[REVIEW NOVEL] The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared

IMG-20140715-00631

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared adalah karya fenomenal besutan penulis Swedia, Jonas Jonasson. Novel ini pertama kali rilis di Swedia pada tahun 2013 dan sudah difilmkan. Label persuasif yang tertera pada sampul depan Telah terbit di 40 negara mendorong saya untuk mencomot novel ini dari rak toko buku.

Judul : The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Pengarang : Jonas Jonasson
Penerjemah : Marcalais Fransisca
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : 508
ISBN :978-602-291-018-3

Allan Karlsson, pria tua berusia seratus tahun. Maniak vodka. Pada hari Senin, 2 Mei 2005 tepat di hari ulang tahunnya, melompat dari jendela kamarnya untuk menghindari perayaan pesta ulang tahunnya yang keseratus, kurang dari satu jam sebelum pestanya dimulai. Perjalanan itu tak terencana. Namun kaki tuanya mampu menuntunnya ke Terminal Bus Malmköping. Meski sudah berada di terimal, tetap saja destinasi minggatnya masih belum jelas. Lalu dilihatnya jadwal keberangkatan bus. Matanya tertuju pada jadwal bus nomor 202 tujuan Strängnäs yang akan berangkat tiga menit lagi.

Di Terminal Bus Malmköping, Allan bertemu seorang pemuda berambut pirang panjang berminyak, membawa sebuah koper besar, dan berjaket denim yang bertuliskan Never Again di bagian punggungnya. Karena kebelet, pemuda tersebut menitipkan koper besar miliknya pada Allan. Bukannya menunggu pemuda itu menyelesaikan ‘hajatnya’, Allan justru membawa koper itu bersama rencana kaburnya ke Strängnäs. Pikir Allan, koper itu berisi pakaian yang nantinya bisa ia pakai di hari-hari pelariannya.

Siapa sangka, koper besar yang telah berpindah tangan itu membawa petaka untuk Allan. Karena koper itu, Allan dikerjar-kejar kelompok gangster Never Again. Kelompok kriminal tersebut terus menguntit keberadaan Allan. Sedangkan Allan sendiri tak mengetahui dirinya berada dalam bahaya. Tersebab koper ini juga, Allan menjadi buronan polisi. Awalnya pihak Rumah Lansia hanya membuat laporan atas hilangnya Allan dari tempat itu. Namun, kasus berkembang menjadi tindakan kriminal yang melibatkan Allan. Mengapa kelompok gangster dan polisi begitu bernafsu mencari Allan? Apa gerangan isi dalam koper tersebut?

Allan, tokoh sentral dalam novel ini memang unik. Allan memiliki selera humor yang baik. Hanya Allan yang mampu mengalihkan interogasi menjadi lawakan. Untuk plot, novel ini menggunakan alur maju-mundur. Alur maju menceritakan petualangan Allan pasca melarikan diri dari Rumah Lansia sedangkan alur mundur mengisahkan kehidupan Allan semasa kecil hingga berusia lanjut. Allan muda tumbuh di era abad kedua puluh. Semasa hidupnya, Allan memiliki relasi yang baik dengan para petinggi dunia. Pekerjaan Allan adalah sebagai peledak dinamit, para petinggi dunia memanfaatkan jasa Allan untuk perang.

Novel ini diterjemahkan dengan baik. Alur ceritanya mengalir dan saya bisa masuk ke dalam cerita meski ada beberapa bagian yang membuat dahi saya mengernyit. Namun, saya merasa di bagian alur mundur diceritakan pada porsi terlalu panjang, harusnya beberapa bagian dipotong supaya bisa lebih fokus di bagian pasca Allan melarikan diri dari Rumah Lansia. Saya percaya, ceritanya akan lebih menegangkan jika penulis memberikan porsi yang lebih di bagian petualangan Allan membawa kabur koper kelompok gangster.

Bagian akhir novel ini memberikan kejutan bagi pembaca Indonesia. Apakah itu? Yuk, cari tahu kisahnya dalam novel yang telah diterbitkan di 40 negara ini!

banner-the-100-yoman-resize

After Rain : Suatu Saat Aku Berhenti Menangisimu

After Rain

“Kalau ada yang bilang bye, lebih baik kamu jawab see you. Kecuali kamu benar-benar nggak mau ketemu dia lagi.” (Halaman 178)

Kisah cinta terlarang Seren dan Bara. Seren dan Bara saling mencintai meskipun Bara sudah memiliki istri dan mempunyai seorang anak. Mengapa Seren bertahan?

Tiga tahun lalu, Bara sudah membuat pilihan untuk menikahi Anggi, sekaligus memilih untuk tetap mencintaiku. Aku pun memilih tetap menunggu Bara. Memilih untuk tetap mencintainya.

Merupakan hal tabu bila seorang sudah berumah tangga memiliki hubungan lain di luar pernikahannya. Pernikahan adalah momen sakral yang tak seharusnya dinodai dengan adanya cinta lain selain cinta kepada istri/suami. Pernikahan itu janji setia sampai mati, bersumpah di hadapan Tuhan dan para saksi. Fenomena ini memang tak hanya dikisahkan dramatis dalam sinetron atau novel. Dalam kehidupan nyata, kasus serupa seringkali mewarnai advertorial media cetak maupun elektronik. Jika ini terjadi lantas salah siapa? Well, ada yang mengganggap ini takdir sebagaimana Tuhan telah mengaturnya semua.

Seren dan Bara sudah sepuluh tahun berpacaran. Bahkan untuk tetap berdekatan, Seren bekerja di tempat yang sama dengan Bara. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Hubungan mereka hancur lantaran perjodohan yang dilakukan oleh orangtua Bara. Bara dijodohkan dengan Anggi, anak relasi bisnis orangtua Bara. Sekuat apapun Bara menolak, tidak bisa mengubah keputusan kedua orangtuanya. Bahkan Bara dan Anggi sudah dijodohkan sejak mereka masih di dalam kandungan. Bara terpaksa menerima perjodohan itu dan kemudian menikahi Anggi atas permintaan orangtuanya.

Hujan

Meskipun Bara telah menikah, namun Seren dan Bara tetap menjalin asmara diam-diam. Bara mencintai Seren namun tak sedikitpun mencintai Anggi. Namun, pada hari jadi mereka yang kesepuluh, hubungan itu benar-benar kandas. Bara meninggalkan Seren dan memilih untuk mempertahankan perkawinannya dengan Anggi.

Jika saya jadi Seren mungkin saya akan menangis histeris. Mungkin juga akan menjadi sedikit gila. Tapi bukankah kita tak bisa memaksakan seseorang untuk tetap tinggal bersama kita sementara dia sendiri memiliki ikatan perkawinan yang sah dengan wanita lain? Tentunya kita tak akan mau jadi kambing hitam atas kehancuran rumah tangga orang yang dulunya pernah mencintai kita juga.

