7 Rekomendasi Buku yang Asyik Dibaca Selama #DiRumahAja

Sampai detik ini Indonesia terus berjuang melawan virus Korona. Orang yang terinfeksi  COVID-19 pun jumlahnya semakin bertambah. Mengintip informasi dari laman kawalcovid19 id, per 4 April ini saja jumlah kasus COVID-19 telah menembus di angka 2.092 dengan jumlah kematian 191 orang.

Dengan kasus yang semakin banyak, secara otomatis masa physical distancing juga akan semakin panjang. Bagi yang terbiasa beraktifitas di luar, mendekam di dalam rumah selama 24 jam setiap hari tentunya mendatangkan kejenuhan.

Bahagia dengan Membaca Buku

Tapi, sebetulnya banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu saat #swakarantina #dirumahaja. Misalnya dengan membaca buku. Sudah nggak diragukan lagi bahwa aktifitas membaca buku memiliki segudang manfaat untuk diri kita. Membaca buku nggak sekadar menambah wawasan dan meluaskan cakrawala berpikir. Banyak hal yang lebih dari itu bisa didapatkan dari membaca buku.

Per Maret 2020 ini, aku sudah membaca 22 buku. Belum ada apa-apanya memang bila dibandingkan dengan teman-teman bookworm lain yang bahkan bisa membaca 25 buku per bulannya.

Ada beberapa buku bagus yang sudah aku baca. Untuk itu, aku mau berbagi rekomendasi buku yang bisa mengatasi kegabutan kalian selama #dirumahaja.

Baca juga: Pengalaman Membaca, Pencapaian, dan Buku Favorit 2019

Buku-buku ini semuanya keluaran baru ya! Rata-rata terbit tahun 2019-2020. Jadi, masih tersedia di toko buku dan lapak buku daring kesayangan kalian. Apalagi sekarang ini toko buku daring sedang gencar ngasih diskon bahkan sampai 70%.

Berikut ini daftar bukunya.

1. The Silent Patient – Alex Michaelides (Gramedia Pustaka Utama, 2019)

Awal tahun 2020 aku buka dengan membaca The Silent Patient karya penulis berdarah Yunani, Alex Michaelides. Novel bergenre thriller ini menyabet penghargaan Goodreads Choice Awards 2019 untuk kategori novel misteri dan thriller terbaik.

Novel ini selain bercerita tentang pembunuhan, juga menyinggung soal kesehatan mental tokoh utamanya. Diketahui setelah membunuh suaminya, si tokoh utama yang bernama Alicia menjelma menjadi pribadi yang sangat tertutup dan menolak berbicara kepada siapapun. Akibatnya dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa di bawah pengawasan dokter dan psikoterapis bernama Theo.

Baca juga: Lethal White (Kuda Putih) – Robert Galbraith

Tema kesehatan mental menjadi isu yang menarik, khususnya yang diangkat di novel ini baik dari sisi Alicia selaku pasien maupun dari sudut pandang Theo selaku psikoterapis.

Dari sisi psikoterapi kita jadi tahu bahwa untuk mengorek keterangan dari pasien yang mengalami traumatis hebat seperti Alicia, diperlukan pendekatan khusus supaya yang bersangkutan mau bersuara. Di sisi lain, proses penyembuhan jiwa juga memakan waktu yang cukup panjang.

The Silent Patient adalah buku yang membuat aku nggak bisa berhenti baca. Sebagai karya debut, novel ini mencuri perhatian. Penggemar bacaan thriller-misteri sebaiknya jangan melewatkan novel ini.

