Islam Sehari-Hari : Yang Penting, Yang Terabaikan

ImageJudul : Islam Sehari-Hari : Yang Penting, Yang Terabaikan

Pengarang : Vbi_Djenggotten

Tebal Halaman : 116 Halaman

Penerbit : QultumMedia

ISBN : 978-979-017-254-8

Harga : Rp32.000

Saya selalu menantikan karya-karya terbaru Vbi Djenggoten. Setelah saya jatuh cinta dengan komik 33 Pesan Nabi, rasanya sayang melewatkan komik-komik terbaik untuk dibaca dan dikoleksi. Komik ini sangat mendidik. Saya rasa bisa dibaca semua umur. Belajar hadis dari komik plus dengan ilustrasi yang ciamik, menjadi kemudahan bagi kita umat Islam.

Apa yang disampaikan oleh Mas Vbi Djenggotten sangat dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari, sesuai judulnya. Yang dibahas justru hal-hal sepele namun luput dari perhatian kita karena sudah jadi kebiasaan. Contohnya saja nih pada saat makan. Kalo kita makan makanan yang gak enak, otomatis mulut ini refleks mencela, bukan? Padahal ini dilarang oleh Rasulullah SAW lho!

Pernah liat wanita berjilbab tapi di kepalanya ada sesuatu yang nonjol gede banget? Semacam bisul yang gak sembuh 40 hari. Atau mungkin kepalanya kejedot tembok jadinya benjol segede gitu? Entah ini idenya siapa. Tapi sungguh ini cara berhijab yang keliru. Niat berjilbab sejatinya untuk menutup sesuatu yang paling berharga, yaitu aurat. Yah kalo cara jilbabnya kayak gitu udah lain lagi niatnya. Ini yang disebut Rasul dengan istilah ‘punuk unta’. Ini menjadi tren di kalangan wanita berjilbab, namun diabaikan demi satu alasan yang kita sebut fashion.

Satu lagi kebiasaan masyarakat kita yang unik yaitu penyematan gelar haji bagi orang yang sudah berangkat ibadah ke tanah suci. Padahal Rasul, manusia paling mulia- gak pernah ada dalam satu riwayat pun yang menuliskan atau menyebut beliau dengan gelar Haji Muhammad. Pun sama halnya dengan para sahabat beliau. Ada yang lebih ajaib lagi nih, suka marah dan gak terima kalo gak dipanggil ‘Pak Haji’ atau ‘Bu Haji’.  Gelar sih penting, tapi yang lebih penting lagi gelar dagangan 😛

Kalo saya perhatikan, komik ini 11-12 lah dengan 33 Pesan Nabi. Gregetnya sama, ilustrasi kartunnya unyu, pesan dan nilai moralnya nyampe ke pembaca. Komik ini makjleb banget! Terutama bagi orang-orang/instansi yang kena sindir di dalamnya. 😀

Advertisements

Review Buku Halal Is My Way (Edukasi Halal Untuk Semua Umur)

Image

Judul  : Halal Is My Way

Pengarang : Aisha Maharani

Co Writer : Sophie Beatrix

Tebal halaman : 110 Halaman

Penerbit : Mizania

ISBN : 978-602-9255-35-5

Harga : Rp39.000

Cetakan ke- : I, Desember 2012

Sinopsis

Jajan apa, ya, enaknya? Ke restoran? Makan snack? Minuman kemasan? Atau mau bikin kue sendiri? Bikin usaha makanan dan minuman sendiri, ah, biar bisa terjaga dari hal-hal yang HARAM.

Tunggu dulu!!!

Baca buku ini, ya, biar bisa tahu jenis makanan dan minuman apa saja yang diharamkan dan dampaknya. Selain itu, juga edukasi tentang bagaimana mengurus SERTIFIKASI HALAL  jika akan membuka usaha makanan-minuman halal.

Dan makanlah yang halal lagi baik dari apa yang telah direzekikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya. (QS Al Maidah [5] : 88)

Sungguh Allah telah menerangkan kepada kamu apa yang dihramkanNya atas kamu. (QS Al An’am [6] : 119)

Bagi umat Islam, kehalalan  menjadi faktor utama dalam memilih makanan/minuman. Halal dalam arti, makanan/minuman itu tidak mengandung unsur babi ataupun alkohol (khamr).  Jika kedua zat ini sudah diolah menjadi makanan atau minuman, maka akan sulit sekali mendeteksi kehalalannya. Oleh sebab itu, sebagai konsumen kita harus cerdas. Kita cari tahu sendiri produk-produk makanan/minuman apa saja yang sudah pasti terjamin kehalalannya. Konsumen berhak tahu zat apa saja yang terdapat pada makanan/minuman yang dikonsumsinya. Kehadiran buku Halal Is My Way ini membuka mata kita bahwa di negara dengan jumlah umat Islam terbesar ini masih banyak ditemukan produk-produk yang tidak jelas kehalalannya. Lalu bagaimana kita bisa tahu suatu produk itu halal atau tidak?

