1984 : Melawan Kediktatoran

1984 George Orwell

Judul : 1984
Judul Asli : Nineteen Eighty-Four
Pengarang : George Orwell
Penerjemah : Landung Simatupang
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 390 Halaman
Cetakan : Pertama Edisi II, Februari 2014
ISBN : 978-602-291-003-9

Salah satu buku yang mendapat predikat 1001 Books You Must Read Before You Die. Novel ini berhasil meraup kesuksesan di zamannya, pun hingga kini. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1949. Meski sudah lawas, novel ini masih diburu oleh para penikmat buku di seluruh dunia. Penerbit pun masih ingin terus mencetak ulang karya George Orwell yang fenomenal ini.

Membaca novel ini jelang pilpres 2014. Novel ini berkisah tentang kediktaroran seorang penguasa pada suatu negara, Oceania namanya. Tema yang sangat pas untuk kondisi Indonesia saat ini yang tengah mempersiapkan pemimpin baru.

Kita tentu akan risih bila apa yang kita lakukan serba diawasi. di negara Oceania, setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan. Semua pengawasan ini dilakukan oleh alat yang dinamakan teleskrin. Kalau istilah zaman sekarang namanya CCTV (Close Circuit Television) atau Televisi Sirkuit Tertutup. Segala gerak-gerik/percakapan direkam dalam alat itu. Semua warga mutlak tunduk pada Big Brother, tidak boleh tidak, wajib hukumnya. Bila tidak, bersiap dengan segala bentuk siksaan. Semua warga juga harus setia pada partai. Tiga slogan partai :

PERANG IALAH DAMAI
KEBEBASAN IALAH PERBUDAKAN
KEBODOHAN IALAH KEKUATAN

Winston, tokoh utama dalam cerita ini, memiliki pemikiran yang tidak satu frekuensi dengan partainya. Kediktatoran pemimpin partai tersebut mengusik privasinya. Winston berusaha memberontak. Perkenalannya dengan Julia, gadis muda di Departemen Fiksi adalah pemicu semangatnya untuk melancarkan pemberontakannya. Winston dan Julia kerap kali bertemu dan merencanakan pertemuan lain di tempat tersembunyi. Winston dan Julia bertemu secara sembunyi-sembunyi agar bisa jauh dari pengawasan teleskrin dan Polisi Pikiran. Setidaknya, bersama Julia, Winston sedikit bisa mengelak dari dominasi kekuasaan Big Brother. Apakah Winston berhasil lepas dari kungkungan Big Brother yang senantiasa mengintainya dan warga?

“Tidak akan ada kesetiaan, kecuali kesetiaan kepada Partai. Tidak akan ada cinta, kecuali cinta kepada Bung Besar. Tidak akan ada ketawa, kecuali ketawa kemenangan atas lawan yang dikalahkan. Tidak akan ada seni, tidak ada kesusastraan, tidak ada sains. Ketika kami serbakuasa, kita tidak akan membutuhkan ilmu pengetahuan lagi.”
(Halaman 330)

“Tidak, Winston, kamu yang menjerumuskan diri sendiri menjadi seperti ini. inilah yang kamu dapat waktu kamu bertekad melawan Partai.”
(Halaman 337)

Membaca novel sulit sekali untuk tidak menepiskan bahwa saya sebetulnya sedang menonton reality show ‘Big Brother’ di sebuah stasiun televisi swasta beberapa tahun silam. Saya membayangkan kira-kira seperti itulah negara Oceania yang selalu diawasi selama 24 jam penuh. Untuk skala negara mungkin kita belum (semoga tidak) mengalaminya. Para kontestan ‘Big Brother’ sudah lebih dulu merasakan apa yang sudah ‘diramalkan’ Orwell pada tahun 1984. Kemudian saya berpikir, apa mungkin acara ‘Big Brother’ yang mendunia itu terinspirasi dari novel 1984 mengingat penggunaan nama bos dan mekanisme acaranya sama seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut?

