Mendaki Tangga yang Salah

PicsArt_05-21-10.04.56Mendaki Tangga yang Salah | Eric Barker | penerjemah : Susi Purwoko | @bukugpu | 360 halaman

Apa itu sukses? Kata ini kerap kita dengar, lalu terlintas di pikiran kita bahwa sukses adalah berhasil dalam segala hal. Kebanyakan orang menganggap pengertian sukses ini adalah keberhasilan dalam hal finansial. Padahal, sukses bagi setiap orang mengandung arti yang bervariasi. Eric Barker sendiri menggambarkan orang sukses sebagai orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Semakin sukses orang itu, sering kali mereka semakin percaya diri. Masih menurut Eric, kesuksesan bukan hasil dari satu kualitas tunggal: ia adalah tentang penyelarasan antara siapa diri kita dan di mana kita ingin berada. Keterampilan yang tepat di peran yang tepat.

Buku ini dibuka dengan memperkenalkan olahraga Race Across America (RAAM). Outside Magazine menyatakan bahwa RAAM adalah lomba ketahanan paling keras yang tak ada tandingannya. Para pesepeda berkendara lebih dari tiga ribu mil dalam waktu kurang dari dua belas hari. Berbeda dengan Tour de France, ada rehat. RAAM tidak pernah berhenti. Setiap menit yang digunakan oleh pesepeda untuk tidur dan istirahat adalah menit yang bisa digunakan untuk mengalahkannya. Kemungkinan untuk menang pun akan menjadi tipis. Walaupun kompetisi ini dinilai sangat sulit, bagi Jure Robic memenangkan kompetisi ini adalah hal yang mudah. Robic tercatat telah memenangkan 5 kali RAAM. Apa rahasia kesuksesan Robic? Menurut keterangan Dan Coyle, keunggulan Robic di atas pesaingnya adalah ketidakwarasannya. Ilmuwan seperti Philippe Tessie dan August Bier mencatat bahwa pikiran yang tidak waras bisa membantu atlet mengacuhkan nyeri dan mendorong tubuhnya lebih jauh dari batas wajar yang konservatif.

Masih ingat siapa yang sering juara kelas di sekolah/kampus? Bagaimana nasib mereka sekarang? Berapa banyak di antara mereka yang kemudian melanjutkan untuk mengubah dunia, menjalankan dunia, atau mengesankan dunia? Saya terhenyak karena menurut buku ini jawabannya adalah nol. Mengapa demikian? Menurut Karen Arnold, para lulusan terbaik itu cenderung tidak visioner di masa depan, mereka tinggal dalam sistem, bukan mengguncang sistem.

Lebih lanjut, Eric Barker mengamini apa yang disebut Angela Duckworth sebagai grit atau kegigihan yang memiliki dalam kesuksesan seseorang. Andai saja waktu itu Isaac Newton atau Thomas Alfa Edison tidak memiliki grit, bagaimana jadinya dunia ini? Dengan grit mereka bisa mengubah nasib dunia.

Buku ini kaya akan cerita inspiratif. Kita disuguhkan ragam cerita kesuksesan yang diteropong dari berbagai sudut pandang. Buku ini disusun dari banyaknya penelitian tentang kesuksesan sehingga pembaca akan mendapatkan definisi kesuksesan yang beragam.

#sahabatbincangbuku #gerakanoneweekonebook #ulasanwiki

Advertisements

BLOGTOUR & GIVEAWAY BTS seasons of Love

IMG20190504212619-01Judul : BTS Seasons of Love

Penulis dan ilustrator : Freiya Sand

Penerbit : Inari

Cetakan : I, Maret 2019

Jumlah halaman : 124

ISBN : 978-602-6682-44-4

Assalamu’alaikum, selamat pagi!

Siapa sih yang nggak kenal boyband asal Korea Selatan yang satu ini. Udah cakep, suaranya merdu, jago nari, dan jago ngerap pula. Duh, siapa yang nggak kelepek-kelepek sama pesona mereka ya, guys! 😂

Bangtan Sonyeodan/Bangtan Boys atau yang akrab disapa BTS ini beranggotakan tujuh cowok keren antara lain Jin, Suga, J-Hope, RM, Jimin, V, dan Jungkook. Jujur, saat pertama kali aku mendengar nama BTS yang terlintas di kepalaku adalah sebuah menara tinggi bernama Base Transceiver Station (BTS) yang fungsinya sebagai pemancar sinyal hape. Baru tahu bahwa BTS adalah nama boyband setelah beritanya wara-wiri di tivi dan media sosial. Maklum, untuk urusan per-KPop-an, aku termasuk yang kudet 🙈

Pernah denger kan lagu Project Pop yang judulnya Pacarku Superstar? Lagu itu menceritakan tentang seorang penggemar yang berkhayal menjadi pacar idolanya. Nah, sebagai ARMY, kalian pernah dong berandai-andai jadi pacar salah satu personel BTS. Mungkin kalian mengkhayalkan berjalan-jalan berdua di taman dengan bunga yang sedang bermekaran atau makan malam berdua di restoran favorit atau mengkhayalkan hal-hal lainnya yang membuat hati kalian kebat-kebit. Kedengarannya konyol memang, tapi inilah letak keseruan fangirling. Ya, kan?

BTS Seasons of Love ini adalah karya debutan Freiya Sand sebagai penulis sekaligus ilustrator buku ini. Di buku ini kalian bisa merasakan sensasi menjadi kekasih bias personel BTS selama empat musim. Di buku ini, kalian akan dihanyutkan oleh ilustrasi yang sangat indah juga sajak-sajak pendek yang isinya romantis dan gombal banget! Pokoknya, saat membaca buku ini, kalian akan merasa bahwa seolah-olah kalian benar berpacaran dengan personel BTS. Aku yang bukan ARMY aja rasanya melayang-melayang lho, berasa digombali gitu dengan kalimat-kalimat manis yang dibuat oleh penulisnya. Sweet banget deh!

Yang paling menonjol dari buku ini tentu aja ilustrasinya. Dalam hal ini, Freiya Sand membuktikan bahwa ia memang ilustrator berbakat. Lewat goresan tangannya, ilustrasi ketujuh personel BTS terasa nyata dengan wujud asli mereka. Seperti yang udah aku tulis di atas, sajak-sajak puitis di dalam buku ini juga berkontribusi membuat baper para pembacanya. Sajak-sajak pendek itu ditulis dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Jadi, buat yang belum paham bahasa Inggris nggak perlu khawatir karena penulis menyediakan terjemahannya. Untuk sebuah karya debutan, menurutku buku ini akan sukses di pasaran dan akan banyak banget yang baca. Jadi, buat penggemar BTS, kalian harus baca buku ini!

GIVEAWAY

Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih kepada Penerbit Inari yang udah mempercayakan blog ini sebagai salah satu terminal blogtour BTS Seasons of Love. Ini adalah pengalamanku yang pertama menjadi host blogtour. Sekali lagi terima kasih untuk pengalaman pertama yang menyenangkan ini.

Buat kalian yang belum menang di GA-GA sebelumnya, ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk memenangkan satu set merchandise berupa refill agenda Emerald Green Label dan keychain dari Haru grup. Simak rulesnya di bawah ini :

1. Memiliki alamat di Indonesia.

2. Follow akun medsos Penerbit Inari. Bisa IG/Twitter/Facebook. Boleh follow salah satu atau semuanya.

3. Follow akun IG-ku @fitriamayrani.reads

4. Bagi info GA ini di akun IG kalian (di stories). Jangan lupa mention aku dan Penerbit Inari. Akun jangan digembok untuk memudahkan pengecekan.

