Review Buku : Negeri Di Ujung Tnaduk

Judul : Negeri  di Ujung Tanduk (Negeri Para Bedebah #2)

Pengarang : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal Halaman  : 360 Halaman

Cetakan ke-  : I, April 2013

Rating Pribadi : 5/5

Setelah sukses dengan sekuel pertamanya Negeri Para Bedebah dan sukses menyabet prestasi sebagai jawara kategori non fiksi pada Anugerah Pembaca Indonesia 2012- kini Tere Liye kembali menyuguhkan sekuel kedua dari seri Negeri Para Bedebah yang diberi judul Negeri Di Ujung Tanduk. Ini menarik, karena sebetulnya dua novel ini bukan genrenya Tere Liye. Kabar baiknya, Tere Liye berhasil membuat pembacanya ternganga dengan jalan cerita dan intrik yang mengangkat isue-isue paling hot di jagat Indonesia raya.

Kalo di sekuel pertamanya, Thomas berperan sebagai konsultan bisnis yang menyelamatkan Bank Semesta dari kebangkrutan- dalam sekuel kedua kali ini Thomas berperan sebagai konsultan politik, menyelamatkan seorang kandidat calon presiden yang notabene sangat berpeluang menduduki takhta sebagai presiden pada pemilu tahun depan. Sosok calon presiden berinisial JD ini dikenal Thomas sebagai pribadi yang jujur dan bersahaja. JD adalah kakak kelasnya sewaktu bersekolah di sekolah asrama dulu. Thomas mengenal pribadi JD luar dalam, oleh karenanya Thomas dengan sangat senang hati menerima JD sebagai klien politiknya.

Pada sekuel pertamanya, Tere Liye seperti mengkritisi kasus Bank Century sehingga menginspirasinya menuliskan novel Negeri Para Bedebah. Di sekuel kedua ini, panggung politik tanah air menjadi sorotannya. Bagi yang belum mambaca buku ini mungkin akan alergi bersinggungan dengan bahasan politik.

Walaupun novel ini bertema politik, namun tidak semata-mata kita akan berbicara banyak mengenai hal itu. Kembali kita disuguhkan dengan petualang mendebarkan ala Thomas yang memacu adrenalin. Sejujurnya, membaca novel ini laksana sedang menonton film action yang diperankan oleh Jackie Chan. Tsaaahh! Tidak banyak tokoh baru dalam sekuel kedua ini. Hanya saja ada Maryam, wartawan wanita yang sepertinya sengaja menggantikan peran Julia yang juga seorang wartawan dalam sekuel pertama.

Cerita ini berawal dari kegelisahan JD, klien Thomas yang merasa posisinya sebagai kandidat calon presiden terancam oleh oknum yang tidak mengkhendaki atas pencalonannya. Pada saat itu, Thomas sedang menghadiri konferensi internasional tentang komunikasi dan pencitraan politik di Hong Kong. Pada saat bersamaan, Thomas dijebak. Di kapal pesiar miliknya ditemukan satu ton heroin beserta persenjataan lengkap. Langsung saja Thomas yang saat itu bersama Kadek, Opa, dan Maryam digelandang untuk diinterogasi atas penemuan barang-barang tersebut. Tidak cukup sampai di situ, di tempat lain- di Jakarta, kliennya ditangkap pihak kepolisian atas tuduhan kasus korupsi lima tahun lalu. Keadaan ini menjepit posisi Thomas. Sebagai konsultan politik JD, tentu Thomas sangat ingin membebaskannya. Namun keadaan bicara lain, Thomas yang kini meringkuk di sel harus memikirkan jalan keluar agar bisa menolong kliennya. Beruntungnya Thomas, bala bantuan datang tanpa diminta. Kadek, Opa, Maryam, dan dirinya akhirnya bisa keluar dari sel, berkat bantuan Lee- lawan Thomas di klub petarung. Namun Thomas harus membayar mahal kebebasannya. Interpol Hong Kong menetapkan mereka sebagai buronan yang paling dicari.

