Mendekap Rasa

Image

Judul                                     : Mendekap Rasa

Penulis                                 : Aditia Yudis & Ifnur Hikmah

Pnenerbit                            : Bukune

Jumlah Halaman               : 394 Halaman

Cetakan                               : I, Januari 2013

ISBN                                      : 978-602-220-091-8

“Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku.” (Dewa)

Apakah memang CINTA adalah modal utama dalam menjalin suatu hubungan (terlebih dalam rumah tangga)? Apakah bisa sebuah hubungan bertahan jika salah satu pihak atau keduanya tak pernah saling cinta? Pernahkah terbesit dalam pikiran, apakah pasangan kita benar-benar mencintai, atau sebaliknya apakah kita sudah benar-benar mencintai pasangan kita. Jangan-jangan dia (atau kita sendiri) hanya pelarian karena memang sebetulnya tak ada rasa cinta di hatinya. Kemudian menjadikan hubungan ini hanya sebagai status belaka tersebab gagal move on dari pasangan sebelumnya. Nah!

Dalam urusan asmara, Carissa dan Mike memiliki kesamaan di masa lalu. Keduanya ditinggalkan pasangan masing-masing jelang hari bahagia. Pasca ditinggalkan tunangannya, Carissa menganggap laki-laki yang masuk ke dalam hidupnya sekedar momen selintas saja tanpa harus dikenang. I am number one, adalah jargon hidup Carrisa, termasuk dalam hal percintaan, dialah yang selalu mencampakkan setiap laki-laki yang dipacarinya.

Rama, mantan tunangan Carissa membatalkan rencana pernikahan mereka setelah mengetahui tak ada cinta di hati Carissa.

“Bagiku, terlalu mengada-ada dengan ungkapan cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Bagiku harus ada cinta atau setidaknya rasa sayang sebelum kita berani melangkah lebih jauh. Pernikahan memerlukan fondasi yang kuat, dan itu yang tidak kita miliki.” Itu kata-kata Rama, dulu. (Halaman 206)

Sementara Mike putus dengan tunangannya, Amelia, tersebab Mike ketahuan menghamili perempuan lain. Carissa dan Mike dikenalkan oleh mantan pacar Carissa, Narendra. Singkatnya, Carissa dan Mike memutuskan untuk berkencan.

Pernahkah mengalami ketika kita sangat mencintai seseorang, orang itu malah mencintai orang lain dan bukan kita? Bagaimana rasanya? Pilu. Ya. Okelah, anggap saja ini karma. Dulu Carissa pernah tidak mencintai Rama, tapi kini keadaannya berbalik. Mike, lelaki yang sangat dicintai Carrisa lebih memilih terjebak nostalgia dengan mantan tunangannya. Sementara Mike sama sekali tidak mencintai Carrisa.

Membaca novel ini saya suka sekaligus sebal. Suka karena dua penulis ini menciptakan konflik antartokoh yang begitu kuat hingga akhir cerita. Saya rasa konflik antartokohnya pas dan tidak berlebihan. Pun saya suka tatkala penulis memisahkan POV Carissa dan Mike di bagian tersendiri. Ini memudahkan pembaca agar tidak bingung dalam setiap pergantian POV. Sebalnya saya sama novel ini subjektif. Alamak, saya paling tidak suka jika sudah berkomitmen, pasangan saya masih memikirkan wanita lain terlebih dia adalah mantan pacar atau wanita yang dulunya pernah disukai oleh pasangan saya. Saya geram dengan Mike yang gagal move, gagal bangkit dari masa lalu. Sementara Carrisa dengan segala cara berusaha menjadi seseorang yang layak dicintai Mike. Saya juga geram dengan tokoh Carrisa yang kekanakan dan tidak sopan. Padahal kalau dilihat dari umurnya, Carrisa bisa dikatakan sepuh yaitu sudah kepala tiga. Simaklah apa yang dia ucapkan pada saat perjamuan makan di rumah kerabat Mike :

“Hari gini masih berkutat di dapur? Mana sempat. Lagian ya, ngapain coba sekolah tinggi-tinggi kalau cuma bakalan berakhir di dapur.”

Dalam novel ini terdapat beberapa typo. Tidak banyak jumlahnya namun cukup disayangkan. Dan yang saya ingin keluhkan adalah penggunaan font yang tidak bisa dibaca. Font seperti ini saya rasa sangat mengganggu. Ini contohnya :

Image

Image

Well, kembali ke pertanyaan awal, “Apakah memang CINTA adalah modal utama dalam menjalin suatu hubungan (terlebih dalam rumah tangga)?” Untuk jawabannya, saya mengutip pernyataan Ustaz Moh. Fauzil Adhim dalam cuitannya di Twitter. “Apakah cinta itu bekal penting menikah? Tidak. Betapa banyak yang menikah dengan berbekal niat lurus dan tujuan besar, tanpa saling cinta.”

Beberapa kutipan :

“Perempuan yang bisa masak pada zaman kayak sekarang jauh lebih hebat. Langka.” (Halaman 47)

“Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan. Berhari-hari bersamanya, menghabiskan waktu demi waktu dalam kemanjaan dan pertengkaran kecil, serasa menjadi oksigen baru dalam hidupku. Mungkin, baru sebentar kami saling mengenal, tetapi tidak kumengerti mengapa aku rela memberikan hati dan hidupku untuknya.” (Halaman 59)

“Saat kamu berada di samping orang yang tepat, pikiran dan hatimu sejalan.” (Halaman 67)

“Tapi, katanya cinta itu bisa tumbuh. Lo hanya perlu percaya dan mengikhlaskan cinta itu untuk hadir.” (Halaman 349)

“Aku ingin berakhir bersama pria yang kucintai.” (Halaman 390)

2 thoughts on “Mendekap Rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s