5. Kalo udah, sebutkan nama dan nama akun IG yang kalian gunakan untuk promosi.

6. Tulis komentar apapun di kolom komentar postingan ini. Bisa komentar tentang reviewku atau tentang bias favoritmu. Komentarnya bebas asal sopan.

7. Giveaway ini berlangsung hanya 5 hari aja, yaitu dari tanggal 05 Mei sampai dengan 09 Mei 2019. Pengumuman pemenang akan aku umumkan di blog dan IG.

8. Jangan lupa merapal doa dan semoga beruntung.

Hadiah GA Blogtour Inari.jpg

 

Berubah Atau Kalah : Kisah Perubahan 24 Ibu Setelah Mengikuti Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Siapa yang tidak mengenal Institut Ibu Profesional (selanjutnya akan saya sebut IIP) . Komunitas ini digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani yang beranggotakan para ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri sebagai perempuan, seorang istri, dan seorang ibu. Institut Ibu Profesional adalah forum belajar yang dikelola secara daring (online) dan forum diskusi luring (offline) yang diselenggarakan di 57 kota di Indonesia dan 10 negara.

Di Institut Ibu Profesional terdapat beberapa kelas yang diikuti oleh ibu dan calon ibu. Salah satu kelas yang diikuti disebut matrikulasi. Kelas matrikulasi berjalan selama dua minggu. Selama berada di kelas matrikulasi, peserta akan diberikan NHW (Nice Homework) dengan tema yang beragam. Kelas matrikulasi ini merupakan tahapan awal proses pembelajaran karena setelah peserta mengikuti kelas matrikulasi, peserta akan ‘naik kelas’ ke tingkat yang lebih mendalam lagi. Nah, dari sekian banyak peserta matrikulasi, tim IIP berhasil merangkum 24 tulisan terpilih tentang pengalaman ibu dan calon ibu sebelum dan sesudah mengikuti kelas matrikulasi IIP.

Katanya untuk menjadi orangtua, khususnya seorang ibu itu tidak ada sekolahnya. Hmmm, memang sih, secara formal memang tidak ada satu pun universitas yang memiliki jurusan ‘orangtua profesional’– bagaimana menjadi orangtua teladan bagi anak-anaknya. Di zaman yang serba canggih ini, ilmu apapun bisa kita dapatkan dengan sangat mudah. Termasuklah ilmu parenting yang begitu menjamur di dunia maya yang dibagikan secara sukarela oleh para pakar yang ahli di bidangnya. Institut Ibu Profesional salah satu komunitas yang konsen di bidang pendidikan keluarga berusaha mendidik para ibu dan calon ibu yang ingin tumbuh dan belajar bersama serta saling menguatkan agar bisa menjadi perempuan, ibu, sekaligus istri yang bermanfaat di keluarga dan masyarakat. Institut Ibu Profesional adalah sarana belajar yang tepat untuk meningkatkan kualitas diri karena menjadi ibu itu perlu ilmu.

Mungkin ada yang berpikiran seperti ini, “Ah, jadi ibu di zaman sekarang kok ribet banget, ya?” Well, zaman sudah berubah. Cara mendidik anak zaman dulu tidak bisa diterapkan lagi di zaman sekarang. Seperti kata petuah ‘didiklah anakmu sesuai zamannya’. Pesan itu menyiratkan bahwa sebagai ibu, wajib hukumnya belajar dan menggali ilmu pengasuhan agar ibu tidak salah dalam mendidik anak. Pun mengasuh anak di zaman ini adalah sebuah tantangan yang berat. Oleh sebab itu, seorang ibu harus dibekali dengan ilmu yang mumpuni.

Membaca 24 kisah di buku ini membuka wawasan saya bagaimana seorang ibu begitu gigih dalam mengasuh anaknya. Ada yang sampai berhenti bekerja demi mengasuh dan mendidik buah hati. Walaupun saya belum memiliki anak, saya tahu betapa beratnya meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh atau orangtua sementara kita mencari nafkah. Saya tahu hal ini menjadi pergolakan batin bagi ibu pekerja. Apalagi bila sudah mengalami pengalaman buruk dengan pengasuh anak, rasa bersalah seketika menggelayut di pikiran dan sesak di dada. Maka keputusan resign dari kantor dan memilih mengasuh sendiri adalah pilihan yang bijak. Di sini kita bisa melihat bahwa ego bisa dikalahkan bila sudah menyangkut anak.

Kisah-kisah di buku ini dituturkan sangat lincah oleh penulis-penulisnya. Dengan gaya bahasa yang sederhana, membacanya membuat saya merenung, “apakah yang saya butuhkan sebenarnya? Sudahkah saya bersyukur? Hal-hal apa saja yang harus saya ubah dan perbaiki dalam hidup saya?” Melihat perubahan yang begitu nyata dari para penulis mengindikasikan bahwa IIP dengan kelas matrikulasinya tidak main-main dalam menggembleng para peserta sehingga hasil yang didapatkan memberikan pengaruh positif bagi kehidupan.

Bagaimana kelas matrikulasi IIP bisa mengubah paradigma seseorang? Sudah saya singgung di atas bahwa di IIP para peserta diberikan NHW (Nice Homework) yang kemudian saya tangkap sebagai perenungan dan pembelajaran bagi peserta matrikulasi. NHW inilah yang mungkin menjadi lecutan dan motivasi peserta untuk mencapai apa yang menjadi fokus dan tujuan hidup mereka. NHW menurut saya memiliki power yang pengaruhnya jelas dan terarah. NHW bukan hanya berhasil mengubah 24 ibu dan calon ibu di buku ini tetapi saya sangat yakin ribuan ibu dan calon ibu di luar sana yang tulisannya tidak dimuat di buku ini pun juga merasakan hal yang sama.

Saya adalah seorang ibu rumah tangga yang belum memiliki anak. Setiap hari saya nyaris tidak keluar rumah. Pekerjaan domestik menuntut saya untuk lebih banyak di rumah ketimbang haha hihi bersama teman. Jenuh, sudah pasti menghampiri. Untungnya saya punya passion dan hobi yang saya jalani dengan senang hati. Di buku ini banyak kisah ibu rumah tangga yang membuat saya merasa bangga menyandang status sebagai ibu rumah tangga penuh waktu. Kisah-kisah di buku ini menguatkan saya menjalani keseharian saya sebagai IRT.

“Orang bilang berdaster di rumah itu kampungan? Maka saya buktikan, kami jadi lebih punya lebih banyak waktu untuk memperluas wawasan.” (Nurul Khoirun Nisa, hal. 35)

Walaupun saya tidak mengikuti kelas di Institut Ibu Profesional, tapi saya sangat merasa terhormat bisa mendapatkan buku ini dari salah satu kontributornya, yaitu Mbak Sita Evita dari IIP Surabaya. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan, sungguh membaca buku ini menjadi suatu pengalaman yang tak terlupakan. Saya senang karena pengalaman-pengalaman yang tertuang di buku ini sarat akan hikmah dan pesan yang patut direnungi bersama. Dari cerita Mbak Sita sendiri saya bisa mengambil kesimpulan bahwa kita tidak boleh menunda-nunda pekerjaan dan jangan terlalu takut pada sesuatu yang belum terjadi.

Buku ini menarik namun tetap ada kekurangan. Saya menemukan beberapa saltik dan satu halaman kosong yakni di halaman 130. Saya tidak tahu apakah buku-buku ini melalui quality control (QC) atau tidak. Harapan saya, bila buku ini nantinya dicetak ulang semoga pihak penerbit bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut.

