1984 : Melawan Kediktatoran

1984 George Orwell

Judul : 1984
Judul Asli : Nineteen Eighty-Four
Pengarang : George Orwell
Penerjemah : Landung Simatupang
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 390 Halaman
Cetakan : Pertama Edisi II, Februari 2014
ISBN : 978-602-291-003-9

Salah satu buku yang mendapat predikat 1001 Books You Must Read Before You Die. Novel ini berhasil meraup kesuksesan di zamannya, pun hingga kini. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1949. Meski sudah lawas, novel ini masih diburu oleh para penikmat buku di seluruh dunia. Penerbit pun masih ingin terus mencetak ulang karya George Orwell yang fenomenal ini.

Membaca novel ini jelang pilpres 2014. Novel ini berkisah tentang kediktaroran seorang penguasa pada suatu negara, Oceania namanya. Tema yang sangat pas untuk kondisi Indonesia saat ini yang tengah mempersiapkan pemimpin baru.

Kita tentu akan risih bila apa yang kita lakukan serba diawasi. di negara Oceania, setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan. Semua pengawasan ini dilakukan oleh alat yang dinamakan teleskrin. Kalau istilah zaman sekarang namanya CCTV (Close Circuit Television) atau Televisi Sirkuit Tertutup. Segala gerak-gerik/percakapan direkam dalam alat itu. Semua warga mutlak tunduk pada Big Brother, tidak boleh tidak, wajib hukumnya. Bila tidak, bersiap dengan segala bentuk siksaan. Semua warga juga harus setia pada partai. Tiga slogan partai :

PERANG IALAH DAMAI
KEBEBASAN IALAH PERBUDAKAN
KEBODOHAN IALAH KEKUATAN

Winston, tokoh utama dalam cerita ini, memiliki pemikiran yang tidak satu frekuensi dengan partainya. Kediktatoran pemimpin partai tersebut mengusik privasinya. Winston berusaha memberontak. Perkenalannya dengan Julia, gadis muda di Departemen Fiksi adalah pemicu semangatnya untuk melancarkan pemberontakannya. Winston dan Julia kerap kali bertemu dan merencanakan pertemuan lain di tempat tersembunyi. Winston dan Julia bertemu secara sembunyi-sembunyi agar bisa jauh dari pengawasan teleskrin dan Polisi Pikiran. Setidaknya, bersama Julia, Winston sedikit bisa mengelak dari dominasi kekuasaan Big Brother. Apakah Winston berhasil lepas dari kungkungan Big Brother yang senantiasa mengintainya dan warga?

“Tidak akan ada kesetiaan, kecuali kesetiaan kepada Partai. Tidak akan ada cinta, kecuali cinta kepada Bung Besar. Tidak akan ada ketawa, kecuali ketawa kemenangan atas lawan yang dikalahkan. Tidak akan ada seni, tidak ada kesusastraan, tidak ada sains. Ketika kami serbakuasa, kita tidak akan membutuhkan ilmu pengetahuan lagi.”
(Halaman 330)

“Tidak, Winston, kamu yang menjerumuskan diri sendiri menjadi seperti ini. inilah yang kamu dapat waktu kamu bertekad melawan Partai.”
(Halaman 337)

Membaca novel sulit sekali untuk tidak menepiskan bahwa saya sebetulnya sedang menonton reality show ‘Big Brother’ di sebuah stasiun televisi swasta beberapa tahun silam. Saya membayangkan kira-kira seperti itulah negara Oceania yang selalu diawasi selama 24 jam penuh. Untuk skala negara mungkin kita belum (semoga tidak) mengalaminya. Para kontestan ‘Big Brother’ sudah lebih dulu merasakan apa yang sudah ‘diramalkan’ Orwell pada tahun 1984. Kemudian saya berpikir, apa mungkin acara ‘Big Brother’ yang mendunia itu terinspirasi dari novel 1984 mengingat penggunaan nama bos dan mekanisme acaranya sama seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut?

Sebagaimana yang kita tahu, kediktatoran yang digambarkan dalam novel 1984 pernah terjadi di beberapa belahan negara di dunia, meskipun tidak sama persis dengan kejadian yang ada di novel. Kita tentu masih ingat dengan kediktaroran Adolf Hitler dengan Partai Nazi-nya di Jerman atau Benito Mussolini dengan paham fasisme di Italia. Bagaimana dengan Indonesia? Jangan pernah lupa bahwa kita pernah mengalami situasi ini selama lebih dari tiga dasawarsa. Rezim Soeharto yang berkuasa saat itu menyetir satu Partai yang selalu menang dalam setiap pemilihan umum. Dua partai lain, PPP dan PDI hanya menjadi simbolis belaka karena warga dipaksa memilih partai berlambang pohon beringin itu, sementara PPP dan PDI dipastikan kalah telak. Saya turut merasakan tidak enaknya rezim ini, walaupun saat itu saya masih kecil. Pada era itu tidak ada kebebasan berpendapat. Barang siapa yang mengkritisi pemerintah, pelakunya segera ditindak, penjara menunggu untuk dihuni. Kritik pada pemerintah datang dari banyak kalangan. Pun seniman turut ambil bagian mengkritik pemerintah lewat lagu-lagu. Sebut saja contohnya Iwan Fals dan Rhoma Irama. Salah satu lagu Iwan Fals yang menuai kontroversi pemerintah berjudul Bento – yang diinterpretasikan sebagai sindiran kepada salah satu keluarga Cendana.

Saya akui George Orwell adalah penulis brilian. Otaknya begitu canggih bisa kepikiran membuat cerita seperti ini. ‘Ramalan’ masa depannya soal teleskrin dan bahasa Newspeak di luar imajinasi, pikirannya maju jauh beberapa dekade dengan zaman lahirnya novel ini. Orwell ‘meramalkan’ kurang lebih seperti inilah kondisi perpolitikan dunia di masa yang akan datang. Sebuah negara atau bahkan dunia mungkin akan dikuasai oleh satu penguasa tunggal.

Novel ini bukan termasuk bacaan ringan. Saya terseok dengan jalan ceritanya yang agak rumit, namun saya yakin novel ini tetap akan menjadi salah satu buku yang wajib dibaca sepanjang hidup. Dan, novel ini diterjemahkan dengan sangat baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s