Seren sadar akan takdirnya. Meskipun masih ada cinta untuk Bara, ia sadar tak akan kembali pada Bara. Seren bertekad segera move on dari keterpurukan, melupakan Bara walau sangat sulit baginya. Seren memutuskan resign dari tempat ia dan Bara bekerja dan memulai pekerjaan baru sebagai guru bahasa Inggris di salah satu sekolah swasta. Di sekolah itu Seren bertemu Elang, guru musik berkepribadian dingin yang diam-diam memperhatikan Seren.

Perselingkuhan dan perjodohan tampaknya masih menjadi topik menarik untuk diangkat dalam kisah novel. Pun pada kenyataannya, kita tak bisa menutup mata bahwa kedua permasalahan itu kerap kali terjadi di lingkungan sosial masyarakat. Saya sendiri punya pengalaman, beberapa teman pernah dijodohkan dengan anak teman orangtua mereka. Banyak alasan yang melatarbelakangi perjodohan tersebut. Bisa karena untuk membalas budi, hubungan bisnis, atau keakraban/persahabatan antara kedua orangtua masing-masing. Kalau anak suka sama suka tak masalah. Tapi kalau anak sudah punya pilihan sendiri, saya rasa sebaiknya perjodohan tak usah dipaksakan. Kasus Bara dan Anggi dalam novel ini mengkhendaki perjodohan untuk kelangsungan bisnis orangtua mereka. Tak peduli anak tak saling cinta, selama bisnis lancar dan uang mengalir tak perlu memikirkan perasaan anak.

Novel ini mudah ditebak jalan ceritanya. Dari awal membacanya saya sudah menebak ceritanya akan berakhir bahagia. Bermula dari patah hati, lalu move on dengan rasa cinta yang masih membekas, kemudian bertemu dengan orang baru dan voila! Si tokoh utama berhasil move on dan membuka lembaran baru dengan tokoh lainnya. Saya masih menemukan beberapa typo, tak banyak. Semoga jika cetak ulang, tak ada lagi typo.

Keterangan buku

Judul : After Rain : Suatu Saat Aku Berhenti Menangisimu
Penulis : Anggun Prameswari
Penyunting : Ayuning
Proofreader : Jia Effendie
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 324 Halaman
Cetakan : I, 2013
ISBN (13) : 978-979-780-659-0
ISBN (10) : 979-780-659-6

1984 : Melawan Kediktatoran

1984 George Orwell

Judul : 1984
Judul Asli : Nineteen Eighty-Four
Pengarang : George Orwell
Penerjemah : Landung Simatupang
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 390 Halaman
Cetakan : Pertama Edisi II, Februari 2014
ISBN : 978-602-291-003-9

Salah satu buku yang mendapat predikat 1001 Books You Must Read Before You Die. Novel ini berhasil meraup kesuksesan di zamannya, pun hingga kini. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1949. Meski sudah lawas, novel ini masih diburu oleh para penikmat buku di seluruh dunia. Penerbit pun masih ingin terus mencetak ulang karya George Orwell yang fenomenal ini.

Membaca novel ini jelang pilpres 2014. Novel ini berkisah tentang kediktaroran seorang penguasa pada suatu negara, Oceania namanya. Tema yang sangat pas untuk kondisi Indonesia saat ini yang tengah mempersiapkan pemimpin baru.

Kita tentu akan risih bila apa yang kita lakukan serba diawasi. di negara Oceania, setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan. Semua pengawasan ini dilakukan oleh alat yang dinamakan teleskrin. Kalau istilah zaman sekarang namanya CCTV (Close Circuit Television) atau Televisi Sirkuit Tertutup. Segala gerak-gerik/percakapan direkam dalam alat itu. Semua warga mutlak tunduk pada Big Brother, tidak boleh tidak, wajib hukumnya. Bila tidak, bersiap dengan segala bentuk siksaan. Semua warga juga harus setia pada partai. Tiga slogan partai :

PERANG IALAH DAMAI
KEBEBASAN IALAH PERBUDAKAN
KEBODOHAN IALAH KEKUATAN

Winston, tokoh utama dalam cerita ini, memiliki pemikiran yang tidak satu frekuensi dengan partainya. Kediktatoran pemimpin partai tersebut mengusik privasinya. Winston berusaha memberontak. Perkenalannya dengan Julia, gadis muda di Departemen Fiksi adalah pemicu semangatnya untuk melancarkan pemberontakannya. Winston dan Julia kerap kali bertemu dan merencanakan pertemuan lain di tempat tersembunyi. Winston dan Julia bertemu secara sembunyi-sembunyi agar bisa jauh dari pengawasan teleskrin dan Polisi Pikiran. Setidaknya, bersama Julia, Winston sedikit bisa mengelak dari dominasi kekuasaan Big Brother. Apakah Winston berhasil lepas dari kungkungan Big Brother yang senantiasa mengintainya dan warga?

“Tidak akan ada kesetiaan, kecuali kesetiaan kepada Partai. Tidak akan ada cinta, kecuali cinta kepada Bung Besar. Tidak akan ada ketawa, kecuali ketawa kemenangan atas lawan yang dikalahkan. Tidak akan ada seni, tidak ada kesusastraan, tidak ada sains. Ketika kami serbakuasa, kita tidak akan membutuhkan ilmu pengetahuan lagi.”
(Halaman 330)

“Tidak, Winston, kamu yang menjerumuskan diri sendiri menjadi seperti ini. inilah yang kamu dapat waktu kamu bertekad melawan Partai.”
(Halaman 337)

Membaca novel sulit sekali untuk tidak menepiskan bahwa saya sebetulnya sedang menonton reality show ‘Big Brother’ di sebuah stasiun televisi swasta beberapa tahun silam. Saya membayangkan kira-kira seperti itulah negara Oceania yang selalu diawasi selama 24 jam penuh. Untuk skala negara mungkin kita belum (semoga tidak) mengalaminya. Para kontestan ‘Big Brother’ sudah lebih dulu merasakan apa yang sudah ‘diramalkan’ Orwell pada tahun 1984. Kemudian saya berpikir, apa mungkin acara ‘Big Brother’ yang mendunia itu terinspirasi dari novel 1984 mengingat penggunaan nama bos dan mekanisme acaranya sama seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut?