Identitas buku :

Judul : Berubah Atau Kalah : Kisah Perubahan 24 Ibu Setelah Mengikuti Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Penulis : Sita Evita, dkk

Penerbit : KIPublishing

Jumlah halaman : 196

Tahun terbit : Desember 2018

IMG20190405215817

Siddhartha by Hermann Hesse

Siddhartha

“Cinta bisa diperoleh dengan mengemis, membeli, menerimanya sebagai hadiah, menemukannya di jalan, tetapi tak bisa dicuri.” (Kamala – hal. 66-67)

***

Siddhartha meninggalkan keluarganya untuk hidup sebagai samana, namun jiwanya tidak menemukan kedamaian, dan dia pun pergi untuk menjalani kehidupan duniawi. Seorang anak terlahir untuknya, tetapi ini pun tidak menenteramkann hatinya, dan dia kembali mengembara. Dalam kkeadaan nyaris putus asa, Siddhartha sampai di tepi sungai dan bertemu dengan Vasudeva si tukang perahu. Pertemuan ini menjadi awal kehidupannya yang baru—awal dari penderitaan, penolakan, kedamaian, dan akhirnya kebijaksanaan.

Judul : Siddhartha
Penulis : Hermann Hesse
Alih Bahasa : Gita Yuliani
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman : 168
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-0419-9
Harga : Rp35.000,00

***

Siddhartha merupakan salah satu novel dari penulis dan peraih nobel sastra asal Jerman, Hermann Hesse. Novel ini mengisahkan perjalanan seorang anak Brahman bernama Siddhartha dalam mencari kebijaksanaan. Ketidakpuasaannya pada pengajaran oleh para Brahman memaksanya ‘berduet’ memulai perjalanan pencarian kebijaksanaan bersama temannya, Govinda. Mereka masuk ke dalam hutan untuk bergabung bersama Samana. Namun lagi-lagi, Sidhartha tak menemukan kebijaksanaan itu. Kemudian mereka berguru pada Gautama, seseorang yang sudah mencapai level enlightment. Bersama Gautama, Siddhartha mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun, ia ingin mencari kebijaksanaan itu sendiri. Siddhartha dan Govinda berpisah, menempuh jalan mereka masing-masing.

Dalam pengembaraannya, Siddhartha menumpang sebuah perahu yang dikemudikan oleh Vasudeva. Ia sampai ke kota besar sebelum sore. Di sana ia bertemu dengan pelacur kelas tinggi yang tersohor bernama Kamala. Pelacur itu memiliki paras cantik. Puja dan puji keluar dari mulut Siddhartha untuk sang pelacur. Malamnya, Siddhartha datang untuk meminta pengajaran pada Kamala.

“Dan kalau kau tidak keberatan, Kamala, aku ingin memintamu menjadi teman dan guruku, karena aku belum tahu apa pun tentang seni yang sudah kaukuasai pada tingkat tertinggi.” (Halaman 64-65)

Tak mudah menaklukkan hati seorang pelacur kelas kakap macam Kamala. Ia mau memberikan pengajaran itu asalkan Siddhartha bersedia memperindah busananya dan mempertebal dompetnya. Tentunya, untuk memperindah pakaian dan mengisi dompet ada sesuatu yang harus dilakukan, artinya Siddhartha mau tidak mau harus bekerja. Siddhartha memiliki keahlian melantunkan syair-syair indah, membaca, dan menulis. Kamala memerintahkannya untuk bekerja pada seorang pedagang bernama Kamaswami. Si pedagang mengamanahi tugas menuliskan surat-surat penting dan kontrak-kontrak kepada Siddhartha. Dari pekerjaan ini, Siddhartha mampu memenuhi apa yang menjadi keinginan Kamala: pakaian indah dan dompetnya tebal. Rupanya pencapaian ini tak membuat hatinya damai. Siddhartha memutuskan kembali mengembara dan meninggalkan kehidupan mewahnya.

Dalam perjalanannya, Siddhartha bertemu dengan teman lamanya, Govinda. Govinda mendapati sahabatnya tengah tertidur pulas di bawah sebuah pohon. Govinda menunggu dengan sabar Siddhartha yang sedang tertidur, hanya untuk menyapa. Ketika Siddhartha membuka mata, perasaan suka cita mengisi dadanya. Ia berjumpa kembali dengan sahabat yang dirindukannya. Sayangnya, karena terlalu lama tak bertemu, Govinda tak mengenali Siddhartha. Siddhartha meyakinkan sahabatnya bahwa orang yang ia temui adalah teman masa mudanya. Pertemuan yang singkat itu memaksa mereka untuk menahan rindu yang lebih lama lagi. Govinda harus kembali pada rombongan Samana-nya sedangkan Siddhartha kembali dengan tujuan hidupnya; mencari kebijaksanaan.

Siddhartha melanjutkan pengembaraannya. Ia kembali menumpang sebuah perahu. Ya, perahu yang sama yang pernah ia naiki beberapa waktu silam, dengan pengemudi yang sama, Vasudeva. Bersama Vasudeva, Siddhartha merajut hidup yang baru, melupakan semua hal yang berbau duniawi. Bersama Vasudeva, banyak kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya.

***

Novel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman pada 1922. Sebuah karya kalsik dunia yang mengambil latar tempat di India. Beberapa teman sempat kaget karena saya dikira mencomot buku agama Buddha. Saya bilang ini cuma novel klasik tentang tokoh agama Buddha yang wajib dibaca. Hmmmm… Siddhartha dan Gautama itu beda ya… Siddhartha itu lebih tepatnya murid Gautama atau Gotama. Buku ini tipis, berdasarkan informasi di atas tak sampai 200 halaman. Cocok dibaca sambil ngabuburit menunggu waktu berbuka tiba.

Saya tak bisa berkomentar banyak. Novel-novel klasik seperti ini sudah didesain indah sejak dulu oleh para penciptanya. Novel ini seolah mengatakan ‘dilarang mengkritik’. Memang, kita tak perlu lagi berkomentar tentang plot yang berantakan atau cerita yang tak masuk akal. Tak perlulah kita mengajari penulisnya soal tetek bengek cara menulis cerita agar disukai pembaca. Berbeda dengan novel masa kini yang bisa kita kritik habis-habisan. Sejatinya, novel klasik dicetak kembali untuk dinikmati oleh generasi setelahnya. Sebagai penikmat novel klasik, sejauh ini pandangan saya masih soal selera; suka dan tidak suka. Itu saja!

Hermann_Hesse_-_Siddhartha_(book_cover)
Novel Siddhartha versi asli

Bad Romance : Cerita Remaja Beraroma Lokal

Bad Romance

“Memang kalau punya pacar, apa manfaatnya menurut kamu?”  (Halaman 67)

***

Adithya Putra Ramdhani adalah remaja SMA yang tomboi. Ya, dia perempuan, bahkan cukup manis sebenarnya. Dia sangat membenci namanya. Dia yakin namanya ini sangat berpengaruh pada perilaku, kehidupan, dan juga problematika cintanya.

Adithya sangat ingin memiliki pacar karena ia sudah bosan dengan kehidupannya yang selalu disamakan dengan laki-laki. Dia ingin membuktikan kepada teman-temannya, juga kakak-kakaknya, kalau dia adalah perempuan tulen yang pantas mendapatkan pasangan.

Hopla! Dia melakukan berbagai cara jitu untuk tebar pesona. Betapa bahagianya ketika usaha-usahanya mulai menampakkan hasil, dia bahkan menjadi rebutan dua orang cowok sekaligus! Namun, sayang sekali ternyata dia harus mengakhiri semuanya karena…

Karena apaaaa???

Judul : Bad Romance : Aku Memilih Menjadi Jomblo (Lagi)
Penulis : E. Zazi
Editor : Herlina P. Dewi
Proofreader : Tikah Kumala
Cetakan : I, Juli 2013
Tebal : 254 Halaman
Penerbit : Stiletto
ISBN : 978-602-7572-16-4

***

Adithya Putra Ramdhani, kalau dilihat dari namanya sudah tentu itu nama cowok. Tapi rupanya nama itu milik seorang cewek. What? Iya, betul. Kalian tak salah baca. Adithya Putra Ramdhani diharapkan terlahir laki-laki. Orangtuanya sudah kadung memberikan nama itu karena hasil USG menunjukkan bayi mereka berjenis kelamin laki-laki.