Baca juga : Resensi The Silent Patient (Pelukis Bisu)

2. Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 – Cho Nam-joo (Gramedia Pustaka Utama, 2019)

Kalau Amerika punya Hollywood, Asia punya Korea Selatan. Negeri Gingseng ini telah berhasil menyejajari Amerika memasarkan industri kreatifnya lewat Kpop dan Kdrama. Tapi siapa sangka, di balik kesuksesan itu–dilansir tirto id–Korea Selatan menduduki peringkat tertinggi ketimpangan gender di dunia (berdasarkan Laporan Pengembangan Manusia tahun 2018)

Fenomena diskriminasi perempuan Korea Selatan tersebut dipertontonkan secara gamblang dalam novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 karya Cho Nam-joo. Kim Ji-yeong adalah contoh perempuan yang merasakan ketimpangan gender akibat dari praktik patriarki yang mengakar kuat dalam masyarakat Korea.

Anak laki-laki memiliki keistimewaan di keluarga Korea. Ketika seorang ibu Korea melahirkan anak perempuan, si anak akan diperlakukan berbeda dengan saudara laki-lakinya. Nggak cuma di keluarga, perlakuan diskriminatif terhadap perempuan juga berlaku di sendi kehidupan lain seperti sekolah dan tempat kerja.

Novel ini adalah sebuah gambaran sisi lain Korea Selatan yang nggak diketahui oleh masyarakat luas karena kita mungkin sudah tenggelam dalam “Korean Wave”.

3. Think and Grow Rich – Napoleon Hill (Gramedia Pustaka Utama, 2019)

Napoleon Hill dianggap luas sebagai salah satu penulis bertema kesuksesan terhebat. Think and Grow Rich adalah bukunya yang paling terkenal dengan hasil penjualan jutaan kopi di seluruh dunia.

Buku Think and Grow Rich lahir berkat ide Andrew Carnegie. Ceritanya Hill ditantang Carnegie untuk menuliskan filosofi kesuksesan. Setelah kurang lebih 29 tahun mewawancarai banyak tokoh berpengaruh, akhirnya buku ini resmi terbit pada tahun 1937.

Buku ini banyak menginspirasi pernulis-penulis masa kini dalam menuliskan buku bertopik kesuksesan. Banyak kiat sukses yang tertulis di buku-buku bestseller lain berasal dari buku ini. Bisa dikatakan mustahil menemukan motivator yang sama sekali nggak terpengaruh oleh karya orang lain. Pengaruh buku ini bisa dijumpai dalam tulisan Angela Duckworth pada bukunya yang berjudul Grit. Prinsip-prinsip kepemimpinan yang digaungkan oleh Dale Carnegie idenya juga berasal dari karya Hill. Beberapa buku lain yang terinspirasi dari Think and Grow Rich misalnya The Answer karya Allan dan Barbara Pease dan  Atomic Habits karya James Clear.

Think and Grow Rich terbitan teranyar ini merupakan versi termutakhir dari buku yang terbit tahun 1937. Seiring dengan perkembangan zaman, buku ini turut menyesuaikan isinya dengan adanya materi tambahan dari The Napoleon Hill Foundation.

4. May – Sandi Firly (KataDepan, 2019)

Buat yang lagi pengen baca roman tapi nggak mau yang terlalu picisan, novel ini bisa jadi pilihan. Novel May mengangkat cerita lokal bersejarah di Banjarmasin tentang peristiwa berdarah tahun 1998 yang dikenal masyarakat setempat dengan “Jumat Kelabu.”

Tapi, jangan mengharapkan novel ini akan berkisah secara detail soal peristiwa berdarah tersebut. Pengarang nggak akan membawa pembaca ke dimensi itu terlampau jauh. Peristiwa Jumat Kelabu hanya disampaikan lewat pengalaman empat pengunjung tetap sebuah kedai lewat sudut pandang May, sang tokoh utama.

Yang aku suka dari novel May adalah, kadar romannya terasa pas, nggak lebai namun bisa menghadirkan percikan-percikan cinta yang wajar antara dua orang dewasa yang sedang dimabuk asmara.

Tokoh May dalam novel ini pun memiliki karakter yang kuat. May digambarkan sebagai gadis pelayan yang cerdas meskipun hanya lulusan SMP. Ia pelahap buku, tertutup, dan sukar ditebak. May nggak hanya memberikan kesan misterius, tapi ternyata juga manipulatif.