Sebagaimana yang kita tahu, kediktatoran yang digambarkan dalam novel 1984 pernah terjadi di beberapa belahan negara di dunia, meskipun tidak sama persis dengan kejadian yang ada di novel. Kita tentu masih ingat dengan kediktaroran Adolf Hitler dengan Partai Nazi-nya di Jerman atau Benito Mussolini dengan paham fasisme di Italia. Bagaimana dengan Indonesia? Jangan pernah lupa bahwa kita pernah mengalami situasi ini selama lebih dari tiga dasawarsa. Rezim Soeharto yang berkuasa saat itu menyetir satu Partai yang selalu menang dalam setiap pemilihan umum. Dua partai lain, PPP dan PDI hanya menjadi simbolis belaka karena warga dipaksa memilih partai berlambang pohon beringin itu, sementara PPP dan PDI dipastikan kalah telak. Saya turut merasakan tidak enaknya rezim ini, walaupun saat itu saya masih kecil. Pada era itu tidak ada kebebasan berpendapat. Barang siapa yang mengkritisi pemerintah, pelakunya segera ditindak, penjara menunggu untuk dihuni. Kritik pada pemerintah datang dari banyak kalangan. Pun seniman turut ambil bagian mengkritik pemerintah lewat lagu-lagu. Sebut saja contohnya Iwan Fals dan Rhoma Irama. Salah satu lagu Iwan Fals yang menuai kontroversi pemerintah berjudul Bento – yang diinterpretasikan sebagai sindiran kepada salah satu keluarga Cendana.

Saya akui George Orwell adalah penulis brilian. Otaknya begitu canggih bisa kepikiran membuat cerita seperti ini. ‘Ramalan’ masa depannya soal teleskrin dan bahasa Newspeak di luar imajinasi, pikirannya maju jauh beberapa dekade dengan zaman lahirnya novel ini. Orwell ‘meramalkan’ kurang lebih seperti inilah kondisi perpolitikan dunia di masa yang akan datang. Sebuah negara atau bahkan dunia mungkin akan dikuasai oleh satu penguasa tunggal.

Novel ini bukan termasuk bacaan ringan. Saya terseok dengan jalan ceritanya yang agak rumit, namun saya yakin novel ini tetap akan menjadi salah satu buku yang wajib dibaca sepanjang hidup. Dan, novel ini diterjemahkan dengan sangat baik.

Bulan Terbelah di Langit Amerika : Mengenang Kembali Peristiwa Black Tuesday 9/11

IMG-20140612-00629

Meskipun sudah lama berlalu, peristiwa Black Tuesday masih terekam dalam ingatan kita. Amerika dan Islam, bak dua kutub yang tolak-menolak. Islam menjadi pesakitan, julukan teroris kemudian melekat bagi setiap penganutnya. Dunia seakan mengidap Islamophobia berjamaah. Penyakit itu menular dari satu negara ke negara lain. Dunia begitu sensitif dengan segala hal yang berbau Islam: lihat saja betapa ketatnya pemeriksaan di bagian imigrasi terhadap penumpang (yang dicurigai) beragama Islam (bisa dibaca di buku Berjalan di Atas Cahaya). Sementara itu muslimah dengan ketabahan sekokoh baja menahan amarah ketika diteriaki teroris lantaran mengenakan pakaian takwa. Belum lagi umat Islam harus mengurut dada atas penghinaan yang ditujukan kepada junjungan mereka Nabi Muhammad SAW. Di lain cerita ada kelompok mengaji yang aktivitas pengajiannya dicurigai sebagai bentuk perencanaan peledakan bom di sejumlah tempat. Islam divonis sebagai pihak yang bertanggung jawab atas segala bentuk terorisme yang terjadi di muka bumi. Muncul pertanyaan, Would the world be better without Islam? Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?

Judul : Bulan Terbelah di Langit Amerika

Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 344 Halaman

Tahun Terbit : 2014

ISBN : 978-602-03-0545-5

Cerita berawal ketika Hanum ditugaskan ke Amerika oleh bosnya. Gertrud Robinson adalah atasan Hanum pada surat kabar Austria bernama Heute ist Wunderbar, Today Is Wonderful, Hari Ini Luar Biasa. Gertrud menitahkan Hanum untuk menuliskan sebuah artikel luar biasa agar bisa mendongkrak oplah surat kabar tersebut yang terancam gulung tikar. Hanum merasa tema artikel yang diajukan Gertrud menyudutkan umat Islam. Alih-alih menolong, Hanum justru mengajukan nama rekannya yang lain untuk menuliskan artikel kontroversial tersebut. Namun Gerturd bersikukuh, Hanum adalah reporter yang tepat karena ia seorang muslim. Gertrud ingin seorang muslim yang menulisnya dengan objektif. Would the world be better without Islam? adalah artikel yang akan dituliskan Hanum.

“Terima kasih, Hanum. Aku bersyukur. Kau tahu, jika Jacob yang menulisnya, pernyataan itu jelas akan terjawab ‘ya’. Denganmu seorang muslim, aku masih berharap kau menjawab pertanyaan itu dengan ‘tidak’. Kau paham kan sekarang?”  (Halaman 51)

“Mereka ingin kita menulis artikel tentang semacam-ehm-kisah di balik tragedi 9/11. Karena kau muslim dan pelaku 9/11 itu terbukti muslim juga, koran ingin tahu persepsi orang muslim sekaligus nonmuslim tentang kejadian yang memilukan itu.”  (Halaman 51)

Orang menyebutnya serendipity- kebetulan yang menyenangkan. Ah, entahlah… ini sebuah kebetulan atau memang sudah diskenariokan oleh Tuhan. Hanum dan Rangga seolah diberi ‘tugas’ untuk sama-sama menjelajah dan menyibak kekuasaan Tuhan di bumi Amerika. Hanum bertugas mewawancarai korban 9/11 sedangkan Rangga ditugaskan oleh Reinhard untuk mempresentasikan papernya sekaligus menghadiri konferensi di Washington DC yang dihadiri oleh Phillipus Brown, seorang pebisnis yang tersohor berkat mendermakan hartanya pada anak-anak korban perang di Irak dan Afghanistan. Namun takdir berkata lain, Hanum dan Rangga terpisah di saat Hanum tengah mewawancarai seorang demonstran di lokasi Ground Zero. Ketika itu sedang berlangsung demonstrasi menentang pembangunan masjid di lokasi bekas peristiwa nahas Selasa pagi. Demonstrasi yang berlangsung damai seketika menjadi panas atas kehadiran kelompok provokator. Di tengah kecemasannya, seorang muslimah bernama Julia atau Azima mengajaknya menginap di rumahnya. Mereka berbincang, mencari tahu asal-usul masing-masing. Dari perbincangan itu diketahui bahwa Azima adalah salah satu korban 9/11. Suami Azima, Ibrahim tewas dalam peristiwa nahas pagi itu. Malam itu Hanum tak hanya mendengarkan cerita pilu Azima. Siapa sangka, dari informasi yang didapatnya dari Azima terbongkarlah sejarah Islam yang menghenyakkan bagi siapa saja yang membacanya.