Nama itu merepresentasikan keseharian Adith. Ia tumbuh sebagai gadis tomboi. Kelakuannya tak mencerminkan anak perempuan pada umumnya. Ia tak akrab dengan seperangkat alat make-up yang umumnya digandrungi oleh remaja seusianya. Untuk urusan asmara pun, Adith kalah telak. Boro-boro punya pacar, dekat dengan lawan jenis pun belum pernah. Beruntung Adith punya sahabat, Jepi namanya. Ibarat tong sampah, Jepi adalah orang yang mau menampung semua uneg-uneg yang dimuntahkan Adith.

Di sekolah, Adith tergolong siswi biasa-biasa saja. Prestasi akademiknya tidak begitu cemerlang. Menyoal prestasi sekolah, Adith tak terlalu mengejar target. Satu yang selalu membebani pikirannya: ia ingin punya pacar. Adith menyadari dirinya berbeda dengan teman perempuan di sekolahnya. Namun, cewek tomboi juga berhak jatuh cinta dan punya pasangan, bukan?

Berbicara soal remaja, memang tak lengkap bila tidak menyinggung soal asmara. Remaja dan asmara adalah satu paket yang diciptakan oleh fitrah yang dinamakan pubertas. Perasaan cinta dengan lawan jenis sulit untuk dihalau. Yang pernah remaja dulu pastinya bisa merasakan debaran cinta bilamana bertemu dengan seseorang yang namanya terpatri di hati. Adith, di masa remajanya ingin sekali mengecap manisnya asmara. Tapi Adith lupa, keinginannya ini hanyalah ego yang menguasai hatinya. Ia tak pernah memikirkan dampak yang terjadi akibat keinginan yang terlalu dipaksakan.

Adith berusaha keras agar perhatian para cowok tertuju padanya. Lewat bantuan Jepi, Adith mempraktikkan jurus-jurus (yang menurut Jepi) jitu. Tindakan Adith ini malah dianggap teman dan keluarganya aneh. Teman lain turut membantunya, kali ini teman sekelasnya, Lidya. Lidya terkenal punya banyak pacar. Adith iri, ia ingin seperti Lidya yang selalu menjadi rebutan para cowok. Lewat bantuan Lidya, Adith dekat dengan dua orang cowok. Adith girang bukan kepalang. Tapi karena belum pernah pacaran, Adith tak pernah berpikir bagaimana rasanya sakit hati. Ia abai pada kenyataan bahwa tak selamanya cinta seindah taman surga. Tapi setidaknya, Adith bahagia karena keinginan untuk mendapatkan pacar akhirnya terbayar. Jerih payahnya berbuah hasil.

Membaca novel ini membawa saya ke masa silam. Kemudian ia menghantarkan saya ke masa kini, melihat realita kehidupan remaja yang menghampar di depan mata. Novel ini memberikan petuah, memberikan pesan bagi sesiapa saja yang dengan sengaja atau tidak sengaja mencomot novel ini di deretan rak toko buku kemudian membacanya hingga khatam. Pesannya mengena, terlebih jika pesan itu ditujukan kepada para remaja.

Dari segi cerita, ini adalah cerita remaja yang biasa: remaja, sekolah, teman, dan cinta. Namun bolehlah saya sedikit memuji penulisnya. Sepanjang saya membaca teenlit, selalu saja berlatar tempat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali atau bahkan luar negeri. Di novel ini, kita akan menemukan Majalengka, kota kecil di Provinsi Jawa Barat sebagai latar tempatnya. Suatu hal yang cukup berani menghadirkan setting tempat yang berbeda. Yang saya suka lagi adalah kehidupan para tokohnya yang sederhana. Bisa dikatakan, penulis ingin menghadirkan cerita remaja ala kampung tetapi tidak kampungan. Dialog khas ala remaja masa kini ditambah dengan selipan bahasa lokal juga berhasil menghidupkan cerita. Terakhir, izinkan saya memberikan rating 3/5 untuk novel bercita rasa lokal ini.

[REVIEW NOVEL] The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared

IMG-20140715-00631

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared adalah karya fenomenal besutan penulis Swedia, Jonas Jonasson. Novel ini pertama kali rilis di Swedia pada tahun 2013 dan sudah difilmkan. Label persuasif yang tertera pada sampul depan Telah terbit di 40 negara mendorong saya untuk mencomot novel ini dari rak toko buku.

Judul : The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Pengarang : Jonas Jonasson
Penerjemah : Marcalais Fransisca
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : 508
ISBN :978-602-291-018-3

Allan Karlsson, pria tua berusia seratus tahun. Maniak vodka. Pada hari Senin, 2 Mei 2005 tepat di hari ulang tahunnya, melompat dari jendela kamarnya untuk menghindari perayaan pesta ulang tahunnya yang keseratus, kurang dari satu jam sebelum pestanya dimulai. Perjalanan itu tak terencana. Namun kaki tuanya mampu menuntunnya ke Terminal Bus Malmköping. Meski sudah berada di terimal, tetap saja destinasi minggatnya masih belum jelas. Lalu dilihatnya jadwal keberangkatan bus. Matanya tertuju pada jadwal bus nomor 202 tujuan Strängnäs yang akan berangkat tiga menit lagi.

Di Terminal Bus Malmköping, Allan bertemu seorang pemuda berambut pirang panjang berminyak, membawa sebuah koper besar, dan berjaket denim yang bertuliskan Never Again di bagian punggungnya. Karena kebelet, pemuda tersebut menitipkan koper besar miliknya pada Allan. Bukannya menunggu pemuda itu menyelesaikan ‘hajatnya’, Allan justru membawa koper itu bersama rencana kaburnya ke Strängnäs. Pikir Allan, koper itu berisi pakaian yang nantinya bisa ia pakai di hari-hari pelariannya.

Siapa sangka, koper besar yang telah berpindah tangan itu membawa petaka untuk Allan. Karena koper itu, Allan dikerjar-kejar kelompok gangster Never Again. Kelompok kriminal tersebut terus menguntit keberadaan Allan. Sedangkan Allan sendiri tak mengetahui dirinya berada dalam bahaya. Tersebab koper ini juga, Allan menjadi buronan polisi. Awalnya pihak Rumah Lansia hanya membuat laporan atas hilangnya Allan dari tempat itu. Namun, kasus berkembang menjadi tindakan kriminal yang melibatkan Allan. Mengapa kelompok gangster dan polisi begitu bernafsu mencari Allan? Apa gerangan isi dalam koper tersebut?

Allan, tokoh sentral dalam novel ini memang unik. Allan memiliki selera humor yang baik. Hanya Allan yang mampu mengalihkan interogasi menjadi lawakan. Untuk plot, novel ini menggunakan alur maju-mundur. Alur maju menceritakan petualangan Allan pasca melarikan diri dari Rumah Lansia sedangkan alur mundur mengisahkan kehidupan Allan semasa kecil hingga berusia lanjut. Allan muda tumbuh di era abad kedua puluh. Semasa hidupnya, Allan memiliki relasi yang baik dengan para petinggi dunia. Pekerjaan Allan adalah sebagai peledak dinamit, para petinggi dunia memanfaatkan jasa Allan untuk perang.

