Review : Restart by Nina Ardianti

ImageJudul                                     : Restart

Penulis                                 : Nina Ardianti (@NinaArdianti)

Jumlah Halaman                   : 446 Halaman

Penerbit                                : Gagas Media

ISBN                                      : 978-979-780-631-6

Harga                                    : Rp55.0000

Rating Pribadi                       : 4/5

 

“Seandainya saja mematikan perasaan bisa semudah mematikan sambungan telepon, hidupku pasti akan jauh lebih mudah.” (Halaman 156)

 

Melihat tag line di bagian sampulnya yang begitu provokatif, “Semua orang pernah patah hati. All you have to do is move on”, membuat saya menuntaskan novel ini meskipun saat itu sedang sakit. Lembar demi lembar saya ‘lahap’ hanya dalam waktu dua hari saja. Saya begitu excited dengan kehadiran novel ini karena sebelumnya sempat membaca reviewnya di blog Bang Ijul yang membuat saya merasa terbakar ingin membaca dan mencomotnya dari toko buku.

Saya penganut monogami garis keras. Saya tidak akan menolerir pasangan jika ia kedapatan selingkuh. Kesetiaan bagi saya adalah komitmen dan konsekuensi atas pilihan yang harus dipertanggungjawabkan. Well, kita bisa saja memaafkan pengkhianatan tersebut tetapi sangat tidak mudah untuk melupakannya. Forgiven not forgotten.

Syiana terluka hatinya mengetahui pacarnya, Yudha selingkuh di belakangnya. Tidak ada yang salah dengan percintaan mereka, everything is well. Hari itu, Syiana memergoki Yudha menginap di hotel bersama mantan pacarnya. Tidak lama waktu yang diperlukan Syiana untuk move on. Fedrian Arsjad, anggota band Dejavu yang sedang naik daun, diam-diam menaruh hati padanya.

Syiana dan Fedrian pertama kali bertemu di sebuah bar di Singapura. Syiana terus berjumpa dengan Fedrian secara tidak sengaja pada hari-hari berikutnya. Sebagai seorang anak band papan atas, Fedrian memiliki cukup banyak fans. Tapi lucunya, Syiana justru tidak mengenal siapa sebenarnya Fedrian Arsjad yang tengah gencar mendekatinya. Kisah Syiana dan Fedrian mengingatkan saya pada lagu Project Pop, Pacarku Superstar. Bedanya, kalau di lagu Project Pop punya pacar superstar itu cuma mimpi tetapi Syiana bisa mendapatkan pacar superstarnya tanpa harus memburu dan melancarkan pedekate sedemikian rempong. Kisah cinta antara atris dan orang biasa sangat mungkin terjadi, apalagi untuk kota metropolis seperti Jakarta dimana pusat dunia entertainment berada di situ.       

Bukan bermaksud memasukkan curhat terselubung. Tapi kok, saya merasa seperti disentil. Dulu waktu saya masih (suka) pacaran, saya selalu kepo dengan mantan-mantan pacar saya. Siapa saja mantannya? Kuliah dimana? Tinggal dimana? Bagaimana rupanya, cantik atau nggak? Pacarannya berapa lama? Dan sederet pertanyan kepo lainnya berseliweran di kepala saya. Hal ini juga melanda Syiana -yang ujung-ujungnya menjadi tolok ukur perbandingan antara dirinya dengan mantan-mantan pacar Fedrian yang semuanya selebritis. Akhirnya apa, hal ini menjadi polemik hubungan percintaan mereka berdua.

Ini pertama kalinya saya membaca karya mbak Nina Ardianti. Saya suka ramuan ceritanya. Saya suka Fedrian Arsjad yang menurut saya mirip… Emmmm, Fedi Nuril. Betul begitu Mbak Nina? 😀 Karya Mbak Nina yang lain mungkin bisa masuk dalam daftar bacaan selanjutnya. Untuk yang tidak suka unsur ‘sex in litterature’ (seperti saya), ini kabar bahagia, novel ini bisa menjadi teman secangkir teh yang setia. Recommended buat yang suka bacaan romance.

Selamat membaca kawan!

Advertisements

Review Buku Fade In Fade Out

Judul : Fade In Fade OutImage

Pengarang : WiwienWintarto

Jumlah Halaman : 328 Halaman

Tahun Rilis : Maret, 2013

ISBN : 978-979-22-9374-6

Penerbit : GramediaPustakaUtama

Rating Pribadi : 3/5

 

 

Mimpi selalu berwujud nyata.Tanpa kemungkinan itu, hidup takkan pernah menghasut kita untuk berani bermimpi.

(Jhon Updike; 1932-2009)

 

Katanya Metropop dulu lebih kece dari pada Metropop kini, apa iya? Saya tidak tahu pasti perkembangannya, karena saya bukan termasuk penggemar Metropop baik di masakini maupun masa lalu. Novel Metropop yang saya miliki pun bisadihitungdenganjarijumlahnya.

Sempat mendi pembahasan, kok dalam novel Metropop kebanyakan yang jadi tokoh utamanya cewekya? Saya kembali mengingat novel Metropop yang pernah saya baca dan ternyata memang semua tokoh utamanya cewek. Lantas dengan rasa penasaran saya yang menggebu-gebu, saya pergi ke Gramediau ntuk menemukan novel Metropop dengan tokoh cowok. Hasilnya, saya membawa pulang Fade In Fade Out karena tidak cuma tokohnya yang cowok tapi pengarangnya kebetulan cowok juga.

