Hujan Daun-daun : Mencari Keping Puzzle yang Hilang

Hujan Daun-daun

Hujan Daun-daun merupakan salah satu (dari tiga) novel estafet besutan tiga penulis muda berbakat, yakni Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, dan Putra Zaman. Ketiganya adalah penulis yang lolos seleksi dalam program Gramedia Writing Project untuk kategori novel remaja yang diselenggarakan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Menulis secara bergantian atau estafet sejujurnya tidaklah mudah. Menyatukan ide, mengeksekusi plot, mengawinkan gaya bahasa diperlukan kecermatan. Beruntungnya, perbedaan gaya meulis antara ketiganya tak terlihat kentara sehingga menjadikan novel ini enak dibaca.

Novel ini dibuka dengan adegan ketika Tania, tokoh utama novel ini, bermimpi bermain petak umpet bersama seorang gadis kecil seusianya. Gadis kecil yang tak ia kenali itu terus merasuk ke dalam mimpinya secara berulang-ulang. Mimpi ini membuat Tania dihantui rasa penasaran, siapa gadis kecil yang ada dalam mimpinya? Apakah peristiwa ini sekadar bunga mimpi atau sebuah petunjuk yang akan menguak cerita masa lalunya?

Tania adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama kakek dan neneknya. Berdasarkan cerita kakek dan neneknya, orangtua Tania sudah meninggal ketika dia masih bayi. Tania memercayai kisah tersebut tanpa kecurigaan sampai akhirnya mimpi itu datang, rasa penasaran Tania terhadap jati diri orangtuanya memenuhi pikirannya. Tania merasa, ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakek dan neneknya mengenai orangtuanya. Tania semakin tahu bahwa kakek dan neneknya sengaja menutupi cerita sebenarnya agar Tania tidak terus bertanya tentang orangtuanya.

Tania mungkin tak menyangka bahwa rasa penasaran terhadap kisah orangtuanya akan terjawab secepat ini. Adalah Meilia Sasmita Wibowo, istri kedua ayah Tania, Alex Wibowo, yang tak sengaja ia temui di kampusnya membeberkan fakta yang selanjutnya akan membawa cerita novel ini semakin menarik dan mendebarkan. Semua fakta dan rasa penasarannya terkuak oleh penuturan Meilia. Tania sadar bahwa selama ini memang ada cerita kelam yang tak ingin disampaikan kakek dan neneknya kepada Tania. Lewat cerita Meilia, Tania mengetahui semua cerita tanpa melewatkan satu episode pun. Secara perlahan Tania mulai menata kembali puzzle hidupnya yang berantakan. Tak hanya menatanya, Tania juga menemukan kepingan puzzle yang lain yang dicarinya selama dua puluh tahun. Judul novel ini menjadi benang merah yang memberikan nyawa pada ceritanya.

Berbicara soal kekurangan, jelas novel ini memilikinya. Misalnya saja ketidakkonsistenan penggunaan kata “nggak” dan “tidak”. Pada narasi awal, di cerita menggunakan kata “tidak” tetapi semakin jauh halaman, ada kejanggalan ketika saya menemukan kata “nggak” pada narasi yang saya baca. Bukan hanya itu, karakter nenek dan kakek saya nilai kurang bijaksana jika ukuran/patokan seorang nenek atau kakek adalah orang tua berumur di atas 50 tahun, beruban, dan memiliki pengalaman hidup yang mumpuni. Saya ingin mengkomparasi ini dengan tokoh Pak Tua yang diceritakan oleh Tere Liye dalam novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah atau tokoh tua yang lain seperti Opa dalam serial Negeri Para Bedebah. Kontras sekali dengan kakek dan nenek yang diceritakan dalam novel ini. Saya mengira mungkin ini faktor usia ketiga penulis yang cenderung masih muda. Berbeda dengan Tere Liye yang memang sudah senior dan punya segudang pengalaman menulis. Tapi setidaknya, editor bisa mengatur sedemikian rupa agar percakapan janggal antara kakek nenek dan Tania tidak terjadi.

Saya menyukai bagian di mana romansa antara Tania dan Adrian tidak begitu dibuat picisan. Tapi saya merasa kok sepertinya cerita cinta ini hanya dibuat sekadarnya saja. Cerita mereka ada di awal-awal bab, semakin ke tengah cerita itu menghilang kemudian tiba-tiba muncul lagi di akhir cerita.

Apakah saya suka dengan novel ini? Saya jawab, ya! Saya memang tak memberikan ekspektasi yang berlebihan terhadap novel ini hanya karena salah satu penulisnya adalah teman saya. Sejauh ini saya menikmati Hujan Daun-daun dan menyandingkannya dengan secangkir teh hangat dan pisang goreng di sore.

Informasi buku

Judul : Hujan Daun-daun
Penulis : Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, Putra Zaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Halaman : 248
Cetakan ke- : I, April 2008
Target : Remaja
ISBN 978-602-03-0376-5

7 thoughts on “Hujan Daun-daun : Mencari Keping Puzzle yang Hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s