Sebagaimana yang kita tahu, kediktatoran yang digambarkan dalam novel 1984 pernah terjadi di beberapa belahan negara di dunia, meskipun tidak sama persis dengan kejadian yang ada di novel. Kita tentu masih ingat dengan kediktaroran Adolf Hitler dengan Partai Nazi-nya di Jerman atau Benito Mussolini dengan paham fasisme di Italia. Bagaimana dengan Indonesia? Jangan pernah lupa bahwa kita pernah mengalami situasi ini selama lebih dari tiga dasawarsa. Rezim Soeharto yang berkuasa saat itu menyetir satu Partai yang selalu menang dalam setiap pemilihan umum. Dua partai lain, PPP dan PDI hanya menjadi simbolis belaka karena warga dipaksa memilih partai berlambang pohon beringin itu, sementara PPP dan PDI dipastikan kalah telak. Saya turut merasakan tidak enaknya rezim ini, walaupun saat itu saya masih kecil. Pada era itu tidak ada kebebasan berpendapat. Barang siapa yang mengkritisi pemerintah, pelakunya segera ditindak, penjara menunggu untuk dihuni. Kritik pada pemerintah datang dari banyak kalangan. Pun seniman turut ambil bagian mengkritik pemerintah lewat lagu-lagu. Sebut saja contohnya Iwan Fals dan Rhoma Irama. Salah satu lagu Iwan Fals yang menuai kontroversi pemerintah berjudul Bento – yang diinterpretasikan sebagai sindiran kepada salah satu keluarga Cendana.

Saya akui George Orwell adalah penulis brilian. Otaknya begitu canggih bisa kepikiran membuat cerita seperti ini. ‘Ramalan’ masa depannya soal teleskrin dan bahasa Newspeak di luar imajinasi, pikirannya maju jauh beberapa dekade dengan zaman lahirnya novel ini. Orwell ‘meramalkan’ kurang lebih seperti inilah kondisi perpolitikan dunia di masa yang akan datang. Sebuah negara atau bahkan dunia mungkin akan dikuasai oleh satu penguasa tunggal.

Novel ini bukan termasuk bacaan ringan. Saya terseok dengan jalan ceritanya yang agak rumit, namun saya yakin novel ini tetap akan menjadi salah satu buku yang wajib dibaca sepanjang hidup. Dan, novel ini diterjemahkan dengan sangat baik.

Advertisements

Bulan Terbelah di Langit Amerika : Mengenang Kembali Peristiwa Black Tuesday 9/11

IMG-20140612-00629

Meskipun sudah lama berlalu, peristiwa Black Tuesday masih terekam dalam ingatan kita. Amerika dan Islam, bak dua kutub yang tolak-menolak. Islam menjadi pesakitan, julukan teroris kemudian melekat bagi setiap penganutnya. Dunia seakan mengidap Islamophobia berjamaah. Penyakit itu menular dari satu negara ke negara lain. Dunia begitu sensitif dengan segala hal yang berbau Islam: lihat saja betapa ketatnya pemeriksaan di bagian imigrasi terhadap penumpang (yang dicurigai) beragama Islam (bisa dibaca di buku Berjalan di Atas Cahaya). Sementara itu muslimah dengan ketabahan sekokoh baja menahan amarah ketika diteriaki teroris lantaran mengenakan pakaian takwa. Belum lagi umat Islam harus mengurut dada atas penghinaan yang ditujukan kepada junjungan mereka Nabi Muhammad SAW. Di lain cerita ada kelompok mengaji yang aktivitas pengajiannya dicurigai sebagai bentuk perencanaan peledakan bom di sejumlah tempat. Islam divonis sebagai pihak yang bertanggung jawab atas segala bentuk terorisme yang terjadi di muka bumi. Muncul pertanyaan, Would the world be better without Islam? Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?

Judul : Bulan Terbelah di Langit Amerika

Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 344 Halaman

Tahun Terbit : 2014

ISBN : 978-602-03-0545-5

Cerita berawal ketika Hanum ditugaskan ke Amerika oleh bosnya. Gertrud Robinson adalah atasan Hanum pada surat kabar Austria bernama Heute ist Wunderbar, Today Is Wonderful, Hari Ini Luar Biasa. Gertrud menitahkan Hanum untuk menuliskan sebuah artikel luar biasa agar bisa mendongkrak oplah surat kabar tersebut yang terancam gulung tikar. Hanum merasa tema artikel yang diajukan Gertrud menyudutkan umat Islam. Alih-alih menolong, Hanum justru mengajukan nama rekannya yang lain untuk menuliskan artikel kontroversial tersebut. Namun Gerturd bersikukuh, Hanum adalah reporter yang tepat karena ia seorang muslim. Gertrud ingin seorang muslim yang menulisnya dengan objektif. Would the world be better without Islam? adalah artikel yang akan dituliskan Hanum.

“Terima kasih, Hanum. Aku bersyukur. Kau tahu, jika Jacob yang menulisnya, pernyataan itu jelas akan terjawab ‘ya’. Denganmu seorang muslim, aku masih berharap kau menjawab pertanyaan itu dengan ‘tidak’. Kau paham kan sekarang?”  (Halaman 51)

“Mereka ingin kita menulis artikel tentang semacam-ehm-kisah di balik tragedi 9/11. Karena kau muslim dan pelaku 9/11 itu terbukti muslim juga, koran ingin tahu persepsi orang muslim sekaligus nonmuslim tentang kejadian yang memilukan itu.”  (Halaman 51)

Orang menyebutnya serendipity- kebetulan yang menyenangkan. Ah, entahlah… ini sebuah kebetulan atau memang sudah diskenariokan oleh Tuhan. Hanum dan Rangga seolah diberi ‘tugas’ untuk sama-sama menjelajah dan menyibak kekuasaan Tuhan di bumi Amerika. Hanum bertugas mewawancarai korban 9/11 sedangkan Rangga ditugaskan oleh Reinhard untuk mempresentasikan papernya sekaligus menghadiri konferensi di Washington DC yang dihadiri oleh Phillipus Brown, seorang pebisnis yang tersohor berkat mendermakan hartanya pada anak-anak korban perang di Irak dan Afghanistan. Namun takdir berkata lain, Hanum dan Rangga terpisah di saat Hanum tengah mewawancarai seorang demonstran di lokasi Ground Zero. Ketika itu sedang berlangsung demonstrasi menentang pembangunan masjid di lokasi bekas peristiwa nahas Selasa pagi. Demonstrasi yang berlangsung damai seketika menjadi panas atas kehadiran kelompok provokator. Di tengah kecemasannya, seorang muslimah bernama Julia atau Azima mengajaknya menginap di rumahnya. Mereka berbincang, mencari tahu asal-usul masing-masing. Dari perbincangan itu diketahui bahwa Azima adalah salah satu korban 9/11. Suami Azima, Ibrahim tewas dalam peristiwa nahas pagi itu. Malam itu Hanum tak hanya mendengarkan cerita pilu Azima. Siapa sangka, dari informasi yang didapatnya dari Azima terbongkarlah sejarah Islam yang menghenyakkan bagi siapa saja yang membacanya.

“Siapa yang menyangka, Christophorus Columbus sebenarnya bukan penemu benua ini (Amerika), Hanum.”  (Halaman 131)

“Pada 1492, Columbus sempat mengira dia terdamar di India, ketika menemukan tanah tak bertuan ini. Dia kecele karena dunia baru yang baru saja dia temukan ternyata sudah berpenghuni. Orang-orang bertubuh tegap berbalut jubah, berhidung mancung, dan berkulit merah.” (Halaman 131-132)

“Dari mana datangnya orang-orang berhidung mancung dan berjubah itu?” tanyaku. (Halaman 132) “Sampai saat ini masih terdapat perdebatan dari mana datangnya orang penduduk asli Amerika, kaum Indian itu. Namun ada yang menarik, sebuah prasasti yang ditulis di China pada akhir abad ke-12 mengatakan bahwa musafir-musafir muslim dari tanah China, Eropa, dan Afrika telah berlayar jauh sampai ke benua ini. Tiga ratus tahun sebelum Columbus.” (Halaman 132)

“Jefferson (Thomas Jefferson, presiden Amerika Serikat ke-3) juga mahir berbahasa Arab,” (Halaman 145)

“Kau tahu dia punya Al-Quran?”  (Halaman 145)

“Ya, Jefferson mempunyai Al-Quran. Seperti punyamu.”  (Halaman 145)

Apa?! Ini adalah penggambaran vulgar Nabi Muhammad di atas gedung pengadilan Mahkamah Agung Amerika Serikat!”  (Halaman 206)

Aku melihat foto kliping Universitas Harvard yang begitu megah akan ketenarannya menghasilkan intelektual-intelektual bertaraf dunia. Foto itu diambil dari salah satu pintu gerbang fakultasnya. Fakultas Hukum. Tapi, mengapa foto itu memuat salah satu dinding berukiran inskripsi Al-Quran? (Halaman 207)

“Ini adalah pahatan nukilan Al-Quran tentang kehebatan ajaran keadilan sebagai supremasi hukum manusia. Surat An-Nisaa’ ayat 135.”  (Halaman 207)

Di lain tempat, Rangga masih menyimpan kegelisahannya akan Hanum. Istri yang ia cintai tak juga memberikan kabar. Di tempat konverensi, Rangga berhasil bertemu dan berbicara empat mata dengan pebisnis dermawan itu, Phillipus Brown. Dari perbincangan inilah semua kesaksian dan teka-teki yang selama delapan tahun ini tersimpan, semuanya akan tersingkap dan akan menjalin cerita yang tak akan disangka-sangka. Dan apakah pertanyaan Would the world be better without Islam? akan menemukan jawabannya?

Sungguh penulis sangat pandai merajut cerita ini. Bisa dikatakan ini novel Islami. Namun novel ini tidak selevel dengan novel Islami kebanyakan yang mengedepankan kesalehan tokoh utamanya. Juga bukan tipe novel yang semua tokohnya alim pemburu surga. Justru di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur bagaimana mencintai dien ini secara kaffah. Novel ini dibangun dengan konsep serendipity-serba kebetulan yang mengindahkan ceritanya. Berbeda dengan ‘kakak-kakak’nya terdahulu (99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya) yang didasarkan pada cerita nyata, sementara Bulan Terbelah di Langit Amerika merupakan perpaduan antara berbagai dimensi genre buku (drama, fakta sejarah dan ilmiah, traveling, spiritual, serta fiksi). Kesan ini kemudian saya rasakan tatkala halaman buku yang saya baca semakin menebal. Sepertinya penulis memang sengaja mendandani cerita yang serba kebetulan ini menjadi sebuah cerita yang ciamik dan mengejutkan pembacanya.

Dalam novel ini saya menandai beberapa narasi yang mungkin bisa menjadi renungan kita bersama.

Bahwa meskipun sudah blakblakan membuka rahasia kesuksesan, mereka sadar bahwa tak akan ada orang yang bisa menjiplak perjalanan hidup. Seperti halnya dua buah pohon yang sejenis, dipupuk, disiram, dan diperlakukan sama persis, toh tetap menyisakan pertanyaan: Mengapa yang satu berbuah sementara yang satu tidak? Yang satu tumbuh subur bahkan menggerus yang satu lagi hingga kering kerontang. Kesuksesan, sekali lagi, adalah soal relativitas pemandangnya. (Halaman 22)

“Mr. Mahendra, aku punya alasan tersendiri mengapa aku menjadi filantropi. Aku berutang budi pada seseorang yang telah menyelamatkan jiwaku. Mengajariku ikhlas dan berbuat baik tanpa pamrih.”  (Halaman 199)

“Betapa kekayaan justru membuat kita makin kikir dan tak pernah bisa hidup tenang. Dulu saya mengira seseorang bisa gila jika di dompetnya tak ada uang sepeser pun. Tapi ternyata terlalu banyak uang pun bisa membuat kita gila.”  (Halaman 213)

Mellow Yellow Drama : Tentang Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan

IMG-20140606-00628

“Saat Tuhan memberikan tugas yang besar kepada seseorang, tekadnya akan diuji terlebih dahulu dengan kesulitan, otot dan tulangnya diuji dengan kelelahan, tubuhnya dengan kelaparan serta kekosongan.” (Halaman 123-124)

Jatuh cinta pada lawan jenis kemudian patah hati adalah hal yang biasa. Tapi bagaimana bila kau jatuh cinta pada negaramu namun ia tak membalas cintamu? Bagaimana perasaanmu, apakah kau akan beremigrasi ke negara lain dan menjadi warga negara tersebut? Akankah kau tetap mencintai tanah airmu walaupun kau tahu betapa sakit hatinya kau karena cintamu bertepuk sebelah tangan? Apa kau yakin cintamu tak akan pudar sedikit atas penolakan ini? Apakah kau…..? Ah, sudahlah! Ada baiknya kita simak cerita Audrey yang jelas-jelas patah hati karena saking cintanya kepada Indonesia.