Sejujurnya pengalaman saya membaca Metropop tidak begitu menyenangkan. Beberapa Metropop yang saya baca paling mentok dikasih bintang tiga, itu karena saya berbaik hati, saya memperhitungkan sisi-sisi yang saya suka walaupun dengan kadar yang sangat sedikit.

Fade in Fade Out mengangkat tema dunia per-sinetron-an di Indonesia. Pengarangnya sendiri, Mas Wiwien Wintarto, kebetulan seorang yang kompeten di bidang persinetronan. Beliau pernah terlibat dalam penggarapan sinetron dan juga penulis skenario untuk dua judul sinetron. Selain itu, Mas Wiwien berprofesi sebagai critic-writer-turns-screenwriter dan pernah berkarier sebagai jurnalis pengisi kolom resensi buku, film, musik, dan sinetron. Maka saya tidak heran betapa tajamnya Mas Wiwien mengkritisi sinetron-sinetron tanah air yang dianggapnya sebagai ajang pembodohan massal, yang kemudian dituliskannya dalam novel Metropop Fade In Fade Out ini.

Seto, editor sebuah majalah remaja di Semarang kerap kali mengkritik sinetron dalam artikel yang ditulisnya. Seto beranggapan sinetron itu tidak mendidik, tidak berkualitas, dan tidak logis. Sebagai editor, kehidupan Seto sendiri bisa dikatakan pas-pasan. Hingga suatu ketika kabar baik menyapanya. Sebuah PH besar melirik naskahnya untuk dijadikan sinetron. Naskah yang Seto tulis tentu saja telah dibangun dengan idelaisme yang selamain ia pegang teguh. Namun idelaisme tersebut harus runtuh tatkala pihak PH mengobrak-abrik naskahnya, menjadikan skenarionya sebagai bentuk pembodohan massal demi mengejar rating. Apakah Seto bisa mempertahankan idealismenya? Ataukah proyek tersebut akan tetap berjalan meski ia harus mempertaruhkan idealismenya?

Bukan Metropop namanya kalau tidak ada romansa dan brand bertebaran. Seto terlibat cinta segitiga antara Farah dan Dana. Farah adalah gadis yang dikenalkan oleh sepupunya sedangkan Dana, gadis yang ingin dijodohkan oleh orang tuanya. Seto tak perlu pusing-pusing menentukan siapa yang harus dia pilih, karena kedua gadis tersebut memiliki perbedaan watak, yang satu baik banget yang satunya lagi sombong.

Namun, ada beberapa hal mengganggu yang saya dapati dalam novel ini :

1. * Terlalu banyak pengulangan adegan (percakapan). Iya saya tahu kalo artis di sinetron itu suka membatin sendiri, tapi mbokya jangan diulang-ulang lagi gitu, Mas! Iya saya tahu kalo yang bikin panjang cerita itu ada scene di rumah sakit yang tokoh utamanya kecelakaan atau amnesia, tapi mbok ya jangan diulang-ulang lagi gitu, Mas! Iya saya tahu kalo sentuhan mesra itu akan berakhir di master bed berselimut putih dan pada pagi harinya si wanita akan berkata “Last night was amazing”, tapi mbok ya jangan diulang-ulang lagi gitu, Mas! Iya saya tahu… Sudah… Sudah… Iya saya sudah tahu… 😀

2.* Terlalu banyak tokoh yang tidak penting terlibat dalam percakapan. Hal ini sangat mengganggu karena mereka hanya muncul sekali. Si Atun, Paijo, Inem, Sukirman, Ngatini, aduhh banyak banget namanya disebutin satu-satu.

3.       * Para tokoh berusaha dipaksakan mirip denganpublic figure kenamaan, misalnya;

 

“Maksudnya? ”Bona, redaktur cewek yang berwajah mirip Cameron Diaz itu, menoleh penuh minat.

 Di jembatan, ia menyalip beberapa turis bule yang  tengah berwisata keliling desa naik sepeda gunung…………….. Ia sempat mengira cewek itu Lindsay Lohan yang tengah rehat dari kesibukan syuting dan menyamar jadi orang kebanyakan………..

Sepupunya yang bertubuh agak gemuk, berambut ikal kribo mirip ayahnya…………. dan bertampang mirip Alvin Adam itu sudah duduk-duduk…….

 “Namanya Farah. Seksi, putih, dan wajahnya kayak Scarlett Johansson.

Saya bersyukur, Metropop ini bersih dari kontak fisik. Saya akan menobatkan pengarangnya sebagai Penulis Tersantun karena tidak menyertakan unsur sex dalam karyanya. Oke, saya harus mengatakan bahwa  novel Metropop ini (lagi-lagi) diberi rating tiga bintang. Saya tidak menemukan sesuatu yang menakjubkkan dalam novel ini. Sepertinya memang tidak bisa memberikan rating yang lebih untuk karya Mas Wiwien yang satu ini.

Do you know?

“Sinetron yang rating-nya tinggi ditaruh di jam tayang malem, sesudah jam tujuh sampai jam sepuluh. Itu yang namanya jam tayang utama, atau prime time kalau dalam istilah pertelevisian.” (Halaman 26)