Sekembalinya dari Hong Kong, Thomas bergegas menuju Denpasar untuk menghadiri konferensi partai politik, meluruskan perkara bahwasanya kandidat JD bukan pelaku tindak korupsi seperti yang dituduhkan dalam berita dan sangat layak menjadi calon presiden masa depan. Thomas masih mengalami serangan-serangan ‘kecil’ dari musuh yang tak kasat mata. Kembali lagi Thomas dikerjar-kejar polisi, ditangkap lagi, dan masuk ke sel lagi. Dewi Fortuna ternyata masih belum beranjak di pihak Thomas. Kali ini, Rudi- anggota polisi kenalan Thomas menyelamatkannya, mengeluarkan Thomas dan Maryam dari dalam sel. Thomas harus berpacu dengan waktu yang semakin sempit, pertarungannya belum selesai.

Serangkaian peristiwa ini mengacaukan pikiran Thomas. Ada sesuatu yang tak beres dengan kejadian ini semua. Fikir Thomas, pasti ada seseorang atau sekelompok orang yang mengatur serangkaian kekacauan ini. Sadar dirinya terancam, Thomas beserta Kris dan timnya mengadakan investigasi berbekal informasi dan data yang ada. Dari informasi tersebut mereka menemukan pola jaringan sindikat yang sengaja ‘mengerjai’ Thomas dan klien politiknya.

Saya makin cinta sama buku ini. Ceritanya makin akhir makin seru. Rasanya tidak rela melepaskan buku ini barang semenit pun. Thomas dengan mental petarungnya tak pernah menyerah menghadapi lawan-lawannya. Publik patut bangga jikalau tokoh Thomas ini ada dalam dunia nyata. Perlahan Thomas menemukan titik temu. Thomas perlu seseorang yang kompeten untuk membantunya. Dialah Om Liem. Om Liem adalah saksi kunci atas kasus korupsi rekayasa yang menimpa klien Thomas. Namun, bukan Thomas namanya jika rencananya tak ada hambatan. Musuh yang tak kasat mata itu selalu mengintainya, mengawasi gerak-gerik Thomas yang baginya sangat membahayakan ini. Well, musuh itu melumpuhkan Om Liem. Menculik dan membawanya ke Hong Kong. Nah, ini puncak dari segala petualangan Thomas. Di sini, di pelabuhan kontainer di Hong Kong Thomas bertemu dengan musuh sejatinya, musuh yang saya bilang tak kasat mata. Siapa dia sebenarnya? Orang ini bisa dibilang licin. Kerjanya rapi, tak terdeteksi dengan teknologi tercanggih pun. Merupakan orang terdekat keluarga Thomas, rekanan bisnis Opa dan Om Liem. Orang ini yang menyebabkan tewasnya orangtua Thomas, sekaligus dalang di balik pembakaran toko milik Om Liem di masa lampau. Satu lagi, pebisnis ini pemegang saham terbesar di Bank Semesta milik Om Liem.

Sejujurnya saya tidak ada feeling buku ini akan ada sekuelnya. Memang sih, di buku pertama endingnya agak dibuat gantung. Terasa ada sesuatu yang belum tuntas (ceritanya). Tentu saya senang dengan adanya sekuel kedua ini. Saya begitu larut dengan cerita pada sekuel pertama. Justru yang saya nantikan adalah novel pertama dibuat film. Hehehehe! Saya rasa sekuel kedua ini sama serunya dengan yang pertama.

Sebetulnya tidak ada kaitan cerita yang berarti antara sekuel satu dengan yang kedua ini. Hanya saja memang kita perlu membaca sekuel pertamanya untuk mengingat kembali sesiapa tokoh yang ada di sekuel pertama. Untuk jalan cerita tak perlu khawatir, karena pengarang berkenan menceritakan sedikit bocoran cerita di sekuel sebelumnya.

Semoga review ini tidak mengurungkan niat teman-teman untuk membaca serial Negeri Para Bedebah ya! Selamat membaca!

‘’Kau tahu, Thomas, jarak antara akhir yang baikdan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian.’’ (Opa Chai Ten, halaman 358)

 Image

2 thoughts on “Review Buku : Negeri Di Ujung Tnaduk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s