Novel ini diterjemahkan dengan baik. Alur ceritanya mengalir dan saya bisa masuk ke dalam cerita meski ada beberapa bagian yang membuat dahi saya mengernyit. Namun, saya merasa di bagian alur mundur diceritakan pada porsi terlalu panjang, harusnya beberapa bagian dipotong supaya bisa lebih fokus di bagian pasca Allan melarikan diri dari Rumah Lansia. Saya percaya, ceritanya akan lebih menegangkan jika penulis memberikan porsi yang lebih di bagian petualangan Allan membawa kabur koper kelompok gangster.

Bagian akhir novel ini memberikan kejutan bagi pembaca Indonesia. Apakah itu? Yuk, cari tahu kisahnya dalam novel yang telah diterbitkan di 40 negara ini!

banner-the-100-yoman-resize

After Rain : Suatu Saat Aku Berhenti Menangisimu

After Rain

“Kalau ada yang bilang bye, lebih baik kamu jawab see you. Kecuali kamu benar-benar nggak mau ketemu dia lagi.” (Halaman 178)

Kisah cinta terlarang Seren dan Bara. Seren dan Bara saling mencintai meskipun Bara sudah memiliki istri dan mempunyai seorang anak. Mengapa Seren bertahan?

Tiga tahun lalu, Bara sudah membuat pilihan untuk menikahi Anggi, sekaligus memilih untuk tetap mencintaiku. Aku pun memilih tetap menunggu Bara. Memilih untuk tetap mencintainya.

Merupakan hal tabu bila seorang sudah berumah tangga memiliki hubungan lain di luar pernikahannya. Pernikahan adalah momen sakral yang tak seharusnya dinodai dengan adanya cinta lain selain cinta kepada istri/suami. Pernikahan itu janji setia sampai mati, bersumpah di hadapan Tuhan dan para saksi. Fenomena ini memang tak hanya dikisahkan dramatis dalam sinetron atau novel. Dalam kehidupan nyata, kasus serupa seringkali mewarnai advertorial media cetak maupun elektronik. Jika ini terjadi lantas salah siapa? Well, ada yang mengganggap ini takdir sebagaimana Tuhan telah mengaturnya semua.

Seren dan Bara sudah sepuluh tahun berpacaran. Bahkan untuk tetap berdekatan, Seren bekerja di tempat yang sama dengan Bara. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Hubungan mereka hancur lantaran perjodohan yang dilakukan oleh orangtua Bara. Bara dijodohkan dengan Anggi, anak relasi bisnis orangtua Bara. Sekuat apapun Bara menolak, tidak bisa mengubah keputusan kedua orangtuanya. Bahkan Bara dan Anggi sudah dijodohkan sejak mereka masih di dalam kandungan. Bara terpaksa menerima perjodohan itu dan kemudian menikahi Anggi atas permintaan orangtuanya.

Hujan

Meskipun Bara telah menikah, namun Seren dan Bara tetap menjalin asmara diam-diam. Bara mencintai Seren namun tak sedikitpun mencintai Anggi. Namun, pada hari jadi mereka yang kesepuluh, hubungan itu benar-benar kandas. Bara meninggalkan Seren dan memilih untuk mempertahankan perkawinannya dengan Anggi.

Jika saya jadi Seren mungkin saya akan menangis histeris. Mungkin juga akan menjadi sedikit gila. Tapi bukankah kita tak bisa memaksakan seseorang untuk tetap tinggal bersama kita sementara dia sendiri memiliki ikatan perkawinan yang sah dengan wanita lain? Tentunya kita tak akan mau jadi kambing hitam atas kehancuran rumah tangga orang yang dulunya pernah mencintai kita juga.

Seren sadar akan takdirnya. Meskipun masih ada cinta untuk Bara, ia sadar tak akan kembali pada Bara. Seren bertekad segera move on dari keterpurukan, melupakan Bara walau sangat sulit baginya. Seren memutuskan resign dari tempat ia dan Bara bekerja dan memulai pekerjaan baru sebagai guru bahasa Inggris di salah satu sekolah swasta. Di sekolah itu Seren bertemu Elang, guru musik berkepribadian dingin yang diam-diam memperhatikan Seren.

Perselingkuhan dan perjodohan tampaknya masih menjadi topik menarik untuk diangkat dalam kisah novel. Pun pada kenyataannya, kita tak bisa menutup mata bahwa kedua permasalahan itu kerap kali terjadi di lingkungan sosial masyarakat. Saya sendiri punya pengalaman, beberapa teman pernah dijodohkan dengan anak teman orangtua mereka. Banyak alasan yang melatarbelakangi perjodohan tersebut. Bisa karena untuk membalas budi, hubungan bisnis, atau keakraban/persahabatan antara kedua orangtua masing-masing. Kalau anak suka sama suka tak masalah. Tapi kalau anak sudah punya pilihan sendiri, saya rasa sebaiknya perjodohan tak usah dipaksakan. Kasus Bara dan Anggi dalam novel ini mengkhendaki perjodohan untuk kelangsungan bisnis orangtua mereka. Tak peduli anak tak saling cinta, selama bisnis lancar dan uang mengalir tak perlu memikirkan perasaan anak.

Novel ini mudah ditebak jalan ceritanya. Dari awal membacanya saya sudah menebak ceritanya akan berakhir bahagia. Bermula dari patah hati, lalu move on dengan rasa cinta yang masih membekas, kemudian bertemu dengan orang baru dan voila! Si tokoh utama berhasil move on dan membuka lembaran baru dengan tokoh lainnya. Saya masih menemukan beberapa typo, tak banyak. Semoga jika cetak ulang, tak ada lagi typo.

Keterangan buku

Judul : After Rain : Suatu Saat Aku Berhenti Menangisimu
Penulis : Anggun Prameswari
Penyunting : Ayuning
Proofreader : Jia Effendie
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 324 Halaman
Cetakan : I, 2013
ISBN (13) : 978-979-780-659-0
ISBN (10) : 979-780-659-6

1984 : Melawan Kediktatoran

1984 George Orwell

Judul : 1984
Judul Asli : Nineteen Eighty-Four
Pengarang : George Orwell
Penerjemah : Landung Simatupang
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 390 Halaman
Cetakan : Pertama Edisi II, Februari 2014
ISBN : 978-602-291-003-9

Salah satu buku yang mendapat predikat 1001 Books You Must Read Before You Die. Novel ini berhasil meraup kesuksesan di zamannya, pun hingga kini. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1949. Meski sudah lawas, novel ini masih diburu oleh para penikmat buku di seluruh dunia. Penerbit pun masih ingin terus mencetak ulang karya George Orwell yang fenomenal ini.

Membaca novel ini jelang pilpres 2014. Novel ini berkisah tentang kediktaroran seorang penguasa pada suatu negara, Oceania namanya. Tema yang sangat pas untuk kondisi Indonesia saat ini yang tengah mempersiapkan pemimpin baru.

Kita tentu akan risih bila apa yang kita lakukan serba diawasi. di negara Oceania, setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan. Semua pengawasan ini dilakukan oleh alat yang dinamakan teleskrin. Kalau istilah zaman sekarang namanya CCTV (Close Circuit Television) atau Televisi Sirkuit Tertutup. Segala gerak-gerik/percakapan direkam dalam alat itu. Semua warga mutlak tunduk pada Big Brother, tidak boleh tidak, wajib hukumnya. Bila tidak, bersiap dengan segala bentuk siksaan. Semua warga juga harus setia pada partai. Tiga slogan partai :

PERANG IALAH DAMAI
KEBEBASAN IALAH PERBUDAKAN
KEBODOHAN IALAH KEKUATAN

Winston, tokoh utama dalam cerita ini, memiliki pemikiran yang tidak satu frekuensi dengan partainya. Kediktatoran pemimpin partai tersebut mengusik privasinya. Winston berusaha memberontak. Perkenalannya dengan Julia, gadis muda di Departemen Fiksi adalah pemicu semangatnya untuk melancarkan pemberontakannya. Winston dan Julia kerap kali bertemu dan merencanakan pertemuan lain di tempat tersembunyi. Winston dan Julia bertemu secara sembunyi-sembunyi agar bisa jauh dari pengawasan teleskrin dan Polisi Pikiran. Setidaknya, bersama Julia, Winston sedikit bisa mengelak dari dominasi kekuasaan Big Brother. Apakah Winston berhasil lepas dari kungkungan Big Brother yang senantiasa mengintainya dan warga?