5. Life After Marriage: Nggak Drama, Nggak Bahagia – Winka Lusia (Laksana, 2020)

Aku sungguh beruntung mendapatkan buku ini lewat kerjasama, saat orang lain belum banyak membacanya. Mbak Tiwi dari Penerbit Diva Press menawariku untuk mengulas buku ini melalui pesan langsung di Instagram. Untungnya aku menerima tawaran ini. Kalau nggak, aku pasti akan menyesal karena sudah melewatkan buku bagus ini.

Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata pengarangnya. Winka Lusia (selanjutnya akan disebut Mbak Win) sendiri adalah nama pena dari seorang dokter yang saat ini sedang bekerja dan tinggal di luar negeri bersama suaminya.

Aku percaya setiap rumah tangga memiliki air matanya masing-masing. Nggak ada rumah tangga yang terbebas dari ujian. Dalam rumah tangga Mbak Win, ujian itu datangnya dari ibu mertua. Entah mengapa hubungan antara mantu perempuan dan ibu mertua jarang ada yang harmonis. Inilah yang terjadi di kehidupan rumah tangga Mbak Win dan suami. Dalam buku ini, Mbak Win bercerita betapa rumitnya sebuah hubungan segitiga antara dirinya, suami dan ibu mertua yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Karena berasal dari keluarga priyayi, praktik patriarki sangat kental di keluarga suami Mbak Win. Ibu mertua Mbak Win menganut paham kuno bahwa rumah tangga yang lazim dan ideal itu adalah perempuan memberikan servis terbaik untuk suami. Urusan domestik seperti mencuci, menyapu, mengepel dan sebagainya haram dikerjakan oleh suami. Fokus suami hanya mencari nafkah.

Tuntutan menjadi “istri yang baik” justru datang dari ibu mertua Mbak Win. Belum lagi, hubungan menantu-mertua ini pun kadang diwarnai kesalahpahaman. Kesalahan sepele yang harusnya bisa dimaafkan, bagi ibu mertuanya hal itu bisa ditafsirkan sebagai bentuk ketidakpatuhan yang pada akhirnya memicu ledakan emosi yang sulit dibendung. Apa yang diperbuat oleh mertua Mbak Win menghancurkan diri Mbak Win secara psikis, melemahkan rasa percara diri, merasa penuh dosa dan mengalami penurunan dalam menjalankan fungsi sehari-hari.

Sementara itu, Mbak Win nggak punya daya untuk membela diri  karena cara terbaik menghadapi ibu mertuanya adalah dengan diam. Sekali bersuara, tamat sudah riwayatmu. Kemudian aku baru tahu kondisi seperti ini disebut gaslighting.

Mengutip dari laman Wikipedia, gaslighting merujuk kepada salah satu bentuk penyiksaan secara psikologi (psikologis) yang terjadi dalam hubungan interpersonal, di mana penyiksa melemahkan rasa percaya diri korban dengan membuat mereka mempertanyakan ingatan, sudut pandang, atau kewarasan mereka. Dengan menggunakan penyangkalan yang berulang-ulang, manipulasi, kontradiksi, dan kebohongan, sang penyiksa berusaha untuk menggoyahkan kondisi psikologis korban dan melemahkan rasa percaya dirinya.

Aku begitu emosional saat membaca buku ini. Kisah nyata yang dibagikan Mbak Win ini mirip dengan kisah sinetron yang sering muncul di layar kaca. Cerita yang kukira hanya ada di sinetron ternyata benar-benar ada di kehidupan nyata.

6. Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan – Francine Jay (Gramedia Pustaka Utama, 2019)

Sejak kemunculan Marie Kondo dengan bukunya The Life-Changing Magic of Tidying Up tentang konsep beres-beres, buku lainnya yang bertema senada mulai membanjiri toko-toko buku. Maka saat ini gaya hidup minimalis–yaitu gerakan hidup baru yang mendorong orang mengurangi ikatan dengan harta benda—semakin diminati banyak orang.