“Siapa yang menyangka, Christophorus Columbus sebenarnya bukan penemu benua ini (Amerika), Hanum.”  (Halaman 131)

“Pada 1492, Columbus sempat mengira dia terdamar di India, ketika menemukan tanah tak bertuan ini. Dia kecele karena dunia baru yang baru saja dia temukan ternyata sudah berpenghuni. Orang-orang bertubuh tegap berbalut jubah, berhidung mancung, dan berkulit merah.” (Halaman 131-132)

“Dari mana datangnya orang-orang berhidung mancung dan berjubah itu?” tanyaku. (Halaman 132) “Sampai saat ini masih terdapat perdebatan dari mana datangnya orang penduduk asli Amerika, kaum Indian itu. Namun ada yang menarik, sebuah prasasti yang ditulis di China pada akhir abad ke-12 mengatakan bahwa musafir-musafir muslim dari tanah China, Eropa, dan Afrika telah berlayar jauh sampai ke benua ini. Tiga ratus tahun sebelum Columbus.” (Halaman 132)

“Jefferson (Thomas Jefferson, presiden Amerika Serikat ke-3) juga mahir berbahasa Arab,” (Halaman 145)

“Kau tahu dia punya Al-Quran?”  (Halaman 145)

“Ya, Jefferson mempunyai Al-Quran. Seperti punyamu.”  (Halaman 145)

Apa?! Ini adalah penggambaran vulgar Nabi Muhammad di atas gedung pengadilan Mahkamah Agung Amerika Serikat!”  (Halaman 206)

Aku melihat foto kliping Universitas Harvard yang begitu megah akan ketenarannya menghasilkan intelektual-intelektual bertaraf dunia. Foto itu diambil dari salah satu pintu gerbang fakultasnya. Fakultas Hukum. Tapi, mengapa foto itu memuat salah satu dinding berukiran inskripsi Al-Quran? (Halaman 207)

“Ini adalah pahatan nukilan Al-Quran tentang kehebatan ajaran keadilan sebagai supremasi hukum manusia. Surat An-Nisaa’ ayat 135.”  (Halaman 207)

Di lain tempat, Rangga masih menyimpan kegelisahannya akan Hanum. Istri yang ia cintai tak juga memberikan kabar. Di tempat konverensi, Rangga berhasil bertemu dan berbicara empat mata dengan pebisnis dermawan itu, Phillipus Brown. Dari perbincangan inilah semua kesaksian dan teka-teki yang selama delapan tahun ini tersimpan, semuanya akan tersingkap dan akan menjalin cerita yang tak akan disangka-sangka. Dan apakah pertanyaan Would the world be better without Islam? akan menemukan jawabannya?

Sungguh penulis sangat pandai merajut cerita ini. Bisa dikatakan ini novel Islami. Namun novel ini tidak selevel dengan novel Islami kebanyakan yang mengedepankan kesalehan tokoh utamanya. Juga bukan tipe novel yang semua tokohnya alim pemburu surga. Justru di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur bagaimana mencintai dien ini secara kaffah. Novel ini dibangun dengan konsep serendipity-serba kebetulan yang mengindahkan ceritanya. Berbeda dengan ‘kakak-kakak’nya terdahulu (99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya) yang didasarkan pada cerita nyata, sementara Bulan Terbelah di Langit Amerika merupakan perpaduan antara berbagai dimensi genre buku (drama, fakta sejarah dan ilmiah, traveling, spiritual, serta fiksi). Kesan ini kemudian saya rasakan tatkala halaman buku yang saya baca semakin menebal. Sepertinya penulis memang sengaja mendandani cerita yang serba kebetulan ini menjadi sebuah cerita yang ciamik dan mengejutkan pembacanya.

Dalam novel ini saya menandai beberapa narasi yang mungkin bisa menjadi renungan kita bersama.

Bahwa meskipun sudah blakblakan membuka rahasia kesuksesan, mereka sadar bahwa tak akan ada orang yang bisa menjiplak perjalanan hidup. Seperti halnya dua buah pohon yang sejenis, dipupuk, disiram, dan diperlakukan sama persis, toh tetap menyisakan pertanyaan: Mengapa yang satu berbuah sementara yang satu tidak? Yang satu tumbuh subur bahkan menggerus yang satu lagi hingga kering kerontang. Kesuksesan, sekali lagi, adalah soal relativitas pemandangnya. (Halaman 22)

“Mr. Mahendra, aku punya alasan tersendiri mengapa aku menjadi filantropi. Aku berutang budi pada seseorang yang telah menyelamatkan jiwaku. Mengajariku ikhlas dan berbuat baik tanpa pamrih.”  (Halaman 199)

“Betapa kekayaan justru membuat kita makin kikir dan tak pernah bisa hidup tenang. Dulu saya mengira seseorang bisa gila jika di dompetnya tak ada uang sepeser pun. Tapi ternyata terlalu banyak uang pun bisa membuat kita gila.”  (Halaman 213)

Mellow Yellow Drama : Tentang Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan

IMG-20140606-00628

“Saat Tuhan memberikan tugas yang besar kepada seseorang, tekadnya akan diuji terlebih dahulu dengan kesulitan, otot dan tulangnya diuji dengan kelelahan, tubuhnya dengan kelaparan serta kekosongan.” (Halaman 123-124)

Jatuh cinta pada lawan jenis kemudian patah hati adalah hal yang biasa. Tapi bagaimana bila kau jatuh cinta pada negaramu namun ia tak membalas cintamu? Bagaimana perasaanmu, apakah kau akan beremigrasi ke negara lain dan menjadi warga negara tersebut? Akankah kau tetap mencintai tanah airmu walaupun kau tahu betapa sakit hatinya kau karena cintamu bertepuk sebelah tangan? Apa kau yakin cintamu tak akan pudar sedikit atas penolakan ini? Apakah kau…..? Ah, sudahlah! Ada baiknya kita simak cerita Audrey yang jelas-jelas patah hati karena saking cintanya kepada Indonesia.

Maria Audrey Lukito yang kemudian berganti nama menjadi Audrey Yu Jia Hui adalah salah satu pemudi yang memiliki kecintaan membuncah kepada tanah air, Indonesia. Dari namanya saja kita sudah bisa memastikan bahwa Audrey adalah keturunan etnis Tionghoa dan bukan masyarakat (asli) pribumi. Audrey adalah salah satu anak paling membanggakan karena prestasinya yang gilang-gemilang. Bayangkan saja, di usianya 16 tahun dia sudah lulus kuliah dengan predikat summa cum laude. Audrey memang terlahir jenius. Kejeniusannya ini mengantarkannya ke College of William and Marry, Virginia, USA di usia belia yaitu 13 tahun.

