Review : Hawa

 18167648

“Kurasa Tuhan menciptakan kamu agar manusia-manusia yang melihatmu sadar bahwa selain senja ada keindahan lain di semesta ini, yaitu kamu…” bisik Landu (halaman 213)

Hawa telah menyusun rapi jadwal pre-weddingnya bersama Abhirama di Bali. Menjelang hari H, Abhirama membatalkannya karena alasan pekerjaan. Merasa tidak dianggap penting, akhirnya Hawa memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahannya dengan Abhirama secara sepihak. Undangan sudah dicetak dan persiapan pernikahan hampir rampung.

Karena merasa kecewa, marah dan malu, Hawa beserta ayah dan adiknya pindah ke pedalaman Kalimantan Barat, ke rumah omanya di desa Sejiram, tanpa sepengetahuan Abhirama. Di desa ini, Hawa kembali terkenang masa kecilnya, membangkitkan kenangan akan almarhumah ibunya.  Di tempat ini Hawa mengurung diri, menjalani hidup seperti zombie, meratapi kegagalan pernikahannya.

Namun siapa sangka, di desa ini juga tempatnya menemukan cinta. Landu, seorang polisi yang bertugas di Kapuas Hulu, mampu membuatnya kembali merasakan cinta dan berhasil mengembalikan hari-harinya yang sendu menjadi penuh gairah. Di saat yang sama, Abhirama berhasil menemukan tempat persembunyian Hawa di desa Sejiram dan memohon pada Hawa untuk kembali padanya. Hati siapa yang dipilih Hawa?

Amore ketiga yang saya baca. Sejujurnya saya sempat kecewa membaca novel jenis ini karena sewaktu pertama kali membaca Amore, saya mendapati jalan cerita yang menurut saya buruk sekali. Lantas saya berikrar untuk tidak akan membaca Amore di kemudian hari. Namun seorang teman di Goodreads menyarankan untuk membaca Amore karya Mbak Rina Suryakusumah. Saya memutuskan untuk membaca Amore lagi dan secara kebetulan Amore yang dimaksud sedang didiskon 40%. Langsung saya bawa ke kasir dengan pertimbangan kalau pun Amore ini tidak sesuai ekspektasi saya setidaknya harganya yang murah bisa menjadi obat kekecewaan saya. Bahahahak😀

Tepat bulan lalu, novel ini rilis. Saya akan membacanya dengan segenap harapan akan sebagus Amore karya Mbak Rina yang sebelumnya saya baca. Oh ya, Amore : Hawa karya Riani Kasih ini merupakan pemenang kedua Lomba Penulisan Novel Amore 2012, juga merupakan pertimbangan kuat saya kembali membaca Amore untuk ketiga kalinya. Dengan asumsi bahwa, novel dengan label ‘pemenang lomba’ akan lebih memicu rasa penasaran pembaca terhadap cerita yang dikemas, apakah memang sesuai dengan gelar juara yang disematkan.

Sudah tiga novel Amore yang dibaca, apakah saya menyukai jenis novel ini? Sejujurnya iya, tapi bukan genre yang terfavorit. Saya hanya membaca genre ini sesekali saja kalau lagi kepengin baca atau ada teman yang merekomendasikan.

Secara keseluruhan saya menyukai ide ceritanya. Ditambah lagi dengan latar tempat pedesaan pedalaman Kalimantan Barat yang sangat jarang dieksplor oleh kebanyakan penulis. Yang saya tahu, Amore merupakan adaptasi Harlequin versi Indonesia. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Goodreads, karakteristik yang melekat pada Harlequin adalah penggunaan latar tempat yang eksotis. Dan itu terdapat pada novel ini. Sunset dan sunrise di Sejiram, Danau Sentarum, Sungai Kapuas, semuanya bisa saya visualisasikan di kepala.

Saya suka kisah romansa Hawa dan Landu. Perjumpaan yang tidak disengaja namun cukup membuat hati sebal tetapi berakhir manis dan berhasil bikin saya cemburu. Kesan pertama yang menyebalkan itu sepertinya menjadi top rank para penulis mempertemukan jodoh para tokohnya. Lihat saja Tita dan Jodik dalam My Partner. Tita yang sebal sama Jodik karena mengganggap rancangan kolam buatan Jodik tidak berkelas. Adalagi Fedrian dan Syiana dalam Restart. Syiana yang saat itu sedang duduk di meja bar, diusik oleh kegaduhan Ferian dan temannya yang berujung beradu mulut. Atau kisah Keke dan Wim dalam Simply Love, lewat tragedi ketidaksengajaan Wim menumpahkan es campur ke rambut Keke.

Tapi di sini saya agak kurang suka sama nasib tokoh utamanya. Mengapa nasibnya dibuat tragis sekali meski akhirnya Hawa dan Landu hidup bahagia. Lalu di bagian 2 novel ini, saya merasa ceritanya dibuat terlalu terburu-baru, lho kok tiba-tiba jadinya seperti ini? Rupanya di bagian ini yang teman saya sempat bilang  “belum matang”. Lalu soal typo, saya menemukan beberapa kata yang salah cetak. Dua, tiga, atau lebih saya kurang begitu ingat.

Rating : 3 of 5

“Ikuti kata hati sajalah. Hati selalu bisa memandang lebih jelas ketimbang mata.”

Judul                                     : Hawa

Penulis                                  : Riani Kasih

Penerbit                                : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman                  : 256 Halaman

Cetakan ke-                          : I, Juli 2013

ISBN                                      : 978-979-22-9759-1

Harga                                    : Rp43.000,00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s