Ketika kita membeli makanan/minuman kemasan, apa yang kita perhatikan dari kemasannya? Bahan-bahannya? Kandungan gizinya? Tanggal kadaluarsanya? Label LPPOM? Label halal MUI? Atau asal beli aja gak perhatikan label apapun? Sekarang, apa sih yang harus kita perhatikan betul ketika membeli makanan/minuman kemasan? Yang harus diperhatikan adalah ada tidaknya label halal MUI. Selain Badan POM, kita juga punya lembaga penjamin kehalalan makanan lain yaitu  MUI. Ibaratnya nih, kehalalan suatu makanan/minuman itu dianggap gak sah kalo gak ada label sertifikasi halal MUI. Ngomongin label halal MUI, tentunya kita sudah tau ya! Biasanya kalo kita beli produk makanan/minuman ada logo bundar berwarna hijau atau hitam ada tulisan halal dalam bahasa arab serta tulisan melingkar Majelis Ulama Indonesia. Melalui lembaga sertifikasi halal MUI inilah kandungan bahan makanan/minuman itu diuji. Jika tidak terindikasi ada unsur-unsur haram maka MUI wajib menerbitkan sertifikasi halal.

Nah, sekarang buat yang suka makan dan ngopi-ngopi di resto atau kafe. Kadang untuk makan di suatu resto, kita gak lagi mikir soal kehalalannya. Maksud saya, ada memang resto yang jelas-jelas menjual makanan/minuman haram. Sudah pasti kita gak makan di tempat ini dong ya! Kita suka kebiasaan makan di suatu tempat karena alasan makanannya enak, harga murah, atau suasana restonya cozy. Setelah baca buku ini, saya mikir lagi bahwa untuk makan di restoran; rasa, harga, dan prestis sudah tidak penting lagi. Lagi-lagi, kehalalan menjadi faktor penentu apakah saya mau makan di resto itu atau tidak. Bagaimana mengetahui kehalalan suatu resto? Caranya, coba kalo lagi mau makan di resto/kafe cek di pintu masuknya. Biasanya resto yang sudah halal terdapat stiker logo halal MUI nempel di pintu masuknya. Kalo gak ada? Masuk ke dalem restonya, liat di dinding. Biasanya resto yang sudah halal menempelkan kopian sertifikasi halal MUI di dinding resto. Kalo kopian SH MUI ada, langkah selanjutnya cek tanggal kadaluarsa. SH MUI hanya berlaku untuk dua tahun saja. Kalo gak menemukan stiker dan kopian SH MUI bisa dipastikan resto tersebut belum ber-SH MUI.

Mau makan kok ribet banget ya! Beli makanan kemasan harus bolak-balik bungkusnya dulu. Mau makan di restoran harus ngecek dulu, hunting resto yang ada label halalnya. Duh, ribet deh untuk urusan makan aja. Ya, kita gak pernah tahu ada zat apa di balik bumbu (rahasia), peralatan masaknya bagaimana; apakah alat masak makanan haram dan halal jadi satu, terus belum lagi tempat nyuci piringnya; bisa jadi juga bercampur dengan piring-piring makanan haram. Di sinilah peran lembaga sertifikasi halal. Semua bahan diteliti untuk diketahui ada tidaknya unsur haram dalam suatu makanan.

Ribet memang, tapi yuk kita intip dampak mengkonsumsi makanan/minuman haram!

Sanksi dari Allah SWT :

  1. Tidak diterima amalannya (HR Al Thabrani)
  2. Shalatnya tidak diterima (HR Ahmad)
  3. Doanya tidak terkabul (HR Muslim)
  4. Mengeraskan hati (Thabaqat Al Hanabillah)
  5. Mengikis keimanan (HR Bukhari dan Muslim)
  6. Haji dan umrahnya tertolak (HR Al Thabrani)
  7. Sedekah dan silaturahminya sia-sia (HR Abu Dawud)
  8. Mencampakkan pelakunya ke neraka (HR Al Tirmizi) (Halaman 19-21)

Efek bagi tubuh : mendatangkan penyakit, misalnya flu babi antraks, tetanus, dll. Gangguan pada organ-organ tubuh, misalnya menurunnya fungsi kerja otak.