Menjadi jenius seharusnya bisa membuat seseorang terbang sampai langit ke tujuh. Namun Audrey tak pernah merasa demikian. Audrey dianggap aneh oleh papa dan mamanya. Papa Audrey seorang pebisnis sukses dengan kekayaan melimpah. Papa dan mama Audrey menginginkan agar ia mengikuti jejak papanya menjadi pebisnis atau bekerja di perusahaan beken dengan gaji setinggi angkasa. Harapan orangtua Audrey sangat beralasan mengingat Audrey lulusan luar negeri dan jenius pula. Namun keinginan orangtua Audrey sangat berseberangan dengan hati nuraninya. Audrey ingin berkontribusi untuk bangsa ini. Tentangan dari orangtua menciutkan nyalinya.

Aku gembira bukan kepalang. Inilah saatnya mempraktikkan ilmuku dan membantu masyarakat di Tanah Air-ku yang dirundung masalah kemiskinan dan ketidakadilan. Orangtuaku merasa kegiatanku di LSM tidak ada gunanya. Bukan hanya tidak berguna, melainkan juga berbahaya (halaman 87).

Sesungguhnya, harapan Papa dan Mama bertolak belakang dengan cita-citaku. Semakin aku meyakinkan obsesiku, semakin mereka marah besar. Mereka menyesal sudah “membuang uang” menyekolahkanku di Amerika. Hasilnya tetap dapat anak yang kerjanya “bikin pusing”, “bodoh”, dan “susah diatur” (halaman 88).

Atau lihat reaksi orangtua Audrey mengenai keinginannya untuk menulis buku.

“Kalau kamu nulis buku mau jadi apa? Kamu semula punya masa depan cerah. Mengapa sekarang pemikiranmu aneh? Apa kamu mau menyia-nyiakan masa depanmu sendiri?” (halaman 95)

Audrey mencintai Indonesia juga sangat menjunjung tinggi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Sayangnya kecintaan terhadap negara ini dianggap tidak pantas karena ia orang Tionghoa.

Pernah suatu kali, seorang teman sekolah bilang kepadaku, “Walaupun kamu pintar, kamu tetap bukan orang Indonesia asli. Negara ini milik orang-orang seperti aku.” (halaman 61)

Di Indonesia, cita-citanya dianggap tidak masuk akal. Orang terdekatnya malah menjatuhkan apa yang menjadi impiannya. Sementara itu perlakuan yang ia dapatkan dari teman-teman kampus dan profesornya justru semakin memantik semangat patriotiknya untuk Indonesia.

Setiap kuberi tahu seseorang tentang impianku bagi negaraku, aku tidak pernah diejek atau dihina sebagai keturunan Tionghoa. Di Amerika, aku melihat diriku bukan sebagai gadis kecil, melainkan sebagai seorang patriot, seorang tentara, dan duta besar bagi Indonesia (halaman 74).

Cinta yang tak berbalas ini menjerat pikiran dan kesehatan Audrey. Orangtuanya pergi ke banyak konselor, ahli terapi, psikolog, dan psikiater. Audrey menjalani hidup tanpa makna. Obat dan antidepresan dijajal demi kesembuhan. Di tengah kegalauan hatinya, Audrey menemukan seorang sahabat yang pada akhirnya mengubah paradigma dan sudut pandangnya.

Apa yang menjadi impian dan cita-cita Audrey mungkin bisa jadi adalah impian dan cita-cita kita juga di masa mendatang untuk Tanah Air kita. Lantas apa impian Audrey untuk bangsa ini?

Aku bermimpi bahwa suatu hari banyak orang di Indonesia-ku yang tecinta akan menjalankan prinsip-prinsip Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Aku bermimpi bahwa suatu hari para pemimpin negara kita akan meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Aku bermimpi pada suatu hari perempuan Indonesia akan menatap cermin dan berhenti mengharapkan kulit mereka lebih putih, hidung mereka lebih mancung, atau mata mereka lebih besar. Aku bermimpi bahwa suatu hari mereka akan bangga dengan apa yang Tuhan anugerahkan dan bukannya terus berharap untuk meniru orang Barat dengan cara apapun.

Aku bermimpi bahwa keturunan Tionghoa di negaraku akan memperbaiki permadani kami yang tercabik. Aku bermimpi suatu hari setiap orang Indonesia keturunan Tionghoa akan bangga memiliki nama Mandarin, bisa berbicara bahasa Mandarin dengan fasih, tetapi tetap setia secara politik pada prinsip-prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Aku bermimpi bahwa kita akan dihargai dan dihormati di seluruh Nusantara karena memiliki nama Mandarin, sebaik kita mempraktikkan bahasa dan budaya Tionghoa kita, bukannya dianggap tidak patriot, aneh, atau kuno.

Akub bermimpi bahwa suatu hari akan banyak perpustakaan umum yang berkualitas baik di Indonesia, yang memiliki koleksi buku-buku berkualitas baik dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, dan berbagai bahasa daerah.

Aku bermimpi bahwa suatu hari banyak perempuan Indonesia akan lebih suka membaca buku-buku sastra daripada membuka-buka majalah mode. Aku bermimpi bahwa suatu hari aka nada banyak took buku bahasa Mandarin dan Inggris yang berkualitas baik di Indonesia sehingga orang-orang sepertiku tidak perlu terus pergi ke luar negeri untuk membeli buku dan melakukan riset kami.

Aku bermimpi bahwa suatu hari orang Indonesia akan bangga atas budaya nenek moyangnya, tetapi tetap bersatu dalam kesetiaan pada bangsa dan gagasan luhur bangsa kita. Aku bermimpi bahwa sebagai ganti kita terus bertengkar satu sama lain atas hak-hak individu, kita akan sangat mencintai bangsa dan rekan-rekan sebangsa dan se-Tanah Air sehingga akan menjadi sebuah kehormatan untuk menghargai meraka yang berbeda perasaan atau berpendapat.

Aku bermimpi bahwa suatu hari mereka yang sungguh-sungguh mencintai Indonesia dan rakyat Indonesia tidak akan menjalani hidup yang demikian sulit, diejek tidak realistis oleh orang banyak, dan diserang dari banyak pihak. Aku bermimpi bahwa suatu hari aka nada tempat bagi orang sepertiku dan anak-anak Indonesia yang berbakat tak perlu menderita seperti aku.

Bisa dikatakan, buku ini adalah curahan hati Audrey atas rasa patah hatinya terhadap Indonesia. Sama halnya ketika kita patah hati, kita pasti memiliki kecenderungan untuk curhat pada diari atau menuliskan puisi guna menumpahkan kekacauan yang ada di dalam hati dan pikiran. Bagi saya ini wujud patah hati yang positif. Lewat buku yang ditulis Audrey ini, saya berharap bisa menambah kecintaan kita terhadap bangsa dan Tanah Air kita, tempat kita lahir dan mengambil segala sumber daya yang ada di bumi Indonesia. Gadis keturunan Tionghoa macam Audrey saja berani mengakui kecintaannya yang sangat mendalam pada bangsa ini, lalu bagaimana dengan kita penduduk pribumi yang sedari dulu kala mendiami nusantara ini? Apakah kita (MASIH) gengsi mengakui rasa cinta itu?

Keterangan buku

Judul : Mellow Yellow Drama
Penulis : Audrey Yu Jia Hui
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal Halaman : 242 Halaman
Cetakan ke- : 1, Mei 2014
ISBN : 978-602-291-032-9

Hujan Daun-daun : Mencari Keping Puzzle yang Hilang

Hujan Daun-daun

Hujan Daun-daun merupakan salah satu (dari tiga) novel estafet besutan tiga penulis muda berbakat, yakni Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, dan Putra Zaman. Ketiganya adalah penulis yang lolos seleksi dalam program Gramedia Writing Project untuk kategori novel remaja yang diselenggarakan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Menulis secara bergantian atau estafet sejujurnya tidaklah mudah. Menyatukan ide, mengeksekusi plot, mengawinkan gaya bahasa diperlukan kecermatan. Beruntungnya, perbedaan gaya meulis antara ketiganya tak terlihat kentara sehingga menjadikan novel ini enak dibaca.

Novel ini dibuka dengan adegan ketika Tania, tokoh utama novel ini, bermimpi bermain petak umpet bersama seorang gadis kecil seusianya. Gadis kecil yang tak ia kenali itu terus merasuk ke dalam mimpinya secara berulang-ulang. Mimpi ini membuat Tania dihantui rasa penasaran, siapa gadis kecil yang ada dalam mimpinya? Apakah peristiwa ini sekadar bunga mimpi atau sebuah petunjuk yang akan menguak cerita masa lalunya?

Tania adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama kakek dan neneknya. Berdasarkan cerita kakek dan neneknya, orangtua Tania sudah meninggal ketika dia masih bayi. Tania memercayai kisah tersebut tanpa kecurigaan sampai akhirnya mimpi itu datang, rasa penasaran Tania terhadap jati diri orangtuanya memenuhi pikirannya. Tania merasa, ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakek dan neneknya mengenai orangtuanya. Tania semakin tahu bahwa kakek dan neneknya sengaja menutupi cerita sebenarnya agar Tania tidak terus bertanya tentang orangtuanya.

Tania mungkin tak menyangka bahwa rasa penasaran terhadap kisah orangtuanya akan terjawab secepat ini. Adalah Meilia Sasmita Wibowo, istri kedua ayah Tania, Alex Wibowo, yang tak sengaja ia temui di kampusnya membeberkan fakta yang selanjutnya akan membawa cerita novel ini semakin menarik dan mendebarkan. Semua fakta dan rasa penasarannya terkuak oleh penuturan Meilia. Tania sadar bahwa selama ini memang ada cerita kelam yang tak ingin disampaikan kakek dan neneknya kepada Tania. Lewat cerita Meilia, Tania mengetahui semua cerita tanpa melewatkan satu episode pun. Secara perlahan Tania mulai menata kembali puzzle hidupnya yang berantakan. Tak hanya menatanya, Tania juga menemukan kepingan puzzle yang lain yang dicarinya selama dua puluh tahun. Judul novel ini menjadi benang merah yang memberikan nyawa pada ceritanya.

Berbicara soal kekurangan, jelas novel ini memilikinya. Misalnya saja ketidakkonsistenan penggunaan kata “nggak” dan “tidak”. Pada narasi awal, di cerita menggunakan kata “tidak” tetapi semakin jauh halaman, ada kejanggalan ketika saya menemukan kata “nggak” pada narasi yang saya baca. Bukan hanya itu, karakter nenek dan kakek saya nilai kurang bijaksana jika ukuran/patokan seorang nenek atau kakek adalah orang tua berumur di atas 50 tahun, beruban, dan memiliki pengalaman hidup yang mumpuni. Saya ingin mengkomparasi ini dengan tokoh Pak Tua yang diceritakan oleh Tere Liye dalam novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah atau tokoh tua yang lain seperti Opa dalam serial Negeri Para Bedebah. Kontras sekali dengan kakek dan nenek yang diceritakan dalam novel ini. Saya mengira mungkin ini faktor usia ketiga penulis yang cenderung masih muda. Berbeda dengan Tere Liye yang memang sudah senior dan punya segudang pengalaman menulis. Tapi setidaknya, editor bisa mengatur sedemikian rupa agar percakapan janggal antara kakek nenek dan Tania tidak terjadi.

Saya menyukai bagian di mana romansa antara Tania dan Adrian tidak begitu dibuat picisan. Tapi saya merasa kok sepertinya cerita cinta ini hanya dibuat sekadarnya saja. Cerita mereka ada di awal-awal bab, semakin ke tengah cerita itu menghilang kemudian tiba-tiba muncul lagi di akhir cerita.

Apakah saya suka dengan novel ini? Saya jawab, ya! Saya memang tak memberikan ekspektasi yang berlebihan terhadap novel ini hanya karena salah satu penulisnya adalah teman saya. Sejauh ini saya menikmati Hujan Daun-daun dan menyandingkannya dengan secangkir teh hangat dan pisang goreng di sore.

Informasi buku

Judul : Hujan Daun-daun
Penulis : Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, Putra Zaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Halaman : 248
Cetakan ke- : I, April 2008
Target : Remaja
ISBN 978-602-03-0376-5

A Walk to Remember (Kan Kukenang Selalu) – Nicholas Sparks

A Walk to Remember

Hal yang paling melekat di ingatan saya ketika membaca novel ini adalah film (dengan judul yang sama) beserta soundtrack lagunya yang berjudul Only Hope. Saya lebih dulu mengenal filmnya daripada novelnya. Seingat saya saat itu tahun 2002, saya membaca artikel peluncuran film ini di salah satu majalah remaja langganan saya. Tentu saya masih ingat dengan cuplikan isi artikel tersebut, kurang lebih begini, “Film ini dibintangi oleh Mandy Moore…………..”, “Mandy Moore berperan sebagai seorang gadis sederhana yang membawa Alkitab ke mana-mana.” Saat itu saya tidak terlalu peduli soal film. Justru saya tergila-gila dengan soundtrack film tersebut yang juga dinyanyikan oleh Mandy Moore. Di zamannya, lagu tersebut sering diputar di radio-radio remaja di kota saya. Demi bisa menyanyikan lagu itu, saya rela mencari liriknya di warnet, jauh dari rumah -yang pada zaman itu akses internet masih jarang tersedia. Kemudian saya menyanyikannya di kamar (tidur maupun mandi) sambil berlinang air mata. Lagunya bertambah syahdu dengan selipan ucapan Landon, “Jamie, you know I love you”.

Awal tahun lalu, saya berkenalan dengan teman baru. Teman saya ini selalu menghabiskan sisa malamnya dengan menonton film A Walk to Remember, berulang-ulang, setiap hari. Lantas saya membuka smartphone mencari akun toko buku bekas di Facebook untuk mendapatkan novelnya. Tentu, sebagai pecinta buku saya lebih tertarik membaca novelnya terlebih dahulu daripada menonton filmnya.

Adalah manusiawi ketika kita berharap jodoh yang baik untuk menjadi pendamping di masa depan. Tapi apakah kalian pernah membayangkan bahwa jodoh yang didapat bertolak belakang dengan apa yang diharapkan? Landon tidak pernah bermimpi mendapatkan Jamie, pun sebaliknya Jamie tak pernah tahu kepada siapa ia akan jatuh cinta. Jamie gadis sederhana, Alkitab dibawanya serta untuk menunjukkan dia seorang Kristen yang taat, Jamie sangat senang membantu sesama, menjadi relawan untuk anak yatim piatu. Jika kau merasa ginjalmu tidak beres, Jamie mungkin akan senang hati mendonorkan ginjalnya untukmu. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kepribadian Landon. Pemuda ini jahil, nakal, bisa dikatakan urakan. Sesekali waktu, ia dan teman-temannya menggoda Pendeta Hegbert yang notabenenya adalah ayah Jamie dengan sebutan pezina.

Semua itu bermula ketika Landon ingin mengajak Jamie ke pesta dansa sekolah. Padahal, Landon sama sekali tidak akrab dengan Jamie, bisa dikatakan pertemanan mereka hanya sebatas sapaan hangat basa-basi. Jamie bukankah kriteria gadis yang termasuk dalam daftar kencannya. Sebaliknya Jamie, bukan tipe gadis yang mudah diajak kencan. Ini karena Jamie adalah anak seorang pemuka agama sehingga pergaulannya dengan lawan jenis perlu dibatasi. Jamie berada di bawah pengawasan ayahnya, Pendeta Hegbert.

Awalnya mereka berjanji untuk tak saling jatuh cinta. Namun di bagian ini saya bisa menebak bahwa mereka pasti akan saling jatuh cinta. Perkiraan saya tidak meleset. Seiring kebersamaan mereka maka sulit untuk menampik perasaan saling menyukai. Tapi rupanya- sesuai apa yang selalu dikatakan Jamie bahwa Tuhan selalu punya rencana- Landon perlu membuktikan seberapa besar cintanya pada Jamie. Jamie menyembunyikan rahasia besar pada Landon perihal kesehatannya. Di bagian ini saya begitu terharu seraya kembali menebak akhir cerita cinta antara Landon dan Jamie.

Jujur saja, saya bukan penyuka cerita roman. Tidak juga anti terhadap genre ini. Hanya saja, saya membatasi bacaan saya untuk tidak terlalu banyak membaca cerita roman. Saya kadang mengganggap cerita roman terlalu picisan dan dibuat terlalu mendrama. Novel roman yang ada di rak buku saya sengaja disediakan untuk teman-teman yang menyukai gere ini. Oke, itu tadi soal selera.

Novel ini berlatar tahun 1950-an, dikisahkan dengan alur mundur. Landon tua menceritakan awal perkenalannya dengan Jamie, proses mereka jatuh cinta sampai Landon tua berpisah dengan Jamie. Ada keteduhan di hati ketika saya membaca karya Nicholas Sparks. Saya merasakan selalu ada kepiluan yang disajikan dalam setiap cerita. Ada perasaan di mana saya tidak bisa mendapatkan feel itu ketika saya membaca cerita roman penulis lain. Saya tidak terlalu peduli dengan akhir ceritanya. Yang saya tahu, Nicholas Sparks mampu menarik saya untuk membaca karya-karyanya yang lain.

Informasi buku :

Judul : A Walk to Remember (Kan Kukenang Selalu)

Pengarang : Nicholas Sparks

Penerjemah : Kathleen S. W.

Tebal Halaman : 256 halaman

Cetakan ke- : 4 tahun 2003

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 979-686-756-7

Receh for Books 2013

Anggaplah ini adalah cara lain menabung. Mengumpulkan uang receh tidaklah sulit. Sedikit demi sedikit akan menjadi banyak. Belum terlambat kan? Hikss… Nyesel deh baru ikutan sekarang 😥

Jadi peraturan tantangan ini adalah:

  1. Kumpulkan uang receh dari Januari-Desember
  2. Jangan dihitung sampai akhir tahun 2013
  3. Setelah semua uang terkumpul, belikan buku yang kamu inginkan/bukunya dihadiahkan ke orang lain
  4. Kalau mau ikut, bikin posting mengenai challenge ini di blog masing-masing (tidak harus blog buku) kemudian masukkan link dari postingan kamu di mr.linky (di blog hostnya)
  5. Pasang banner Receh for book(s)
Ingin tahu lebih banyak soal acara ini? Kunjungi langsung blog hostnya di sini : http://floriayasmin.blogspot.com/2013/01/receh-for-books-2013-wrap-up-post.html

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

Image

Sejujurnya saya bukan penggemar bacaan romance. Memang saya suka tapi bukan tipe bacaan yang kerap kali saya beli ketika menyambangi toko buku. So far, saya suka romance karena kebanyakan ceritanya happy ending dan manis. Yay! Saya suka cerita cinta happy ending.

Saya mengikuti event reading challenge ini tidak semata-mata ingin menertibkan buku-buku romance di rak yang semakin menumpuk. Reading challenge ini pastinya juga akan mendispilkan saya dalam membaca segala macam genere buku. Terima kasih kepada Mbak Yuska yang berkenan menghadirkan event ini di tengah-tengah genre buku yang semakin beragam. Alhamdulillah ya belum telat… Karena mepet, saya akan mencoba level Fling saja. Mudah-mudahan bisa mencapai target.

Kapan?
Mulai 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013.

Siapa saja yang boleh ikutan?
Semua orang boleh ikutan, yang penting usia sudah memenuhi syarat untuk membaca novel dengan unsur roman.

Buku apa yang harus dibaca?
Tentu buku romance karya penulis Indonesia. Boleh dari penerbit mana pun, baik terbitan major publisher atau self-published.

Boleh nggak baca buku romance terjemahan?
Tidak. Buku yang dianjurkan untuk dibaca adalah buku berbahasa Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia :)

Aku udah pernah baca buku romance “A”. Boleh nggak aku baca ulang?
Nggak masalah. Yang penting genrenya romance dan ditulis oleh penulis Indonesia.

Aku suka buku sastra klasik. Boleh nggak aku baca buku karya Pramoedya Ananta Toer, Putu Wijaya, dll?
Sah-sah aja. Yang penting mengandung unsur roman.

Boleh nggak sih aku baca buku antologi?
Tentu boleh, yang penting ada unsur romance-nya.

Kalau aku nggak suka buku yang kubaca dan ga selesai baca tapi tulis review, apa kehitung?
Nggak boleh. Semua buku harus selesai dibaca dan tulis review, baru kehitung untuk challenge ini.