Maria Audrey Lukito yang kemudian berganti nama menjadi Audrey Yu Jia Hui adalah salah satu pemudi yang memiliki kecintaan membuncah kepada tanah air, Indonesia. Dari namanya saja kita sudah bisa memastikan bahwa Audrey adalah keturunan etnis Tionghoa dan bukan masyarakat (asli) pribumi. Audrey adalah salah satu anak paling membanggakan karena prestasinya yang gilang-gemilang. Bayangkan saja, di usianya 16 tahun dia sudah lulus kuliah dengan predikat summa cum laude. Audrey memang terlahir jenius. Kejeniusannya ini mengantarkannya ke College of William and Marry, Virginia, USA di usia belia yaitu 13 tahun.

Menjadi jenius seharusnya bisa membuat seseorang terbang sampai langit ke tujuh. Namun Audrey tak pernah merasa demikian. Audrey dianggap aneh oleh papa dan mamanya. Papa Audrey seorang pebisnis sukses dengan kekayaan melimpah. Papa dan mama Audrey menginginkan agar ia mengikuti jejak papanya menjadi pebisnis atau bekerja di perusahaan beken dengan gaji setinggi angkasa. Harapan orangtua Audrey sangat beralasan mengingat Audrey lulusan luar negeri dan jenius pula. Namun keinginan orangtua Audrey sangat berseberangan dengan hati nuraninya. Audrey ingin berkontribusi untuk bangsa ini. Tentangan dari orangtua menciutkan nyalinya.

Aku gembira bukan kepalang. Inilah saatnya mempraktikkan ilmuku dan membantu masyarakat di Tanah Air-ku yang dirundung masalah kemiskinan dan ketidakadilan. Orangtuaku merasa kegiatanku di LSM tidak ada gunanya. Bukan hanya tidak berguna, melainkan juga berbahaya (halaman 87).

Sesungguhnya, harapan Papa dan Mama bertolak belakang dengan cita-citaku. Semakin aku meyakinkan obsesiku, semakin mereka marah besar. Mereka menyesal sudah “membuang uang” menyekolahkanku di Amerika. Hasilnya tetap dapat anak yang kerjanya “bikin pusing”, “bodoh”, dan “susah diatur” (halaman 88).

Atau lihat reaksi orangtua Audrey mengenai keinginannya untuk menulis buku.

“Kalau kamu nulis buku mau jadi apa? Kamu semula punya masa depan cerah. Mengapa sekarang pemikiranmu aneh? Apa kamu mau menyia-nyiakan masa depanmu sendiri?” (halaman 95)

Audrey mencintai Indonesia juga sangat menjunjung tinggi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Sayangnya kecintaan terhadap negara ini dianggap tidak pantas karena ia orang Tionghoa.

Pernah suatu kali, seorang teman sekolah bilang kepadaku, “Walaupun kamu pintar, kamu tetap bukan orang Indonesia asli. Negara ini milik orang-orang seperti aku.” (halaman 61)

Di Indonesia, cita-citanya dianggap tidak masuk akal. Orang terdekatnya malah menjatuhkan apa yang menjadi impiannya. Sementara itu perlakuan yang ia dapatkan dari teman-teman kampus dan profesornya justru semakin memantik semangat patriotiknya untuk Indonesia.

Setiap kuberi tahu seseorang tentang impianku bagi negaraku, aku tidak pernah diejek atau dihina sebagai keturunan Tionghoa. Di Amerika, aku melihat diriku bukan sebagai gadis kecil, melainkan sebagai seorang patriot, seorang tentara, dan duta besar bagi Indonesia (halaman 74).

Cinta yang tak berbalas ini menjerat pikiran dan kesehatan Audrey. Orangtuanya pergi ke banyak konselor, ahli terapi, psikolog, dan psikiater. Audrey menjalani hidup tanpa makna. Obat dan antidepresan dijajal demi kesembuhan. Di tengah kegalauan hatinya, Audrey menemukan seorang sahabat yang pada akhirnya mengubah paradigma dan sudut pandangnya.

Apa yang menjadi impian dan cita-cita Audrey mungkin bisa jadi adalah impian dan cita-cita kita juga di masa mendatang untuk Tanah Air kita. Lantas apa impian Audrey untuk bangsa ini?