Francine Jay mengklaim buku ini memiliki konsep yang berbeda dengan metode KonMari a la Marie Kondo. Apa bedanya? Buku ini adalah panduan hidup minimalis secara menyeluruh, yang membenahi aspek lahir dan batin. Buku ini lebih dari sekadar berbicara tentang membereskan barang. Buku ini ingin memperbaiki pikiran, tindakan, setiap momen dan aspek dalam hidup kita. Francine Jay menyebutnya sebagai “gaya hidup ringan”.

Ide-ide yang disampaikan Jay melalui buku ini mudah untuk diterapkan. Gaya hidup ringan mengajarkan kita sebuah “seni merasa cukup” dengan nggak terikat pada barang-barang duniawi karena semua kembali pada kebutuhan dasar. “Membereskan” isi jiwa juga diperlukan guna menyingkirkan beban emosional yang nggak perlu misalnya dengan mengurangi kesibukan dan meringankan jadwal yang memicu stres.

Buku ini cocok sekali dibaca pada masa karantina seperti ini. Setelah selesai membaca bukunya, kalian bisa langsung praktik beres-beres di rumah.


7. Babad Kopi Parahyangan – Evi Sri Rezeki (Marjin Kiri, 2020)

Saat ini kedai kopi tengah menjamur di mana-mana. Bahkan kedai kopi sudah merangsek sampai ke kampung dengan desain interior yang nggak kalah cakep a la kedai kopi premium. Tahukah bahwa kopi yang kita nikmati sekarang memiliki sejarah pahit, sepahit rasa kopi itu sendiri. Dulu kopi menjadi salah satu komoditi primadona yang disetarakan dengan emas. Selain rempah-rempah, kopi turut menjadi incaran kompeni sebagai alat untuk memperkaya diri.

Novel ini berkisah tentang Karim, putra Minang yang berambisi menjadi juragan kopi ternama. Untuk mewujudkan cita-citanya, ia pergi meninggalkan tanah leluhurnya menuju ke sarang mutiara hitam jauh di Tanah Parahyangan. Sampai di sana dia malah terperangkap dalam sebuah ironi kehidupan para penggarap tanaman kopi. Karim bergabung dengan para petani kopi, nggak pernah membayangkan akan menjadi budak di bawah kuasa mandor kopi pribumi bengis tiada ampun.

Babad Kopi Parahyangan nggak hanya menghadirkan sejarah kopi yang dituturkan lewat salah satu tokohnya. Novel ini juga memuat sejarah kemanusiaan di Parahyangan pada Masa Tanam Paksa. Ceritanya semakin seru karena pengarang memasukkan unsur laga dan kisah cinta malu-malu antara Karim dan Euis.

Novel sejarah kopi yang berlatar abad ke-18 dan 19 ini ditulis pengarang karena kecintaannya terhadap kopi. Novel ini menarik lantaran temanya kekinian mengingat saat ini kopi sudah “naik kelas” dengan ragam pilihan varian . Kopi yang dulu identik dengan minuman orang tua, kini minuman berkafein ini digemari oleh anak muda. Jadi, buat kalian pecinta kopi mungkin akan menyukai novel ini. Dibaca sambil menyesap secangkir kopi hangat dan sepiring camilan mungkin bisa menentramkan jiwa.

Itu tadi tujuh buku pilihan yang telah melewati proses kurasi yang cukup pelik. Semoga bermanfaat dan bisa dijadikan pilihan bacaan di tengah kondisi bumi yang sedang nggak sehat. Semoga pandemi ini segera berakhir dan kehidupan kembali normal.

Gimana, sudah memutuskan pengin baca yang mana dulu nih?

Published by fitriamayrani.reads

Tukang baca buku dan pemakan tekwan profesional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: