Bulan Terbelah di Langit Amerika : Mengenang Kembali Peristiwa Black Tuesday 9/11

IMG-20140612-00629

Meskipun sudah lama berlalu, peristiwa Black Tuesday masih terekam dalam ingatan kita. Amerika dan Islam, bak dua kutub yang tolak-menolak. Islam menjadi pesakitan, julukan teroris kemudian melekat bagi setiap penganutnya. Dunia seakan mengidap Islamophobia berjamaah. Penyakit itu menular dari satu negara ke negara lain. Dunia begitu sensitif dengan segala hal yang berbau Islam: lihat saja betapa ketatnya pemeriksaan di bagian imigrasi terhadap penumpang (yang dicurigai) beragama Islam (bisa dibaca di buku Berjalan di Atas Cahaya). Sementara itu muslimah dengan ketabahan sekokoh baja menahan amarah ketika diteriaki teroris lantaran mengenakan pakaian takwa. Belum lagi umat Islam harus mengurut dada atas penghinaan yang ditujukan kepada junjungan mereka Nabi Muhammad SAW. Di lain cerita ada kelompok mengaji yang aktivitas pengajiannya dicurigai sebagai bentuk perencanaan peledakan bom di sejumlah tempat. Islam divonis sebagai pihak yang bertanggung jawab atas segala bentuk terorisme yang terjadi di muka bumi. Muncul pertanyaan, Would the world be better without Islam? Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?

Judul : Bulan Terbelah di Langit Amerika

Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 344 Halaman

Tahun Terbit : 2014

ISBN : 978-602-03-0545-5

Cerita berawal ketika Hanum ditugaskan ke Amerika oleh bosnya. Gertrud Robinson adalah atasan Hanum pada surat kabar Austria bernama Heute ist Wunderbar, Today Is Wonderful, Hari Ini Luar Biasa. Gertrud menitahkan Hanum untuk menuliskan sebuah artikel luar biasa agar bisa mendongkrak oplah surat kabar tersebut yang terancam gulung tikar. Hanum merasa tema artikel yang diajukan Gertrud menyudutkan umat Islam. Alih-alih menolong, Hanum justru mengajukan nama rekannya yang lain untuk menuliskan artikel kontroversial tersebut. Namun Gerturd bersikukuh, Hanum adalah reporter yang tepat karena ia seorang muslim. Gertrud ingin seorang muslim yang menulisnya dengan objektif. Would the world be better without Islam? adalah artikel yang akan dituliskan Hanum.

“Terima kasih, Hanum. Aku bersyukur. Kau tahu, jika Jacob yang menulisnya, pernyataan itu jelas akan terjawab ‘ya’. Denganmu seorang muslim, aku masih berharap kau menjawab pertanyaan itu dengan ‘tidak’. Kau paham kan sekarang?”  (Halaman 51)

“Mereka ingin kita menulis artikel tentang semacam-ehm-kisah di balik tragedi 9/11. Karena kau muslim dan pelaku 9/11 itu terbukti muslim juga, koran ingin tahu persepsi orang muslim sekaligus nonmuslim tentang kejadian yang memilukan itu.”  (Halaman 51)

Orang menyebutnya serendipity- kebetulan yang menyenangkan. Ah, entahlah… ini sebuah kebetulan atau memang sudah diskenariokan oleh Tuhan. Hanum dan Rangga seolah diberi ‘tugas’ untuk sama-sama menjelajah dan menyibak kekuasaan Tuhan di bumi Amerika. Hanum bertugas mewawancarai korban 9/11 sedangkan Rangga ditugaskan oleh Reinhard untuk mempresentasikan papernya sekaligus menghadiri konferensi di Washington DC yang dihadiri oleh Phillipus Brown, seorang pebisnis yang tersohor berkat mendermakan hartanya pada anak-anak korban perang di Irak dan Afghanistan. Namun takdir berkata lain, Hanum dan Rangga terpisah di saat Hanum tengah mewawancarai seorang demonstran di lokasi Ground Zero. Ketika itu sedang berlangsung demonstrasi menentang pembangunan masjid di lokasi bekas peristiwa nahas Selasa pagi. Demonstrasi yang berlangsung damai seketika menjadi panas atas kehadiran kelompok provokator. Di tengah kecemasannya, seorang muslimah bernama Julia atau Azima mengajaknya menginap di rumahnya. Mereka berbincang, mencari tahu asal-usul masing-masing. Dari perbincangan itu diketahui bahwa Azima adalah salah satu korban 9/11. Suami Azima, Ibrahim tewas dalam peristiwa nahas pagi itu. Malam itu Hanum tak hanya mendengarkan cerita pilu Azima. Siapa sangka, dari informasi yang didapatnya dari Azima terbongkarlah sejarah Islam yang menghenyakkan bagi siapa saja yang membacanya.

“Siapa yang menyangka, Christophorus Columbus sebenarnya bukan penemu benua ini (Amerika), Hanum.”  (Halaman 131)

“Pada 1492, Columbus sempat mengira dia terdamar di India, ketika menemukan tanah tak bertuan ini. Dia kecele karena dunia baru yang baru saja dia temukan ternyata sudah berpenghuni. Orang-orang bertubuh tegap berbalut jubah, berhidung mancung, dan berkulit merah.” (Halaman 131-132)

“Dari mana datangnya orang-orang berhidung mancung dan berjubah itu?” tanyaku. (Halaman 132) “Sampai saat ini masih terdapat perdebatan dari mana datangnya orang penduduk asli Amerika, kaum Indian itu. Namun ada yang menarik, sebuah prasasti yang ditulis di China pada akhir abad ke-12 mengatakan bahwa musafir-musafir muslim dari tanah China, Eropa, dan Afrika telah berlayar jauh sampai ke benua ini. Tiga ratus tahun sebelum Columbus.” (Halaman 132)

“Jefferson (Thomas Jefferson, presiden Amerika Serikat ke-3) juga mahir berbahasa Arab,” (Halaman 145)

“Kau tahu dia punya Al-Quran?”  (Halaman 145)

“Ya, Jefferson mempunyai Al-Quran. Seperti punyamu.”  (Halaman 145)

Apa?! Ini adalah penggambaran vulgar Nabi Muhammad di atas gedung pengadilan Mahkamah Agung Amerika Serikat!”  (Halaman 206)

Aku melihat foto kliping Universitas Harvard yang begitu megah akan ketenarannya menghasilkan intelektual-intelektual bertaraf dunia. Foto itu diambil dari salah satu pintu gerbang fakultasnya. Fakultas Hukum. Tapi, mengapa foto itu memuat salah satu dinding berukiran inskripsi Al-Quran? (Halaman 207)

“Ini adalah pahatan nukilan Al-Quran tentang kehebatan ajaran keadilan sebagai supremasi hukum manusia. Surat An-Nisaa’ ayat 135.”  (Halaman 207)

Di lain tempat, Rangga masih menyimpan kegelisahannya akan Hanum. Istri yang ia cintai tak juga memberikan kabar. Di tempat konverensi, Rangga berhasil bertemu dan berbicara empat mata dengan pebisnis dermawan itu, Phillipus Brown. Dari perbincangan inilah semua kesaksian dan teka-teki yang selama delapan tahun ini tersimpan, semuanya akan tersingkap dan akan menjalin cerita yang tak akan disangka-sangka. Dan apakah pertanyaan Would the world be better without Islam? akan menemukan jawabannya?

Sungguh penulis sangat pandai merajut cerita ini. Bisa dikatakan ini novel Islami. Namun novel ini tidak selevel dengan novel Islami kebanyakan yang mengedepankan kesalehan tokoh utamanya. Juga bukan tipe novel yang semua tokohnya alim pemburu surga. Justru di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur bagaimana mencintai dien ini secara kaffah. Novel ini dibangun dengan konsep serendipity-serba kebetulan yang mengindahkan ceritanya. Berbeda dengan ‘kakak-kakak’nya terdahulu (99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya) yang didasarkan pada cerita nyata, sementara Bulan Terbelah di Langit Amerika merupakan perpaduan antara berbagai dimensi genre buku (drama, fakta sejarah dan ilmiah, traveling, spiritual, serta fiksi). Kesan ini kemudian saya rasakan tatkala halaman buku yang saya baca semakin menebal. Sepertinya penulis memang sengaja mendandani cerita yang serba kebetulan ini menjadi sebuah cerita yang ciamik dan mengejutkan pembacanya.

Dalam novel ini saya menandai beberapa narasi yang mungkin bisa menjadi renungan kita bersama.

Bahwa meskipun sudah blakblakan membuka rahasia kesuksesan, mereka sadar bahwa tak akan ada orang yang bisa menjiplak perjalanan hidup. Seperti halnya dua buah pohon yang sejenis, dipupuk, disiram, dan diperlakukan sama persis, toh tetap menyisakan pertanyaan: Mengapa yang satu berbuah sementara yang satu tidak? Yang satu tumbuh subur bahkan menggerus yang satu lagi hingga kering kerontang. Kesuksesan, sekali lagi, adalah soal relativitas pemandangnya. (Halaman 22)

“Mr. Mahendra, aku punya alasan tersendiri mengapa aku menjadi filantropi. Aku berutang budi pada seseorang yang telah menyelamatkan jiwaku. Mengajariku ikhlas dan berbuat baik tanpa pamrih.”  (Halaman 199)

“Betapa kekayaan justru membuat kita makin kikir dan tak pernah bisa hidup tenang. Dulu saya mengira seseorang bisa gila jika di dompetnya tak ada uang sepeser pun. Tapi ternyata terlalu banyak uang pun bisa membuat kita gila.”  (Halaman 213)

14 thoughts on “Bulan Terbelah di Langit Amerika : Mengenang Kembali Peristiwa Black Tuesday 9/11

  1. Sya berhrp akn punya ksmptan untuk mmbca novel islam ini.,saya ingin mrsakn pertualangan hnum dan rangga di negara liberty,,sungguh,,
    NMER HP SAYA 085207465431

  2. Sy temen Mbak Hanum di FB. Bukunya emang beda dari buku2 islami lain yg hanya berkisah seputar cinta religi poligami dll. Film 99cdle juga menurut saya salahs atu film bertema Islam yg paling keren dan berani tdk mengambil kisah cinta.

  3. subahanallah buku2 karya mbak hanum sangat inspiratif dn menyentuh hati,, semoga buku ini biisa di film kan juga .

  4. Setuju ama Mba Astri.. sy melihat Mba Hanum membuat terobosan cerita yg menggugah tanpa harus menggembeli cerita dgn kisah seputar cinta segitiga atau rebutan cowok super alim dan ganteng tiada duanya oleh cewe cewe yg saling sikut sikutan trus ntar akhirnya gitu dehh hehe.. Hanum jg berani mengambil judul tanpa ada kata CINTA yang lalu digabungkan sama kata kata yg berunsur ISLAMI misal : Ayat ayat Cinta, Ketika Cinta bertasbih, Mihrab Cinta, Marifat Cinta, Zahrana Cinta, Ketika Tuhan jatuh Cinta, Bumi Cinta, Cinta ku dan Sujudku, Sajadah Cinta, Bismilah kumeminangmu, Alhamdulilah aku mencintaimu, bl;a bl;aaa dan sederet kata kata yg dekat dgn islamic words lalu digabung ama kata kata asmara. Sy udah boseeennn sebosen bosennya. Pas baca BTDLA, saya langsung kagum sama penulisnya… PEREMPUAN!!! Novel ini seharusnya ditulis seorang PRIA. Hanum emang ditemenin Rangga, tp kerasa banget tulisan Hanum nya kental sekali karna saya baca bukunya Berjalan di Atas Cinta eh salah kan Cahaya maksudnya. Hanum memang tidak pandai berpuitis dalam cerita. Tp gila ide ide nya kayak beneran ngerasa cerita yg dia ceritakan semua beneran tejadi. Efeknya air mata mbleber kemana mana masih kerasa mpe sekarang. Sy rasa buku buku Islami kayak gini harus makin diperbanyak. Harapan saya Hanum dan Rangga nulis titik titik dilangit INDONESIA. Jgn luar negri mulu lahhh hehehe

    • Jujur saja, saya baru sekali nonton film Islami di bioskop. Itu pun atas desakan seorang teman. Pada dasarnya saya kurang menyenangi film Islami bertema cinta sih. Hehehehe. Betul, saya juga merasa boseeeeeeennn sama film-film Islami sejenis. Alhamdulillah, Mbak Hanum bisa menggebrak perfilman Indonesia dengan mengusung tema yang antimainstream.

  5. Novel yg bnr2 bagus, seandainya sy punya 10 jempol akn sy ksh dech…hehehe…yg plg mengharukan ktk Mr.brown menceritakn bgm dia bs slmt dr tragedi dahsyat 11/9,,,

  6. Subhanallah, semoga buku “Bulan Terbelah di Langit Amerika” dapat bermanfaat bagi si pembaca. sukses terus buat mbak Hanum Salsabiela Rais dan kak Rangga Almahendra🙂
    Semoga mbak Hanum Salsabiela Rais dan kak Rangga Almahendra dapat menerbitkan buku yang bernuansa islami lagi. Sukses selalu ya.

  7. Halo STB. Saya belum baca buku ini. Tapi kalau STB tertarik dengan yang berbau 9/11, mungkin bisa cek ke situs zeitgeistmovie, ada film yang bisa diunduh gratis. Salam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s