“Tidak akan ada kesetiaan, kecuali kesetiaan kepada Partai. Tidak akan ada cinta, kecuali cinta kepada Bung Besar. Tidak akan ada ketawa, kecuali ketawa kemenangan atas lawan yang dikalahkan. Tidak akan ada seni, tidak ada kesusastraan, tidak ada sains. Ketika kami serbakuasa, kita tidak akan membutuhkan ilmu pengetahuan lagi.”
(Halaman 330)

“Tidak, Winston, kamu yang menjerumuskan diri sendiri menjadi seperti ini. inilah yang kamu dapat waktu kamu bertekad melawan Partai.”
(Halaman 337)

Membaca novel sulit sekali untuk tidak menepiskan bahwa saya sebetulnya sedang menonton reality show ‘Big Brother’ di sebuah stasiun televisi swasta beberapa tahun silam. Saya membayangkan kira-kira seperti itulah negara Oceania yang selalu diawasi selama 24 jam penuh. Untuk skala negara mungkin kita belum (semoga tidak) mengalaminya. Para kontestan ‘Big Brother’ sudah lebih dulu merasakan apa yang sudah ‘diramalkan’ Orwell pada tahun 1984. Kemudian saya berpikir, apa mungkin acara ‘Big Brother’ yang mendunia itu terinspirasi dari novel 1984 mengingat penggunaan nama bos dan mekanisme acaranya sama seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut?

Sebagaimana yang kita tahu, kediktatoran yang digambarkan dalam novel 1984 pernah terjadi di beberapa belahan negara di dunia, meskipun tidak sama persis dengan kejadian yang ada di novel. Kita tentu masih ingat dengan kediktaroran Adolf Hitler dengan Partai Nazi-nya di Jerman atau Benito Mussolini dengan paham fasisme di Italia. Bagaimana dengan Indonesia? Jangan pernah lupa bahwa kita pernah mengalami situasi ini selama lebih dari tiga dasawarsa. Rezim Soeharto yang berkuasa saat itu menyetir satu Partai yang selalu menang dalam setiap pemilihan umum. Dua partai lain, PPP dan PDI hanya menjadi simbolis belaka karena warga dipaksa memilih partai berlambang pohon beringin itu, sementara PPP dan PDI dipastikan kalah telak. Saya turut merasakan tidak enaknya rezim ini, walaupun saat itu saya masih kecil. Pada era itu tidak ada kebebasan berpendapat. Barang siapa yang mengkritisi pemerintah, pelakunya segera ditindak, penjara menunggu untuk dihuni. Kritik pada pemerintah datang dari banyak kalangan. Pun seniman turut ambil bagian mengkritik pemerintah lewat lagu-lagu. Sebut saja contohnya Iwan Fals dan Rhoma Irama. Salah satu lagu Iwan Fals yang menuai kontroversi pemerintah berjudul Bento – yang diinterpretasikan sebagai sindiran kepada salah satu keluarga Cendana.

Saya akui George Orwell adalah penulis brilian. Otaknya begitu canggih bisa kepikiran membuat cerita seperti ini. ‘Ramalan’ masa depannya soal teleskrin dan bahasa Newspeak di luar imajinasi, pikirannya maju jauh beberapa dekade dengan zaman lahirnya novel ini. Orwell ‘meramalkan’ kurang lebih seperti inilah kondisi perpolitikan dunia di masa yang akan datang. Sebuah negara atau bahkan dunia mungkin akan dikuasai oleh satu penguasa tunggal.

Novel ini bukan termasuk bacaan ringan. Saya terseok dengan jalan ceritanya yang agak rumit, namun saya yakin novel ini tetap akan menjadi salah satu buku yang wajib dibaca sepanjang hidup. Dan, novel ini diterjemahkan dengan sangat baik.

Bulan Terbelah di Langit Amerika : Mengenang Kembali Peristiwa Black Tuesday 9/11

IMG-20140612-00629

Meskipun sudah lama berlalu, peristiwa Black Tuesday masih terekam dalam ingatan kita. Amerika dan Islam, bak dua kutub yang tolak-menolak. Islam menjadi pesakitan, julukan teroris kemudian melekat bagi setiap penganutnya. Dunia seakan mengidap Islamophobia berjamaah. Penyakit itu menular dari satu negara ke negara lain. Dunia begitu sensitif dengan segala hal yang berbau Islam: lihat saja betapa ketatnya pemeriksaan di bagian imigrasi terhadap penumpang (yang dicurigai) beragama Islam (bisa dibaca di buku Berjalan di Atas Cahaya). Sementara itu muslimah dengan ketabahan sekokoh baja menahan amarah ketika diteriaki teroris lantaran mengenakan pakaian takwa. Belum lagi umat Islam harus mengurut dada atas penghinaan yang ditujukan kepada junjungan mereka Nabi Muhammad SAW. Di lain cerita ada kelompok mengaji yang aktivitas pengajiannya dicurigai sebagai bentuk perencanaan peledakan bom di sejumlah tempat. Islam divonis sebagai pihak yang bertanggung jawab atas segala bentuk terorisme yang terjadi di muka bumi. Muncul pertanyaan, Would the world be better without Islam? Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?

Judul : Bulan Terbelah di Langit Amerika

Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 344 Halaman

Tahun Terbit : 2014

ISBN : 978-602-03-0545-5

Cerita berawal ketika Hanum ditugaskan ke Amerika oleh bosnya. Gertrud Robinson adalah atasan Hanum pada surat kabar Austria bernama Heute ist Wunderbar, Today Is Wonderful, Hari Ini Luar Biasa. Gertrud menitahkan Hanum untuk menuliskan sebuah artikel luar biasa agar bisa mendongkrak oplah surat kabar tersebut yang terancam gulung tikar. Hanum merasa tema artikel yang diajukan Gertrud menyudutkan umat Islam. Alih-alih menolong, Hanum justru mengajukan nama rekannya yang lain untuk menuliskan artikel kontroversial tersebut. Namun Gerturd bersikukuh, Hanum adalah reporter yang tepat karena ia seorang muslim. Gertrud ingin seorang muslim yang menulisnya dengan objektif. Would the world be better without Islam? adalah artikel yang akan dituliskan Hanum.

