Jalan Kepiting – Umar Fauzi Ballah

Image

Judul : Jalan Kepiting | Jenis : Himpunan Puisi |Penulis : Umar Fauzi Ballah | Editor : Mardi Luhung 

Penerbit : Amper Media | Cetakan : Pertama, Januari 2012 | ISBN : 978-602-9415-32-2 | Rating Pribadi : 4 of 5

Sabtu sore yang sumpek karena kena macet di seputaran kampus UNSRI Bukit sehabis mengikuti seminar parenting bersama seorang rekan. Saya begitu lelah, selain macet saya juga harus berdesak-desakan di dalam Trans Musi yang akan mengantarkan saya pulang ke rumah. Sampai di rumah, saya masuk lewat pintu dapur. Saat itu mata saya langsung terpana pada selembar amplop cokelat yang diletakkan di atas meja belajar adik saya. Sejurus kemudian saya ambil amplop itu untuk mencari tahu nama pengirimnya. Di situ tertulis Umar Fauzi Ballah, bukan nama yang asing, beliau adalah penyair dan esais muda asal Sampang, Madura. Amplop cokelat itu berisi sebuah buku himpunan syair beliau yang berjudul Jalan Kepiting.

Saya kenal secara pribadi dengan penyair ini, meski belum sekali pun bertemu dan bertatap muka langsung. Mendapatkan buku ini secara cuma-cuma dari penyairnya langsung adalah suatu kehormatan, plus dengan bubuhan tanda tangan dan sebaris pesan manis dari sang penyair. Lalu bagaimana buku ini bisa sampai ke tangan saya? Berawal dari diskusi kecil kami di BBM beberapa waktu lalu. Saat itu saya sedang membicarakan proyek Malam Puisi di Palembang bersama rekan penulis pada akhir bulan September ini. Saya kebetulan mendapat jatah membacakan dua buah puisi. Otak saya memberikan respon cepat, tercetuslah keinginan untuk membawakan puisi beliau di acara Malam Puisi tersebut. Mas Fauzi dengan ‘kerelaannya’ memberikan buku ini dengan catatan bahwa saya (berjanji) kudu, wajib, harus membacakan puisi beliau pada Malam Puisi nanti sebagai balas jasa saya atas kiriman buku puisi ini.

Saya sempat stalking di internet untuk mencari tahu rekam jejak Mas Fauzi dalam dunia kesusasteraan. Hasilnya menakjubkan, penyair asal Sampang ini bisa dibilang bukan orang sembarangan. Esainya sudah banyak dimuat di media massa lokal maupun nasional. Sudah menghasilkan beberapa buku kumpulan puisi (seingat saya ada dua, bisa jadi lebih) dan juga seringkali diundang dalam event-event sastra. Terakhir mengikuti Temu Sastrawan Indonesia IV, di Ternate (informasi ini saya dapatkan dari Mas Indrian Koto setelah saya menunjukkan foto Mas Fauzi bersama Om Afrizal Malna). Saya yakin Mas Fauzi bukanlah orang baru dalam dunia sastra. Keseniorannya memang belum bisa disejajarkan dengan Joko Pinurbo atau pun Mardi Luhung (yaela, beda angkatan juga kali, Ran :P). Tapi bicara soal profesionalisme, beliau tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sebagai penikmat sastra, saya selalu menjadikan puisi sebagai bacaan favorit. Saya terpesona pada rangkaian kata yang membentuknya menjadi kalimat puitik nan indah. Sedap dibaca. Tak jarang karena bahasa yang melangit itu membuat dahi saya berkerut, menerka-nerka apa gerangan makna tersirat dalam puisi yang sedang saya baca. Maklum saja, mayoritas puisi kita abstrak. Saya akui, puisi buatan penyair jauh lebih sukar dipahami (maknanya) ketimbang puisi yang dikarang oleh penulis pada umumnya yang cenderung mudah ditafsirkan maknanya.

