Bad Romance : Cerita Remaja Beraroma Lokal

Bad Romance

“Memang kalau punya pacar, apa manfaatnya menurut kamu?”  (Halaman 67)

***

Adithya Putra Ramdhani adalah remaja SMA yang tomboi. Ya, dia perempuan, bahkan cukup manis sebenarnya. Dia sangat membenci namanya. Dia yakin namanya ini sangat berpengaruh pada perilaku, kehidupan, dan juga problematika cintanya.

Adithya sangat ingin memiliki pacar karena ia sudah bosan dengan kehidupannya yang selalu disamakan dengan laki-laki. Dia ingin membuktikan kepada teman-temannya, juga kakak-kakaknya, kalau dia adalah perempuan tulen yang pantas mendapatkan pasangan.

Hopla! Dia melakukan berbagai cara jitu untuk tebar pesona. Betapa bahagianya ketika usaha-usahanya mulai menampakkan hasil, dia bahkan menjadi rebutan dua orang cowok sekaligus! Namun, sayang sekali ternyata dia harus mengakhiri semuanya karena…

Karena apaaaa???

Judul : Bad Romance : Aku Memilih Menjadi Jomblo (Lagi)
Penulis : E. Zazi
Editor : Herlina P. Dewi
Proofreader : Tikah Kumala
Cetakan : I, Juli 2013
Tebal : 254 Halaman
Penerbit : Stiletto
ISBN : 978-602-7572-16-4

***

Adithya Putra Ramdhani, kalau dilihat dari namanya sudah tentu itu nama cowok. Tapi rupanya nama itu milik seorang cewek. What? Iya, betul. Kalian tak salah baca. Adithya Putra Ramdhani diharapkan terlahir laki-laki. Orangtuanya sudah kadung memberikan nama itu karena hasil USG menunjukkan bayi mereka berjenis kelamin laki-laki.

Nama itu merepresentasikan keseharian Adith. Ia tumbuh sebagai gadis tomboi. Kelakuannya tak mencerminkan anak perempuan pada umumnya. Ia tak akrab dengan seperangkat alat make-up yang umumnya digandrungi oleh remaja seusianya. Untuk urusan asmara pun, Adith kalah telak. Boro-boro punya pacar, dekat dengan lawan jenis pun belum pernah. Beruntung Adith punya sahabat, Jepi namanya. Ibarat tong sampah, Jepi adalah orang yang mau menampung semua uneg-uneg yang dimuntahkan Adith.

Di sekolah, Adith tergolong siswi biasa-biasa saja. Prestasi akademiknya tidak begitu cemerlang. Menyoal prestasi sekolah, Adith tak terlalu mengejar target. Satu yang selalu membebani pikirannya: ia ingin punya pacar. Adith menyadari dirinya berbeda dengan teman perempuan di sekolahnya. Namun, cewek tomboi juga berhak jatuh cinta dan punya pasangan, bukan?

Berbicara soal remaja, memang tak lengkap bila tidak menyinggung soal asmara. Remaja dan asmara adalah satu paket yang diciptakan oleh fitrah yang dinamakan pubertas. Perasaan cinta dengan lawan jenis sulit untuk dihalau. Yang pernah remaja dulu pastinya bisa merasakan debaran cinta bilamana bertemu dengan seseorang yang namanya terpatri di hati. Adith, di masa remajanya ingin sekali mengecap manisnya asmara. Tapi Adith lupa, keinginannya ini hanyalah ego yang menguasai hatinya. Ia tak pernah memikirkan dampak yang terjadi akibat keinginan yang terlalu dipaksakan.

Adith berusaha keras agar perhatian para cowok tertuju padanya. Lewat bantuan Jepi, Adith mempraktikkan jurus-jurus (yang menurut Jepi) jitu. Tindakan Adith ini malah dianggap teman dan keluarganya aneh. Teman lain turut membantunya, kali ini teman sekelasnya, Lidya. Lidya terkenal punya banyak pacar. Adith iri, ia ingin seperti Lidya yang selalu menjadi rebutan para cowok. Lewat bantuan Lidya, Adith dekat dengan dua orang cowok. Adith girang bukan kepalang. Tapi karena belum pernah pacaran, Adith tak pernah berpikir bagaimana rasanya sakit hati. Ia abai pada kenyataan bahwa tak selamanya cinta seindah taman surga. Tapi setidaknya, Adith bahagia karena keinginan untuk mendapatkan pacar akhirnya terbayar. Jerih payahnya berbuah hasil.

Membaca novel ini membawa saya ke masa silam. Kemudian ia menghantarkan saya ke masa kini, melihat realita kehidupan remaja yang menghampar di depan mata. Novel ini memberikan petuah, memberikan pesan bagi sesiapa saja yang dengan sengaja atau tidak sengaja mencomot novel ini di deretan rak toko buku kemudian membacanya hingga khatam. Pesannya mengena, terlebih jika pesan itu ditujukan kepada para remaja.

Dari segi cerita, ini adalah cerita remaja yang biasa: remaja, sekolah, teman, dan cinta. Namun bolehlah saya sedikit memuji penulisnya. Sepanjang saya membaca teenlit, selalu saja berlatar tempat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali atau bahkan luar negeri. Di novel ini, kita akan menemukan Majalengka, kota kecil di Provinsi Jawa Barat sebagai latar tempatnya. Suatu hal yang cukup berani menghadirkan setting tempat yang berbeda. Yang saya suka lagi adalah kehidupan para tokohnya yang sederhana. Bisa dikatakan, penulis ingin menghadirkan cerita remaja ala kampung tetapi tidak kampungan. Dialog khas ala remaja masa kini ditambah dengan selipan bahasa lokal juga berhasil menghidupkan cerita. Terakhir, izinkan saya memberikan rating 3/5 untuk novel bercita rasa lokal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s