“Terima kasih, Hanum. Aku bersyukur. Kau tahu, jika Jacob yang menulisnya, pernyataan itu jelas akan terjawab ‘ya’. Denganmu seorang muslim, aku masih berharap kau menjawab pertanyaan itu dengan ‘tidak’. Kau paham kan sekarang?”  (Halaman 51)

“Mereka ingin kita menulis artikel tentang semacam-ehm-kisah di balik tragedi 9/11. Karena kau muslim dan pelaku 9/11 itu terbukti muslim juga, koran ingin tahu persepsi orang muslim sekaligus nonmuslim tentang kejadian yang memilukan itu.”  (Halaman 51)

Orang menyebutnya serendipity- kebetulan yang menyenangkan. Ah, entahlah… ini sebuah kebetulan atau memang sudah diskenariokan oleh Tuhan. Hanum dan Rangga seolah diberi ‘tugas’ untuk sama-sama menjelajah dan menyibak kekuasaan Tuhan di bumi Amerika. Hanum bertugas mewawancarai korban 9/11 sedangkan Rangga ditugaskan oleh Reinhard untuk mempresentasikan papernya sekaligus menghadiri konferensi di Washington DC yang dihadiri oleh Phillipus Brown, seorang pebisnis yang tersohor berkat mendermakan hartanya pada anak-anak korban perang di Irak dan Afghanistan. Namun takdir berkata lain, Hanum dan Rangga terpisah di saat Hanum tengah mewawancarai seorang demonstran di lokasi Ground Zero. Ketika itu sedang berlangsung demonstrasi menentang pembangunan masjid di lokasi bekas peristiwa nahas Selasa pagi. Demonstrasi yang berlangsung damai seketika menjadi panas atas kehadiran kelompok provokator. Di tengah kecemasannya, seorang muslimah bernama Julia atau Azima mengajaknya menginap di rumahnya. Mereka berbincang, mencari tahu asal-usul masing-masing. Dari perbincangan itu diketahui bahwa Azima adalah salah satu korban 9/11. Suami Azima, Ibrahim tewas dalam peristiwa nahas pagi itu. Malam itu Hanum tak hanya mendengarkan cerita pilu Azima. Siapa sangka, dari informasi yang didapatnya dari Azima terbongkarlah sejarah Islam yang menghenyakkan bagi siapa saja yang membacanya.

“Siapa yang menyangka, Christophorus Columbus sebenarnya bukan penemu benua ini (Amerika), Hanum.”  (Halaman 131)

“Pada 1492, Columbus sempat mengira dia terdamar di India, ketika menemukan tanah tak bertuan ini. Dia kecele karena dunia baru yang baru saja dia temukan ternyata sudah berpenghuni. Orang-orang bertubuh tegap berbalut jubah, berhidung mancung, dan berkulit merah.” (Halaman 131-132)

“Dari mana datangnya orang-orang berhidung mancung dan berjubah itu?” tanyaku. (Halaman 132) “Sampai saat ini masih terdapat perdebatan dari mana datangnya orang penduduk asli Amerika, kaum Indian itu. Namun ada yang menarik, sebuah prasasti yang ditulis di China pada akhir abad ke-12 mengatakan bahwa musafir-musafir muslim dari tanah China, Eropa, dan Afrika telah berlayar jauh sampai ke benua ini. Tiga ratus tahun sebelum Columbus.” (Halaman 132)

“Jefferson (Thomas Jefferson, presiden Amerika Serikat ke-3) juga mahir berbahasa Arab,” (Halaman 145)

“Kau tahu dia punya Al-Quran?”  (Halaman 145)

“Ya, Jefferson mempunyai Al-Quran. Seperti punyamu.”  (Halaman 145)

Apa?! Ini adalah penggambaran vulgar Nabi Muhammad di atas gedung pengadilan Mahkamah Agung Amerika Serikat!”  (Halaman 206)

Aku melihat foto kliping Universitas Harvard yang begitu megah akan ketenarannya menghasilkan intelektual-intelektual bertaraf dunia. Foto itu diambil dari salah satu pintu gerbang fakultasnya. Fakultas Hukum. Tapi, mengapa foto itu memuat salah satu dinding berukiran inskripsi Al-Quran? (Halaman 207)

“Ini adalah pahatan nukilan Al-Quran tentang kehebatan ajaran keadilan sebagai supremasi hukum manusia. Surat An-Nisaa’ ayat 135.”  (Halaman 207)

Di lain tempat, Rangga masih menyimpan kegelisahannya akan Hanum. Istri yang ia cintai tak juga memberikan kabar. Di tempat konverensi, Rangga berhasil bertemu dan berbicara empat mata dengan pebisnis dermawan itu, Phillipus Brown. Dari perbincangan inilah semua kesaksian dan teka-teki yang selama delapan tahun ini tersimpan, semuanya akan tersingkap dan akan menjalin cerita yang tak akan disangka-sangka. Dan apakah pertanyaan Would the world be better without Islam? akan menemukan jawabannya?

Sungguh penulis sangat pandai merajut cerita ini. Bisa dikatakan ini novel Islami. Namun novel ini tidak selevel dengan novel Islami kebanyakan yang mengedepankan kesalehan tokoh utamanya. Juga bukan tipe novel yang semua tokohnya alim pemburu surga. Justru di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur bagaimana mencintai dien ini secara kaffah. Novel ini dibangun dengan konsep serendipity-serba kebetulan yang mengindahkan ceritanya. Berbeda dengan ‘kakak-kakak’nya terdahulu (99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya) yang didasarkan pada cerita nyata, sementara Bulan Terbelah di Langit Amerika merupakan perpaduan antara berbagai dimensi genre buku (drama, fakta sejarah dan ilmiah, traveling, spiritual, serta fiksi). Kesan ini kemudian saya rasakan tatkala halaman buku yang saya baca semakin menebal. Sepertinya penulis memang sengaja mendandani cerita yang serba kebetulan ini menjadi sebuah cerita yang ciamik dan mengejutkan pembacanya.

Dalam novel ini saya menandai beberapa narasi yang mungkin bisa menjadi renungan kita bersama.

Bahwa meskipun sudah blakblakan membuka rahasia kesuksesan, mereka sadar bahwa tak akan ada orang yang bisa menjiplak perjalanan hidup. Seperti halnya dua buah pohon yang sejenis, dipupuk, disiram, dan diperlakukan sama persis, toh tetap menyisakan pertanyaan: Mengapa yang satu berbuah sementara yang satu tidak? Yang satu tumbuh subur bahkan menggerus yang satu lagi hingga kering kerontang. Kesuksesan, sekali lagi, adalah soal relativitas pemandangnya. (Halaman 22)

“Mr. Mahendra, aku punya alasan tersendiri mengapa aku menjadi filantropi. Aku berutang budi pada seseorang yang telah menyelamatkan jiwaku. Mengajariku ikhlas dan berbuat baik tanpa pamrih.”  (Halaman 199)

“Betapa kekayaan justru membuat kita makin kikir dan tak pernah bisa hidup tenang. Dulu saya mengira seseorang bisa gila jika di dompetnya tak ada uang sepeser pun. Tapi ternyata terlalu banyak uang pun bisa membuat kita gila.”  (Halaman 213)

Mellow Yellow Drama : Tentang Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan

IMG-20140606-00628

“Saat Tuhan memberikan tugas yang besar kepada seseorang, tekadnya akan diuji terlebih dahulu dengan kesulitan, otot dan tulangnya diuji dengan kelelahan, tubuhnya dengan kelaparan serta kekosongan.” (Halaman 123-124)

Jatuh cinta pada lawan jenis kemudian patah hati adalah hal yang biasa. Tapi bagaimana bila kau jatuh cinta pada negaramu namun ia tak membalas cintamu? Bagaimana perasaanmu, apakah kau akan beremigrasi ke negara lain dan menjadi warga negara tersebut? Akankah kau tetap mencintai tanah airmu walaupun kau tahu betapa sakit hatinya kau karena cintamu bertepuk sebelah tangan? Apa kau yakin cintamu tak akan pudar sedikit atas penolakan ini? Apakah kau…..? Ah, sudahlah! Ada baiknya kita simak cerita Audrey yang jelas-jelas patah hati karena saking cintanya kepada Indonesia.

Maria Audrey Lukito yang kemudian berganti nama menjadi Audrey Yu Jia Hui adalah salah satu pemudi yang memiliki kecintaan membuncah kepada tanah air, Indonesia. Dari namanya saja kita sudah bisa memastikan bahwa Audrey adalah keturunan etnis Tionghoa dan bukan masyarakat (asli) pribumi. Audrey adalah salah satu anak paling membanggakan karena prestasinya yang gilang-gemilang. Bayangkan saja, di usianya 16 tahun dia sudah lulus kuliah dengan predikat summa cum laude. Audrey memang terlahir jenius. Kejeniusannya ini mengantarkannya ke College of William and Marry, Virginia, USA di usia belia yaitu 13 tahun.