Terlepas dari sosok Mas Fauzi sebagai teman saya dan bagaimana saya berkenalan dengan beliau, setelah mendapatkan buku ini dan membacanya, saya langsung terpikat dengan puisi-puisinya. Lihat saja pada halaman tiga, puisi dengan judul Talak dengan Hujan (yang kemudian saya curigai sebagai pengalaman pribadi penulisnya :P); tentang cinta, perempuan, dan kepasrahan.

-yang tidak mengharapkan aku datang sendirian

pun yang memintaku tidak hadir rombongan

………………………………………………………………………

penglihatanmu adalah mata kaum pendoa:

menunduk atau memilih mendongak.

sedang aku, pelamun yang tidak memahami cara kau bertutur

tentang cita-cita palsu yang dibasahi hujan.

……………………………………………………………………

aku mengira kau menerima semua tanpa persoalan

seperti kerap kukunjungi rumah ibadahmu dalam kesunyian

tetapi ini adalah cinta yang datang tiba-tiba

seperti hujan dan banjir yang tidak bisa kau terima

……………………………………………………………………

(Talak dengan Hujan, halaman 3-4)   

 Simak pula puisi dengan judul Petak (halaman 44) yang masih menceritakan tentang (pencarian) cinta :

aku jadi! maka akulah yang akan mencari teman-temanku yang

berlari ke sana, tak mau ke sini. tapi aku menanti saja. seperti

penantian kekasih yang tercuri hatinya. ya, sebenarnya aku ingin

mencari hati saja, yang ke sana dan ke mari pernah menziarahi

tubuhku

…………………………………………………………………………………………………..

Seperti kebanyakan penyair, Mas Fauzi menulis juga tentang badan meski tidak menjadi pusat perhatian. Lihat saja dalam puisinya yang berjudul Rumah Kabut (halaman 5) atau dalam puisi Menyusuri Kabut (halaman 8). Di sisi lain, ada kalanya saya tergelitik, terlebih ketika membaca “dari mana datangnya basah. dari desah yang terus di asah. dari mana datangnya ludah. dari lidah yang berkelu kesah.” Puisinya yang lain mengisyaratkan kematian, misalnya pada Karam (halaman 29). 

Bagi saya, puisi yang baik adalah yang benar-benar meninggalkan torehan yang mendalam serta menjejakkan kata-kata yang tak pernah mati dalam ingatan. Ya, puisi yang baik itu melekat pada hati dan pikiran pembacanya. Meski tidak semua puisi Mas Fauzi saya ingat satu-satu, namun puisi Talak dengan Hujan menjadi perhatian saya. Terlepas dari apapun cerita yang melatarinya, saya rasa ini adalah puisi Mas Fauzi yang paling menohok. Seperti sebuah dejavu yang menari-nari dalam ingatan saya.

Jumlah halaman yang relatif sedikit menjadi kelemahan buku puisi ini. Bayangkan, hanya terdiri dari 46 halaman sehingga bisa dibaca dalam tempo waktu yang sangat singkat. Saya sendiri hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit untuk melahap buku setipis ini. Harapan saya bisa lebih intim dengan buku ini andaikata Mas Fauzi bisa membuatnya sedikit lebih tebal.

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya – Dewi Kharisma Michellia

 

Image

 

Judul: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Penulis: Dewi Kharisma Michellia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 240 Halaman

ISBN: 978-979-22-9640-2

Rating Pribadi: 4/5

Status: Pinjam @poetrazaman

Kau tahu mengapa ketika lahir kita tidak langsung menjadi diri kita yang sekarang? Kau harus melalui sekian proses untuk menjadi seseorang  dengan karakter tertentu dan bahkan terus berkembang tanpa henti. Makanan yang kau konsumsi dan kegiatan fisik yang kaulakukan hingga hari ini menentukan  bagaimana penampilan fisikmu. Orang-orang yang kau temui memengaruhi gaya berpakaianmu, caramu berinterkasi, hingga pola pikirmu. (halaman 200)

Kasih tak sampai. Itulah kesan pertama saya setelah menamatkan novel ini. Tokoh sentral, yang kemudian saya menyebutnya Nyonya Alien adalah seorang wanita lajang usia empat puluhan, yang masih mencintai teman masa kecilnya, yang ia sebut sebagai Tuan Alien. Lewat surat panjang ini, Nyonya Alien menjabarkan isi hatinya bahwa cinta yang dulu mereka ikrarkan tak pernah lekang dalam kenangannya. Sampai suatu hari, berita tentang pernikahan Tuan Alien sampai ke telinganya.

Kumpulan surat ini terindikasi sebagai curhat yang ditujukan kepada Tuan Alien pasca mereka terpisah. Buntelan surat tersebut berisi ragam hal. Mulai dari cerita keluarga Nyonya Alien; tentang Ayah dan Ibunya yang berbeda agama. Diceritakan pula bagaimana Nyonya Alien menjalani kehidupan pribadinya; tentang profesinya sebagai jurnalis, kuliah yang tidak selesai, tentang buku-buku bacaannya, dan perkenalannya dengan seorang penjual buku baik hati yang ternyata gay. Tentang kisah cintanya yang kandas dengan seorang seniman. Dan tentang penyakit yang menggerogoti fisiknya.

Surat panjang ini semacam surat perpisahan kepada Tuan Alien. Belum lagi kondisi kesehatan Nyonya Alien yang semakin hari semakin memburuk yang seolah menjadi pertanda bahwa umurnya tak panjang lagi. Ia ingin mengucapkan selamat tinggal saja pada cinta yang tak pernah dimilikinya. “Tahun lalu aku mendapat kutipan yang sangat bagus dari film yang kutonton. Wong Kar Wai seolah-olah menciptakab My Blueberry Nights khusus untukku. Sedikit banyak ia merefleksikan apa yang aku rasakan saat ini. how do you say goodbye to someoneyou can’t imagine living without? I didn’t say goodbye, I didn’t say anything, I just walked away. Aku tak pernah menyangka aku akan menghiupi kutipan film itu untuk kehidupan nayataku”, (halaman 187).        

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya adalah novel unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012. Namun sayangnya, tidak ada dialog antartokoh di dalamnya, hanya berisi narasi si tokoh utama. Saya adalah tipe pembaca yang tidak begitu menyukai novel jenis ini. Betapa membosankan membaca novel tanpa sebaris dialog pun. Ketiadaan dialog menurut saya menjadi kelemahan suatu novel karena dengan adanya dialog menjadikan cerita lebih hidup. Namun anehnya, saya kok berhasil menuntaskan novel setebal 240 halaman ini, ya? Oke, abaikan ketidaksukaan saya terhadap absennya dialog di novel ini. Karena ini surat maka saya memakluminya. Saya suka diksinya; oke. Saya suka tokoh Nyonya Alien, suka pake banget. Bukan tokoh dengan karakter malaikat yang mendominasi cerita picisan. Nyonya Alien mempunyai karakter yang kuat, ya tentu saja, karena dari awal sampai akhir penulis menggunakan POV 1. Sosok Nyonya Alien ini terkesan urakan dan semau gue. Nyonya Alien digambarkan sebagai sosok yang kelam, jalan hidupnya muram, dan kurang beruntung dalam urusan asmara. Penulis laksana pendongeng ulung. Saya menikmati halaman demi halaman yang seolah-olah dibisikkan cerita oleh si penulis. Semua tokoh dalam novel ini tak bernama. Kita akan menemui sederet nama seperti Tuan Alien, Gadis Berliontin Naga, dan Tuan Pemilik Toko Buku.

Dewi Kharisma Michellia, di usianya yang masih cukup muda (lebih muda beberapa tahun dari saya :berasatua:) termasuk penulis yang cukup berani menyempilkan vulgarisme (mudah-mudahan istilahnya bener nih :D) dalam tulisannya. Saya kaget mendapati tulisan yang sedemikian dewasa itu. Entahlah. Apa memang itu tulisan Michlle sendiri ataukah kerjaan editor. Yaa tapi itu sah-sah saja.