Review Buku Fade In Fade Out

Judul : Fade In Fade OutImage

Pengarang : WiwienWintarto

Jumlah Halaman : 328 Halaman

Tahun Rilis : Maret, 2013

ISBN : 978-979-22-9374-6

Penerbit : GramediaPustakaUtama

Rating Pribadi : 3/5

 

 

Mimpi selalu berwujud nyata.Tanpa kemungkinan itu, hidup takkan pernah menghasut kita untuk berani bermimpi.

(Jhon Updike; 1932-2009)

 

Katanya Metropop dulu lebih kece dari pada Metropop kini, apa iya? Saya tidak tahu pasti perkembangannya, karena saya bukan termasuk penggemar Metropop baik di masakini maupun masa lalu. Novel Metropop yang saya miliki pun bisadihitungdenganjarijumlahnya.

Sempat mendi pembahasan, kok dalam novel Metropop kebanyakan yang jadi tokoh utamanya cewekya? Saya kembali mengingat novel Metropop yang pernah saya baca dan ternyata memang semua tokoh utamanya cewek. Lantas dengan rasa penasaran saya yang menggebu-gebu, saya pergi ke Gramediau ntuk menemukan novel Metropop dengan tokoh cowok. Hasilnya, saya membawa pulang Fade In Fade Out karena tidak cuma tokohnya yang cowok tapi pengarangnya kebetulan cowok juga.

Sejujurnya pengalaman saya membaca Metropop tidak begitu menyenangkan. Beberapa Metropop yang saya baca paling mentok dikasih bintang tiga, itu karena saya berbaik hati, saya memperhitungkan sisi-sisi yang saya suka walaupun dengan kadar yang sangat sedikit.

Fade in Fade Out mengangkat tema dunia per-sinetron-an di Indonesia. Pengarangnya sendiri, Mas Wiwien Wintarto, kebetulan seorang yang kompeten di bidang persinetronan. Beliau pernah terlibat dalam penggarapan sinetron dan juga penulis skenario untuk dua judul sinetron. Selain itu, Mas Wiwien berprofesi sebagai critic-writer-turns-screenwriter dan pernah berkarier sebagai jurnalis pengisi kolom resensi buku, film, musik, dan sinetron. Maka saya tidak heran betapa tajamnya Mas Wiwien mengkritisi sinetron-sinetron tanah air yang dianggapnya sebagai ajang pembodohan massal, yang kemudian dituliskannya dalam novel Metropop Fade In Fade Out ini.

Seto, editor sebuah majalah remaja di Semarang kerap kali mengkritik sinetron dalam artikel yang ditulisnya. Seto beranggapan sinetron itu tidak mendidik, tidak berkualitas, dan tidak logis. Sebagai editor, kehidupan Seto sendiri bisa dikatakan pas-pasan. Hingga suatu ketika kabar baik menyapanya. Sebuah PH besar melirik naskahnya untuk dijadikan sinetron. Naskah yang Seto tulis tentu saja telah dibangun dengan idelaisme yang selamain ia pegang teguh. Namun idelaisme tersebut harus runtuh tatkala pihak PH mengobrak-abrik naskahnya, menjadikan skenarionya sebagai bentuk pembodohan massal demi mengejar rating. Apakah Seto bisa mempertahankan idealismenya? Ataukah proyek tersebut akan tetap berjalan meski ia harus mempertaruhkan idealismenya?

Bukan Metropop namanya kalau tidak ada romansa dan brand bertebaran. Seto terlibat cinta segitiga antara Farah dan Dana. Farah adalah gadis yang dikenalkan oleh sepupunya sedangkan Dana, gadis yang ingin dijodohkan oleh orang tuanya. Seto tak perlu pusing-pusing menentukan siapa yang harus dia pilih, karena kedua gadis tersebut memiliki perbedaan watak, yang satu baik banget yang satunya lagi sombong.

Namun, ada beberapa hal mengganggu yang saya dapati dalam novel ini :

1. * Terlalu banyak pengulangan adegan (percakapan). Iya saya tahu kalo artis di sinetron itu suka membatin sendiri, tapi mbokya jangan diulang-ulang lagi gitu, Mas! Iya saya tahu kalo yang bikin panjang cerita itu ada scene di rumah sakit yang tokoh utamanya kecelakaan atau amnesia, tapi mbok ya jangan diulang-ulang lagi gitu, Mas! Iya saya tahu kalo sentuhan mesra itu akan berakhir di master bed berselimut putih dan pada pagi harinya si wanita akan berkata “Last night was amazing”, tapi mbok ya jangan diulang-ulang lagi gitu, Mas! Iya saya tahu… Sudah… Sudah… Iya saya sudah tahu…😀

2.* Terlalu banyak tokoh yang tidak penting terlibat dalam percakapan. Hal ini sangat mengganggu karena mereka hanya muncul sekali. Si Atun, Paijo, Inem, Sukirman, Ngatini, aduhh banyak banget namanya disebutin satu-satu.

3.       * Para tokoh berusaha dipaksakan mirip denganpublic figure kenamaan, misalnya;

 

“Maksudnya? ”Bona, redaktur cewek yang berwajah mirip Cameron Diaz itu, menoleh penuh minat.

 Di jembatan, ia menyalip beberapa turis bule yang  tengah berwisata keliling desa naik sepeda gunung…………….. Ia sempat mengira cewek itu Lindsay Lohan yang tengah rehat dari kesibukan syuting dan menyamar jadi orang kebanyakan………..

Sepupunya yang bertubuh agak gemuk, berambut ikal kribo mirip ayahnya…………. dan bertampang mirip Alvin Adam itu sudah duduk-duduk…….

 “Namanya Farah. Seksi, putih, dan wajahnya kayak Scarlett Johansson.

Saya bersyukur, Metropop ini bersih dari kontak fisik. Saya akan menobatkan pengarangnya sebagai Penulis Tersantun karena tidak menyertakan unsur sex dalam karyanya. Oke, saya harus mengatakan bahwa  novel Metropop ini (lagi-lagi) diberi rating tiga bintang. Saya tidak menemukan sesuatu yang menakjubkkan dalam novel ini. Sepertinya memang tidak bisa memberikan rating yang lebih untuk karya Mas Wiwien yang satu ini.

Do you know?

“Sinetron yang rating-nya tinggi ditaruh di jam tayang malem, sesudah jam tujuh sampai jam sepuluh. Itu yang namanya jam tayang utama, atau prime time kalau dalam istilah pertelevisian.” (Halaman 26)

2 thoughts on “Review Buku Fade In Fade Out

  1. tengki so mach reviunya. dicatet semua.🙂
    utk tokoh2 minor yg banyak, terutama kru tabloid Abege, itu selalu hadir di semua novel2ku, bahkan ada yg gantian jadi tokoh utama. Wira (yg menggunjingkan Farah dg Seto di training jurnalistik), adalah tokoh utama di novel The Rain Within (2005). Bimo (yang diomongin Farah & Seto pas makan di KFC) adalah tokoh utama di novel teenlit The Unfunniest Comedy (TUC, 2011). Seto sendiri juga pernah jadi tokoh sekadar lewat di TUC, pas Bimo membawa anak2 Ora Obah ikut lomba lawak di TBRS.
    demikian sekilas info.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s