sentuhan mesra itu akan berakhir di master bed berselimut putih dan pada pagi harinya si wanita akan berkata “Last night was amazing”, tapi mbok ya jangan diulang-ulang lagi gitu, Mas! Iya saya tahu… Sudah… Sudah… Iya saya sudah tahu… 😀

2.* Terlalu banyak tokoh yang tidak penting terlibat dalam percakapan. Hal ini sangat mengganggu karena mereka hanya muncul sekali. Si Atun, Paijo, Inem, Sukirman, Ngatini, aduhh banyak banget namanya disebutin satu-satu.

3.       * Para tokoh berusaha dipaksakan mirip denganpublic figure kenamaan, misalnya;

 

“Maksudnya? ”Bona, redaktur cewek yang berwajah mirip Cameron Diaz itu, menoleh penuh minat.

 Di jembatan, ia menyalip beberapa turis bule yang  tengah berwisata keliling desa naik sepeda gunung…………….. Ia sempat mengira cewek itu Lindsay Lohan yang tengah rehat dari kesibukan syuting dan menyamar jadi orang kebanyakan………..

Sepupunya yang bertubuh agak gemuk, berambut ikal kribo mirip ayahnya…………. dan bertampang mirip Alvin Adam itu sudah duduk-duduk…….

 “Namanya Farah. Seksi, putih, dan wajahnya kayak Scarlett Johansson.

Saya bersyukur, Metropop ini bersih dari kontak fisik. Saya akan menobatkan pengarangnya sebagai Penulis Tersantun karena tidak menyertakan unsur sex dalam karyanya. Oke, saya harus mengatakan bahwa  novel Metropop ini (lagi-lagi) diberi rating tiga bintang. Saya tidak menemukan sesuatu yang menakjubkkan dalam novel ini. Sepertinya memang tidak bisa memberikan rating yang lebih untuk karya Mas Wiwien yang satu ini.

Do you know?

“Sinetron yang rating-nya tinggi ditaruh di jam tayang malem, sesudah jam tujuh sampai jam sepuluh. Itu yang namanya jam tayang utama, atau prime time kalau dalam istilah pertelevisian.” (Halaman 26)

Review Goddess Girls : Si Cerdas Athena

Image

Suka mitologi? Coba deh baca novel ini! Novel bergenre Teenlit ini mengisahkan tentang dewa-dewi mitologi Yunani di masa remaja mereka. Novel mitologi yang dikemas secara modern oleh penulisnya, membuat ceritanya lebih menarik terutama bagi remaja yang belum mengenal mitologi Yunani.

Athena gak pernah mengira dirinya seorang Dewi, apalagi membayangkan punya ayah seorang Zeus. Athena dipanggil ke Akademi Gunung Olimpus atas suruhan ayah kandungnya, Zeus, yang sekaligus kepala sekolah di akademi tersebut.

Namun ternyata, sekolah di Olimpus sungguh berbeda dengan di bumi. Di sekolah barunya, Athena bertemu dengan orang-orang aneh yang gak karuan wujudnya, pelajaran yang gak ada di bumi, dan makanan-manakan asing. Bukan cuma itu, dewa-dewi yang menjadi teman sekolahnya juga jauh lebih pintar. Sebagai putri kepala sekolah, Athena punya beban moral untuk selalu bisa membanggakan ayahnya. Athena berteman baik dengan para dewa-dewi. Tapi gak dengan Medusa- dewi yang satu ini memang dikenal jahat dalam mitologi Yunani.

Sejujurnya pengetahuan saya soal mitologi (khususnya) Yunani sangatlah minim. Hanya tahu sebatas nama-nama besar seperti Athena, Zeus, dan Aphrodite. Kehadiran novel ini membantu saya lebih mengenal dewa-dewi mitologi Yunani meski dalam versi yang lebih modern. Keunggulan novel ini terletak pada tema yang diusung. Kebanyakan novel Teenlit yang saya baca adalah cerita-cerita cinta ABG labil. Tapi pengecualian untuk novel Teenlit ini. Cerita cinta tetap ada namun sama sekali gak mendominasi.

Goddess Girls versi bahasa Inggris sudah beredar 11 seri. Saya suka banget dengan ceritanya yang unik. Ngarep banget deh ada terjemahannya untuk seri-seri selanjutnya. 😀

Judul : Goddess Girls : Si Cerdas Athena (Goddess Girls #1)

Judul Asli : Goddess Girls : Athena the Brain

Pengarang : Joan Holub & Suzanne Williams

Penerjemah : Jia Effendie

Tebal Halaman : 170 Halaman

ISBN : 978-9-790-245-051