Menjadi jenius seharusnya bisa membuat seseorang terbang sampai langit ke tujuh. Namun Audrey tak pernah merasa demikian. Audrey dianggap aneh oleh papa dan mamanya. Papa Audrey seorang pebisnis sukses dengan kekayaan melimpah. Papa dan mama Audrey menginginkan agar ia mengikuti jejak papanya menjadi pebisnis atau bekerja di perusahaan beken dengan gaji setinggi angkasa. Harapan orangtua Audrey sangat beralasan mengingat Audrey lulusan luar negeri dan jenius pula. Namun keinginan orangtua Audrey sangat berseberangan dengan hati nuraninya. Audrey ingin berkontribusi untuk bangsa ini. Tentangan dari orangtua menciutkan nyalinya.

Aku gembira bukan kepalang. Inilah saatnya mempraktikkan ilmuku dan membantu masyarakat di Tanah Air-ku yang dirundung masalah kemiskinan dan ketidakadilan. Orangtuaku merasa kegiatanku di LSM tidak ada gunanya. Bukan hanya tidak berguna, melainkan juga berbahaya (halaman 87).

Sesungguhnya, harapan Papa dan Mama bertolak belakang dengan cita-citaku. Semakin aku meyakinkan obsesiku, semakin mereka marah besar. Mereka menyesal sudah “membuang uang” menyekolahkanku di Amerika. Hasilnya tetap dapat anak yang kerjanya “bikin pusing”, “bodoh”, dan “susah diatur” (halaman 88).

Atau lihat reaksi orangtua Audrey mengenai keinginannya untuk menulis buku.

“Kalau kamu nulis buku mau jadi apa? Kamu semula punya masa depan cerah. Mengapa sekarang pemikiranmu aneh? Apa kamu mau menyia-nyiakan masa depanmu sendiri?” (halaman 95)

Audrey mencintai Indonesia juga sangat menjunjung tinggi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Sayangnya kecintaan terhadap negara ini dianggap tidak pantas karena ia orang Tionghoa.

Pernah suatu kali, seorang teman sekolah bilang kepadaku, “Walaupun kamu pintar, kamu tetap bukan orang Indonesia asli. Negara ini milik orang-orang seperti aku.” (halaman 61)

Di Indonesia, cita-citanya dianggap tidak masuk akal. Orang terdekatnya malah menjatuhkan apa yang menjadi impiannya. Sementara itu perlakuan yang ia dapatkan dari teman-teman kampus dan profesornya justru semakin memantik semangat patriotiknya untuk Indonesia.

Setiap kuberi tahu seseorang tentang impianku bagi negaraku, aku tidak pernah diejek atau dihina sebagai keturunan Tionghoa. Di Amerika, aku melihat diriku bukan sebagai gadis kecil, melainkan sebagai seorang patriot, seorang tentara, dan duta besar bagi Indonesia (halaman 74).

Cinta yang tak berbalas ini menjerat pikiran dan kesehatan Audrey. Orangtuanya pergi ke banyak konselor, ahli terapi, psikolog, dan psikiater. Audrey menjalani hidup tanpa makna. Obat dan antidepresan dijajal demi kesembuhan. Di tengah kegalauan hatinya, Audrey menemukan seorang sahabat yang pada akhirnya mengubah paradigma dan sudut pandangnya.

Apa yang menjadi impian dan cita-cita Audrey mungkin bisa jadi adalah impian dan cita-cita kita juga di masa mendatang untuk Tanah Air kita. Lantas apa impian Audrey untuk bangsa ini?

Aku bermimpi bahwa suatu hari banyak orang di Indonesia-ku yang tecinta akan menjalankan prinsip-prinsip Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Aku bermimpi bahwa suatu hari para pemimpin negara kita akan meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Aku bermimpi pada suatu hari perempuan Indonesia akan menatap cermin dan berhenti mengharapkan kulit mereka lebih putih, hidung mereka lebih mancung, atau mata mereka lebih besar. Aku bermimpi bahwa suatu hari mereka akan bangga dengan apa yang Tuhan anugerahkan dan bukannya terus berharap untuk meniru orang Barat dengan cara apapun.

Aku bermimpi bahwa keturunan Tionghoa di negaraku akan memperbaiki permadani kami yang tercabik. Aku bermimpi suatu hari setiap orang Indonesia keturunan Tionghoa akan bangga memiliki nama Mandarin, bisa berbicara bahasa Mandarin dengan fasih, tetapi tetap setia secara politik pada prinsip-prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Aku bermimpi bahwa kita akan dihargai dan dihormati di seluruh Nusantara karena memiliki nama Mandarin, sebaik kita mempraktikkan bahasa dan budaya Tionghoa kita, bukannya dianggap tidak patriot, aneh, atau kuno.

Akub bermimpi bahwa suatu hari akan banyak perpustakaan umum yang berkualitas baik di Indonesia, yang memiliki koleksi buku-buku berkualitas baik dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, dan berbagai bahasa daerah.

Aku bermimpi bahwa suatu hari banyak perempuan Indonesia akan lebih suka membaca buku-buku sastra daripada membuka-buka majalah mode. Aku bermimpi bahwa suatu hari aka nada banyak took buku bahasa Mandarin dan Inggris yang berkualitas baik di Indonesia sehingga orang-orang sepertiku tidak perlu terus pergi ke luar negeri untuk membeli buku dan melakukan riset kami.

Aku bermimpi bahwa suatu hari orang Indonesia akan bangga atas budaya nenek moyangnya, tetapi tetap bersatu dalam kesetiaan pada bangsa dan gagasan luhur bangsa kita. Aku bermimpi bahwa sebagai ganti kita terus bertengkar satu sama lain atas hak-hak individu, kita akan sangat mencintai bangsa dan rekan-rekan sebangsa dan se-Tanah Air sehingga akan menjadi sebuah kehormatan untuk menghargai meraka yang berbeda perasaan atau berpendapat.

Aku bermimpi bahwa suatu hari mereka yang sungguh-sungguh mencintai Indonesia dan rakyat Indonesia tidak akan menjalani hidup yang demikian sulit, diejek tidak realistis oleh orang banyak, dan diserang dari banyak pihak. Aku bermimpi bahwa suatu hari aka nada tempat bagi orang sepertiku dan anak-anak Indonesia yang berbakat tak perlu menderita seperti aku.

Bisa dikatakan, buku ini adalah curahan hati Audrey atas rasa patah hatinya terhadap Indonesia. Sama halnya ketika kita patah hati, kita pasti memiliki kecenderungan untuk curhat pada diari atau menuliskan puisi guna menumpahkan kekacauan yang ada di dalam hati dan pikiran. Bagi saya ini wujud patah hati yang positif. Lewat buku yang ditulis Audrey ini, saya berharap bisa menambah kecintaan kita terhadap bangsa dan Tanah Air kita, tempat kita lahir dan mengambil segala sumber daya yang ada di bumi Indonesia. Gadis keturunan Tionghoa macam Audrey saja berani mengakui kecintaannya yang sangat mendalam pada bangsa ini, lalu bagaimana dengan kita penduduk pribumi yang sedari dulu kala mendiami nusantara ini? Apakah kita (MASIH) gengsi mengakui rasa cinta itu?

Keterangan buku

Judul : Mellow Yellow Drama
Penulis : Audrey Yu Jia Hui
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal Halaman : 242 Halaman
Cetakan ke- : 1, Mei 2014
ISBN : 978-602-291-032-9