Aku bermimpi bahwa suatu hari banyak orang di Indonesia-ku yang tecinta akan menjalankan prinsip-prinsip Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Aku bermimpi bahwa suatu hari para pemimpin negara kita akan meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Aku bermimpi pada suatu hari perempuan Indonesia akan menatap cermin dan berhenti mengharapkan kulit mereka lebih putih, hidung mereka lebih mancung, atau mata mereka lebih besar. Aku bermimpi bahwa suatu hari mereka akan bangga dengan apa yang Tuhan anugerahkan dan bukannya terus berharap untuk meniru orang Barat dengan cara apapun.

Aku bermimpi bahwa keturunan Tionghoa di negaraku akan memperbaiki permadani kami yang tercabik. Aku bermimpi suatu hari setiap orang Indonesia keturunan Tionghoa akan bangga memiliki nama Mandarin, bisa berbicara bahasa Mandarin dengan fasih, tetapi tetap setia secara politik pada prinsip-prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Aku bermimpi bahwa kita akan dihargai dan dihormati di seluruh Nusantara karena memiliki nama Mandarin, sebaik kita mempraktikkan bahasa dan budaya Tionghoa kita, bukannya dianggap tidak patriot, aneh, atau kuno.

Akub bermimpi bahwa suatu hari akan banyak perpustakaan umum yang berkualitas baik di Indonesia, yang memiliki koleksi buku-buku berkualitas baik dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, dan berbagai bahasa daerah.

Aku bermimpi bahwa suatu hari banyak perempuan Indonesia akan lebih suka membaca buku-buku sastra daripada membuka-buka majalah mode. Aku bermimpi bahwa suatu hari aka nada banyak took buku bahasa Mandarin dan Inggris yang berkualitas baik di Indonesia sehingga orang-orang sepertiku tidak perlu terus pergi ke luar negeri untuk membeli buku dan melakukan riset kami.

Aku bermimpi bahwa suatu hari orang Indonesia akan bangga atas budaya nenek moyangnya, tetapi tetap bersatu dalam kesetiaan pada bangsa dan gagasan luhur bangsa kita. Aku bermimpi bahwa sebagai ganti kita terus bertengkar satu sama lain atas hak-hak individu, kita akan sangat mencintai bangsa dan rekan-rekan sebangsa dan se-Tanah Air sehingga akan menjadi sebuah kehormatan untuk menghargai meraka yang berbeda perasaan atau berpendapat.

Aku bermimpi bahwa suatu hari mereka yang sungguh-sungguh mencintai Indonesia dan rakyat Indonesia tidak akan menjalani hidup yang demikian sulit, diejek tidak realistis oleh orang banyak, dan diserang dari banyak pihak. Aku bermimpi bahwa suatu hari aka nada tempat bagi orang sepertiku dan anak-anak Indonesia yang berbakat tak perlu menderita seperti aku.

Bisa dikatakan, buku ini adalah curahan hati Audrey atas rasa patah hatinya terhadap Indonesia. Sama halnya ketika kita patah hati, kita pasti memiliki kecenderungan untuk curhat pada diari atau menuliskan puisi guna menumpahkan kekacauan yang ada di dalam hati dan pikiran. Bagi saya ini wujud patah hati yang positif. Lewat buku yang ditulis Audrey ini, saya berharap bisa menambah kecintaan kita terhadap bangsa dan Tanah Air kita, tempat kita lahir dan mengambil segala sumber daya yang ada di bumi Indonesia. Gadis keturunan Tionghoa macam Audrey saja berani mengakui kecintaannya yang sangat mendalam pada bangsa ini, lalu bagaimana dengan kita penduduk pribumi yang sedari dulu kala mendiami nusantara ini? Apakah kita (MASIH) gengsi mengakui rasa cinta itu?

Keterangan buku

Judul : Mellow Yellow Drama
Penulis : Audrey Yu Jia Hui
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal Halaman : 242 Halaman
Cetakan ke- : 1, Mei 2014
ISBN : 978-602-291-032-9

Hujan Daun-daun : Mencari Keping Puzzle yang Hilang

Hujan Daun-daun

Hujan Daun-daun merupakan salah satu (dari tiga) novel estafet besutan tiga penulis muda berbakat, yakni Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, dan Putra Zaman. Ketiganya adalah penulis yang lolos seleksi dalam program Gramedia Writing Project untuk kategori novel remaja yang diselenggarakan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Menulis secara bergantian atau estafet sejujurnya tidaklah mudah. Menyatukan ide, mengeksekusi plot, mengawinkan gaya bahasa diperlukan kecermatan. Beruntungnya, perbedaan gaya meulis antara ketiganya tak terlihat kentara sehingga menjadikan novel ini enak dibaca.