Terbukti kan mengkonsumsi sesuatu yang haram gak menyehatkan jasmani maupun rohani. Saatnya kita peduli. Kalo bukan kita siapa lagi. Saatnya kita menyerukan kebaikan pada sesama. Mulai sekarang, kampanyekan produk halal pada siapa pun. Sejak baca buku ini saya jadi lebih bawel soal makanan. Eh tapi, kehalalan produk gak cuma sebatas pada makanan atau minuman saja. Saya kasih bocoran sedikit, buku ini sebetulnya berseri. Nah, yang sedang saya bahas ini memang seri makanan dan minuman. Untuk kedepannya akan dibahas kehalalan produk kosmetik, pakaian, tas, dan sepatu. Nah, makin pinter deh! Gak sabar nunggu seri selanjutnya!

Buku ini juga dilengkapi beberapa resep membuat makanan dan minuman halal. Bahannya mudah didapat dan cara membuatnya mudah. Buruan deh, bergegas ke toko buku atau pinjem sama temanmu! 😀

Review Buku : Negeri Di Ujung Tnaduk

Judul : Negeri  di Ujung Tanduk (Negeri Para Bedebah #2)

Pengarang : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal Halaman  : 360 Halaman

Cetakan ke-  : I, April 2013

Rating Pribadi : 5/5

Setelah sukses dengan sekuel pertamanya Negeri Para Bedebah dan sukses menyabet prestasi sebagai jawara kategori non fiksi pada Anugerah Pembaca Indonesia 2012- kini Tere Liye kembali menyuguhkan sekuel kedua dari seri Negeri Para Bedebah yang diberi judul Negeri Di Ujung Tanduk. Ini menarik, karena sebetulnya dua novel ini bukan genrenya Tere Liye. Kabar baiknya, Tere Liye berhasil membuat pembacanya ternganga dengan jalan cerita dan intrik yang mengangkat isue-isue paling hot di jagat Indonesia raya.

Kalo di sekuel pertamanya, Thomas berperan sebagai konsultan bisnis yang menyelamatkan Bank Semesta dari kebangkrutan- dalam sekuel kedua kali ini Thomas berperan sebagai konsultan politik, menyelamatkan seorang kandidat calon presiden yang notabene sangat berpeluang menduduki takhta sebagai presiden pada pemilu tahun depan. Sosok calon presiden berinisial JD ini dikenal Thomas sebagai pribadi yang jujur dan bersahaja. JD adalah kakak kelasnya sewaktu bersekolah di sekolah asrama dulu. Thomas mengenal pribadi JD luar dalam, oleh karenanya Thomas dengan sangat senang hati menerima JD sebagai klien politiknya.

Pada sekuel pertamanya, Tere Liye seperti mengkritisi kasus Bank Century sehingga menginspirasinya menuliskan novel Negeri Para Bedebah. Di sekuel kedua ini, panggung politik tanah air menjadi sorotannya. Bagi yang belum mambaca buku ini mungkin akan alergi bersinggungan dengan bahasan politik.

Walaupun novel ini bertema politik, namun tidak semata-mata kita akan berbicara banyak mengenai hal itu. Kembali kita disuguhkan dengan petualang mendebarkan ala Thomas yang memacu adrenalin. Sejujurnya, membaca novel ini laksana sedang menonton film action yang diperankan oleh Jackie Chan. Tsaaahh! Tidak banyak tokoh baru dalam sekuel kedua ini. Hanya saja ada Maryam, wartawan wanita yang sepertinya sengaja menggantikan peran Julia yang juga seorang wartawan dalam sekuel pertama.

Cerita ini berawal dari kegelisahan JD, klien Thomas yang merasa posisinya sebagai kandidat calon presiden terancam oleh oknum yang tidak mengkhendaki atas pencalonannya. Pada saat itu, Thomas sedang menghadiri konferensi internasional tentang komunikasi dan pencitraan politik di Hong Kong. Pada saat bersamaan, Thomas dijebak. Di kapal pesiar miliknya ditemukan satu ton heroin beserta persenjataan lengkap. Langsung saja Thomas yang saat itu bersama Kadek, Opa, dan Maryam digelandang untuk diinterogasi atas penemuan barang-barang tersebut. Tidak cukup sampai di situ, di tempat lain- di Jakarta, kliennya ditangkap pihak kepolisian atas tuduhan kasus korupsi lima tahun lalu. Keadaan ini menjepit posisi Thomas. Sebagai konsultan politik JD, tentu Thomas sangat ingin membebaskannya. Namun keadaan bicara lain, Thomas yang kini meringkuk di sel harus memikirkan jalan keluar agar bisa menolong kliennya. Beruntungnya Thomas, bala bantuan datang tanpa diminta. Kadek, Opa, Maryam, dan dirinya akhirnya bisa keluar dari sel, berkat bantuan Lee- lawan Thomas di klub petarung. Namun Thomas harus membayar mahal kebebasannya. Interpol Hong Kong menetapkan mereka sebagai buronan yang paling dicari.