Terus, habis baca bukunya ngapain lagi dong?
Tulis review buku yang kamu baca. Boleh di blog atau goodreads, boleh juga reply di sini. Untuk yang nulis review di blog/goodreads, jangan lupa kasih link ya, biar dishare ke peserta yang lain.

Kalau aku udah lulus level First Date dan waktunya masih cukup, boleh nggak ikutan baca buku lagi supaya level naik?
Sure! Semakin banyak buku yang dibaca, tentu semakin baik :)

Ada hadiah nggak untuk peserta yang ikut tantangan ini?
Ada. Thanks to para sponsor:

Copy of Logo Stiletto

wallp2

logo

Semoga ada penerbit lain yang mau ikut mensponsori hadiah ya supaya semakin meriah.

Level:

Fling: membaca 1-3 buku
First Date: membaca 4-7 buku
Going Steady: membaca 8-11 buku
Engaged: membaca 12-14 buku
Married: membaca 15+ buku

Kamu tertarik ikutan event reading challenge ini? Masih ada kesempatan kok. Sila mengunjungi blog host-nya di sini.

Mendekap Rasa

Image

Judul                                     : Mendekap Rasa

Penulis                                 : Aditia Yudis & Ifnur Hikmah

Pnenerbit                            : Bukune

Jumlah Halaman               : 394 Halaman

Cetakan                               : I, Januari 2013

ISBN                                      : 978-602-220-091-8

“Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku.” (Dewa)

Apakah memang CINTA adalah modal utama dalam menjalin suatu hubungan (terlebih dalam rumah tangga)? Apakah bisa sebuah hubungan bertahan jika salah satu pihak atau keduanya tak pernah saling cinta? Pernahkah terbesit dalam pikiran, apakah pasangan kita benar-benar mencintai, atau sebaliknya apakah kita sudah benar-benar mencintai pasangan kita. Jangan-jangan dia (atau kita sendiri) hanya pelarian karena memang sebetulnya tak ada rasa cinta di hatinya. Kemudian menjadikan hubungan ini hanya sebagai status belaka tersebab gagal move on dari pasangan sebelumnya. Nah!

Dalam urusan asmara, Carissa dan Mike memiliki kesamaan di masa lalu. Keduanya ditinggalkan pasangan masing-masing jelang hari bahagia. Pasca ditinggalkan tunangannya, Carissa menganggap laki-laki yang masuk ke dalam hidupnya sekedar momen selintas saja tanpa harus dikenang. I am number one, adalah jargon hidup Carrisa, termasuk dalam hal percintaan, dialah yang selalu mencampakkan setiap laki-laki yang dipacarinya.

Rama, mantan tunangan Carissa membatalkan rencana pernikahan mereka setelah mengetahui tak ada cinta di hati Carissa.

“Bagiku, terlalu mengada-ada dengan ungkapan cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Bagiku harus ada cinta atau setidaknya rasa sayang sebelum kita berani melangkah lebih jauh. Pernikahan memerlukan fondasi yang kuat, dan itu yang tidak kita miliki.” Itu kata-kata Rama, dulu. (Halaman 206)

Sementara Mike putus dengan tunangannya, Amelia, tersebab Mike ketahuan menghamili perempuan lain. Carissa dan Mike dikenalkan oleh mantan pacar Carissa, Narendra. Singkatnya, Carissa dan Mike memutuskan untuk berkencan.

Pernahkah mengalami ketika kita sangat mencintai seseorang, orang itu malah mencintai orang lain dan bukan kita? Bagaimana rasanya? Pilu. Ya. Okelah, anggap saja ini karma. Dulu Carissa pernah tidak mencintai Rama, tapi kini keadaannya berbalik. Mike, lelaki yang sangat dicintai Carrisa lebih memilih terjebak nostalgia dengan mantan tunangannya. Sementara Mike sama sekali tidak mencintai Carrisa.

Membaca novel ini saya suka sekaligus sebal. Suka karena dua penulis ini menciptakan konflik antartokoh yang begitu kuat hingga akhir cerita. Saya rasa konflik antartokohnya pas dan tidak berlebihan. Pun saya suka tatkala penulis memisahkan POV Carissa dan Mike di bagian tersendiri. Ini memudahkan pembaca agar tidak bingung dalam setiap pergantian POV. Sebalnya saya sama novel ini subjektif. Alamak, saya paling tidak suka jika sudah berkomitmen, pasangan saya masih memikirkan wanita lain terlebih dia adalah mantan pacar atau wanita yang dulunya pernah disukai oleh pasangan saya. Saya geram dengan Mike yang gagal move, gagal bangkit dari masa lalu. Sementara Carrisa dengan segala cara berusaha menjadi seseorang yang layak dicintai Mike. Saya juga geram dengan tokoh Carrisa yang kekanakan dan tidak sopan. Padahal kalau dilihat dari umurnya, Carrisa bisa dikatakan sepuh yaitu sudah kepala tiga. Simaklah apa yang dia ucapkan pada saat perjamuan makan di rumah kerabat Mike :

“Hari gini masih berkutat di dapur? Mana sempat. Lagian ya, ngapain coba sekolah tinggi-tinggi kalau cuma bakalan berakhir di dapur.”

Dalam novel ini terdapat beberapa typo. Tidak banyak jumlahnya namun cukup disayangkan. Dan yang saya ingin keluhkan adalah penggunaan font yang tidak bisa dibaca. Font seperti ini saya rasa sangat mengganggu. Ini contohnya :

Image

Image

Well, kembali ke pertanyaan awal, “Apakah memang CINTA adalah modal utama dalam menjalin suatu hubungan (terlebih dalam rumah tangga)?” Untuk jawabannya, saya mengutip pernyataan Ustaz Moh. Fauzil Adhim dalam cuitannya di Twitter. “Apakah cinta itu bekal penting menikah? Tidak. Betapa banyak yang menikah dengan berbekal niat lurus dan tujuan besar, tanpa saling cinta.”

Beberapa kutipan :

“Perempuan yang bisa masak pada zaman kayak sekarang jauh lebih hebat. Langka.” (Halaman 47)

“Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan. Berhari-hari bersamanya, menghabiskan waktu demi waktu dalam kemanjaan dan pertengkaran kecil, serasa menjadi oksigen baru dalam hidupku. Mungkin, baru sebentar kami saling mengenal, tetapi tidak kumengerti mengapa aku rela memberikan hati dan hidupku untuknya.” (Halaman 59)

“Saat kamu berada di samping orang yang tepat, pikiran dan hatimu sejalan.” (Halaman 67)

“Tapi, katanya cinta itu bisa tumbuh. Lo hanya perlu percaya dan mengikhlaskan cinta itu untuk hadir.” (Halaman 349)

“Aku ingin berakhir bersama pria yang kucintai.” (Halaman 390)