Novel ini dibuka dengan adegan ketika Tania, tokoh utama novel ini, bermimpi bermain petak umpet bersama seorang gadis kecil seusianya. Gadis kecil yang tak ia kenali itu terus merasuk ke dalam mimpinya secara berulang-ulang. Mimpi ini membuat Tania dihantui rasa penasaran, siapa gadis kecil yang ada dalam mimpinya? Apakah peristiwa ini sekadar bunga mimpi atau sebuah petunjuk yang akan menguak cerita masa lalunya?

Tania adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama kakek dan neneknya. Berdasarkan cerita kakek dan neneknya, orangtua Tania sudah meninggal ketika dia masih bayi. Tania memercayai kisah tersebut tanpa kecurigaan sampai akhirnya mimpi itu datang, rasa penasaran Tania terhadap jati diri orangtuanya memenuhi pikirannya. Tania merasa, ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakek dan neneknya mengenai orangtuanya. Tania semakin tahu bahwa kakek dan neneknya sengaja menutupi cerita sebenarnya agar Tania tidak terus bertanya tentang orangtuanya.

Tania mungkin tak menyangka bahwa rasa penasaran terhadap kisah orangtuanya akan terjawab secepat ini. Adalah Meilia Sasmita Wibowo, istri kedua ayah Tania, Alex Wibowo, yang tak sengaja ia temui di kampusnya membeberkan fakta yang selanjutnya akan membawa cerita novel ini semakin menarik dan mendebarkan. Semua fakta dan rasa penasarannya terkuak oleh penuturan Meilia. Tania sadar bahwa selama ini memang ada cerita kelam yang tak ingin disampaikan kakek dan neneknya kepada Tania. Lewat cerita Meilia, Tania mengetahui semua cerita tanpa melewatkan satu episode pun. Secara perlahan Tania mulai menata kembali puzzle hidupnya yang berantakan. Tak hanya menatanya, Tania juga menemukan kepingan puzzle yang lain yang dicarinya selama dua puluh tahun. Judul novel ini menjadi benang merah yang memberikan nyawa pada ceritanya.

Berbicara soal kekurangan, jelas novel ini memilikinya. Misalnya saja ketidakkonsistenan penggunaan kata “nggak” dan “tidak”. Pada narasi awal, di cerita menggunakan kata “tidak” tetapi semakin jauh halaman, ada kejanggalan ketika saya menemukan kata “nggak” pada narasi yang saya baca. Bukan hanya itu, karakter nenek dan kakek saya nilai kurang bijaksana jika ukuran/patokan seorang nenek atau kakek adalah orang tua berumur di atas 50 tahun, beruban, dan memiliki pengalaman hidup yang mumpuni. Saya ingin mengkomparasi ini dengan tokoh Pak Tua yang diceritakan oleh Tere Liye dalam novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah atau tokoh tua yang lain seperti Opa dalam serial Negeri Para Bedebah. Kontras sekali dengan kakek dan nenek yang diceritakan dalam novel ini. Saya mengira mungkin ini faktor usia ketiga penulis yang cenderung masih muda. Berbeda dengan Tere Liye yang memang sudah senior dan punya segudang pengalaman menulis. Tapi setidaknya, editor bisa mengatur sedemikian rupa agar percakapan janggal antara kakek nenek dan Tania tidak terjadi.

Saya menyukai bagian di mana romansa antara Tania dan Adrian tidak begitu dibuat picisan. Tapi saya merasa kok sepertinya cerita cinta ini hanya dibuat sekadarnya saja. Cerita mereka ada di awal-awal bab, semakin ke tengah cerita itu menghilang kemudian tiba-tiba muncul lagi di akhir cerita.

Apakah saya suka dengan novel ini? Saya jawab, ya! Saya memang tak memberikan ekspektasi yang berlebihan terhadap novel ini hanya karena salah satu penulisnya adalah teman saya. Sejauh ini saya menikmati Hujan Daun-daun dan menyandingkannya dengan secangkir teh hangat dan pisang goreng di sore.

Informasi buku

Judul : Hujan Daun-daun
Penulis : Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, Putra Zaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Halaman : 248
Cetakan ke- : I, April 2008
Target : Remaja
ISBN 978-602-03-0376-5