Sekembalinya dari Hong Kong, Thomas bergegas menuju Denpasar untuk menghadiri konferensi partai politik, meluruskan perkara bahwasanya kandidat JD bukan pelaku tindak korupsi seperti yang dituduhkan dalam berita dan sangat layak menjadi calon presiden masa depan. Thomas masih mengalami serangan-serangan ‘kecil’ dari musuh yang tak kasat mata. Kembali lagi Thomas dikerjar-kejar polisi, ditangkap lagi, dan masuk ke sel lagi. Dewi Fortuna ternyata masih belum beranjak di pihak Thomas. Kali ini, Rudi- anggota polisi kenalan Thomas menyelamatkannya, mengeluarkan Thomas dan Maryam dari dalam sel. Thomas harus berpacu dengan waktu yang semakin sempit, pertarungannya belum selesai.

Serangkaian peristiwa ini mengacaukan pikiran Thomas. Ada sesuatu yang tak beres dengan kejadian ini semua. Fikir Thomas, pasti ada seseorang atau sekelompok orang yang mengatur serangkaian kekacauan ini. Sadar dirinya terancam, Thomas beserta Kris dan timnya mengadakan investigasi berbekal informasi dan data yang ada. Dari informasi tersebut mereka menemukan pola jaringan sindikat yang sengaja ‘mengerjai’ Thomas dan klien politiknya.

Saya makin cinta sama buku ini. Ceritanya makin akhir makin seru. Rasanya tidak rela melepaskan buku ini barang semenit pun. Thomas dengan mental petarungnya tak pernah menyerah menghadapi lawan-lawannya. Publik patut bangga jikalau tokoh Thomas ini ada dalam dunia nyata. Perlahan Thomas menemukan titik temu. Thomas perlu seseorang yang kompeten untuk membantunya. Dialah Om Liem. Om Liem adalah saksi kunci atas kasus korupsi rekayasa yang menimpa klien Thomas. Namun, bukan Thomas namanya jika rencananya tak ada hambatan. Musuh yang tak kasat mata itu selalu mengintainya, mengawasi gerak-gerik Thomas yang baginya sangat membahayakan ini. Well, musuh itu melumpuhkan Om Liem. Menculik dan membawanya ke Hong Kong. Nah, ini puncak dari segala petualangan Thomas. Di sini, di pelabuhan kontainer di Hong Kong Thomas bertemu dengan musuh sejatinya, musuh yang saya bilang tak kasat mata. Siapa dia sebenarnya? Orang ini bisa dibilang licin. Kerjanya rapi, tak terdeteksi dengan teknologi tercanggih pun. Merupakan orang terdekat keluarga Thomas, rekanan bisnis Opa dan Om Liem. Orang ini yang menyebabkan tewasnya orangtua Thomas, sekaligus dalang di balik pembakaran toko milik Om Liem di masa lampau. Satu lagi, pebisnis ini pemegang saham terbesar di Bank Semesta milik Om Liem.

Sejujurnya saya tidak ada feeling buku ini akan ada sekuelnya. Memang sih, di buku pertama endingnya agak dibuat gantung. Terasa ada sesuatu yang belum tuntas (ceritanya). Tentu saya senang dengan adanya sekuel kedua ini. Saya begitu larut dengan cerita pada sekuel pertama. Justru yang saya nantikan adalah novel pertama dibuat film. Hehehehe! Saya rasa sekuel kedua ini sama serunya dengan yang pertama.

Sebetulnya tidak ada kaitan cerita yang berarti antara sekuel satu dengan yang kedua ini. Hanya saja memang kita perlu membaca sekuel pertamanya untuk mengingat kembali sesiapa tokoh yang ada di sekuel pertama. Untuk jalan cerita tak perlu khawatir, karena pengarang berkenan menceritakan sedikit bocoran cerita di sekuel sebelumnya.

Semoga review ini tidak mengurungkan niat teman-teman untuk membaca serial Negeri Para Bedebah ya! Selamat membaca!

‘’Kau tahu, Thomas, jarak antara akhir yang baikdan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian.’’ (Opa Chai Ten, halaman 358)

 Image